Oleh Muthia Razella (Kompas, 18 Agustus 2019)

Kado ulang tahunku kali ini sangat berkesan. Ayah dan ibu mengajakku merayakannya bersama keluarga Tante Nurul yang tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Rasanya tak sabar ingin bertemu Rumini, sepupuku yang cantik.
Kami disambut Tante Nurul dan Rumini dengan hangat.
“Dua hari lagi akan ada festival seru lho, Queen. Namanya Festival Pesona Bau Nyale,” kata Mini, panggilan akrab Rumini.
“Wah, asyik. Tapi namanya kok aneh. Bau Nyale? Festival apa itu?” tanggapku.
“Bau Nyale adalah tradisi Suku Sasak yang diwariskan turun temurun. Bau Nyale artinya menangkap cacing laut yang diadakan setiap tahun, tanggal 20 bulan 10 menurut kalender Suku Sasak. Tahun ini festivalnya bertepatan dengan hari ulang tahun Queena, lho, 24 Februari,” jelas Tante Nurul.
Aku pun tersenyum mendengar kata-kata Tanteku itu.
Menurut adik ibuku itu, cacing laut yang disebut nyale ini dipercaya masyarakat Lombok sebagai jelmaan Putri Mandalika. Putri mahkota Raja Tonjang Beru yang berparas cantik ini menjelma cacing setelah menceburkan diri ke laut, demi menghindari peperangan di antara pangeran yang ingin mempersuntingnya.
Festival Pesona Bau Nyale sendiri terpusat di Pantai Seger, tepatnya di sebelah timur Pantai Kute Mandalika, Lombok Tengah. Festival Bau Nyale dirangkaikan kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), dan pementasan drama kolosal Putri Mandalika.