
“Benar. Terpenting dengarkan abaaba dari komandan Fadil. Gelar juara tidak akan mustahil kita peroleh,” ucap Rifki optimis.
“Hah! Aku jadi ketuanya?” tanya Fadil terkejut.
“Tidak baik menolak amanah, Dil,” kata Rifki mengingatkan.
Fadil mengangguk pasrah. Dihelanya napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan debaran jantung yang tidak keruan. Sesekali ia merenggangkan ke sepuluh jemari kakinya yang mendadak terasa kaku. Setelah tenang, barulah ia menatap lurus ke arena lomba. Terbentang lima buah jalur yang dibuat dengan tali rafia sepanjang sepuluh meter.
Giska yang kaki kirinya keseleo ketika bermain sepak bola kemarin sore tidak bisa ikut bertanding. Ia hanya duduk manis di sisi kiri lapangan. Memberi semangat kepada Fadil, Rifki dan Ivan yang sedang berjuang di arena perlombaan.
“Semuanya sudah siap!” teriak wasit mengacungkan jari telunjuknya ke langit.
“Siap,” koor seluruh peserta.
“Ingat, jangan panik. Tetap ikuti abaaba dariku,” kata Fadil mengingatkan.
Ivan dan Rifki mengangguk mantap. Kaki mereka sudah berpijak pada sandal tangkelek yang terbuat dari kayu dan ban karet bekas. Butuh kekompakan dan kecepatan agar bisa memenangkan lomba pacu tangkelek.
“Sudah siap!” teriak wasit mengangkat bendera yang dipegang dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan tampak memegang peluit.
Prittt.
“Semangat!” teriak Fadil menyemangati anggota timnya.
Di sisi kiri dan kanan terdengar riuh sorak sorai dari penonton. Ada yang meneriaki salah satu tim dan ada pula yang hanya fokus menonton tanpa perlu berteriak memberi dukungan.
“Kiri. Kanan!” teriak Fadil memberi aba-aba.
Rifki dan Ivan menggerakkan kaki kiri dan kanannya secara bergantian sesuai aba-aba dari Fadil yang berada di depan, memimpin.
“Fadil! Fadil! Fadil!” pekik Giska dari pinggir lapangan.
Mendengar teriakan Giska semakin membakar semangat Fadil dan teman-temannya. Mereka terus menggerakkan kaki kiri dan kanan secara kompak. Di tim sebelah sudah ada yang berguguran. Jatuh karena tidak kompak. Fadil yang ditunjuk menjadi ketua tim tidak hentihentinya berteriak memberi komando. Tak jarang pula terdengar teriakan memberi semangat darinya.
“Tiga meter lagi. Kita pasti bisa!” ucap Fadil berapi-api.