Festival Bau Nyale di Mandalika

Festival Bau Nyale di Mandalika ilustrasi Regina Primalita - Kompasw
Festival Bau Nyale di Mandalika ilustrasi Regina Primalita/Kompas

Pagi-pagi sekali kami berangkat, karena nyale hanya muncul sebelum matahari terbit, dan akan menghilang ke dalam batu karang ketika fajar mulai menyingsing.

“Mini, sebenarnya kenapa sih orang-orang tertarik menangkap cacing? Kan, jijik!” tanyaku penasaran.

“Masyarakat di sini percaya kalau nyale bisa mendatangkan jodoh dan membuat awet muda. Nyale juga jadi kuliner khas Lombok, lho, Queen,” terang Mini sambil menarikku ke pantai yang sudah dipenuhi warga dan wisatawan yang mulai berburu nyale dengan jaring khusus dan alat penerang.

Meskipun takut dan geli, aku beranikan diri menangkap nyale.

“Untuk melakukan sesuatu hal yang baru, harus diawali dengan keberanian,” kata ayah.

Aku mendapat pengalaman luar biasa dengan melawan ketakutanku. Rasa takut jadi takjub melihat nyale yang beraneka warna. Ada  hijau, oranye, dan merah.

Betapa indah ciptaan Tuhan. Seperti indahnya Pantai Seger yang berpasir putih dengan gugusan bukit yang dihiasi monumen Putri Mandalika.

Suka cita hari itu semakin lengkap dengan hidangan Tante Nurul yang lezat. Pata’u Ni, ayam kampung yang dimasak dengan santan, lengkap dengan sambal Nyale Pa’dongo yang selintas seperti serundeng.

Semua nikmat ini membuatku semakin bersyukur. *

Arsip Cerpen di Indonesia