
Garis finish semakin dekat. Tersisa tiga tim yang bertahan. Fadil dan tim berada di urutan kedua. Meskipun jarak dari peserta yang berada paling depan berkisar setengah meter. Fadil tetap semangat memberi aba-aba.
“Kiri!” pekiknya sembari mengusap peluh yang membuat wajahnya basah kuyup.
“Kanan!” sambungnya semakin keras berteriak.
Satu meter menjelang garis finish, salah satu tim yang tadinya berada di urutan paling depan terjungkal ke samping kanan karena salah seorang anggotanya salah melangkah. Melihat kesempatan itu Fadil tidak menyia-nyiakan kesempatan. Semangatnya berpacu dengan lelehan keringat yang membasahi tubuh. Tidak lelah mulutnya memberi semangat.
“Sedikit lagi! Kita pasti bisa!” sambungnya terus berusaha.
Priiitttt.
Peluit melengking sempurna ketika Fadil dan timnya menyentuh garis finis. Giska yang tadinya duduk di pinggir lapang melompat girang. Berlari ke tengah lapangan dan langsung memeluk Fadil selaku ketua tim.
“Juara pacu tangkelek! Juara tangkelek!” teriak Giska sembari menari-nari.
Mereka pun merayakan kemenangan dengan penuh keceriaan. Tak lupa mereka memberi selamat kepada juara kedua dan ketiga.
“Siapa dulu kapten kita,” ujar Rifki menggendong tubuh Fadil.
“Kapten terbaik,” koor Giska dan Ivan kompak.
“Yang menang adalah kita semua. Ini adalah kemenangan tim,” ucap Fadil mengulum senyum. (***)