“Aku tak mau mengotori darahku dengan darah bukan dari golonganku. Aku ini keturunan priyayi berdarah murni.”
Raden Sosro Aji terus meraung-raung antara sadar atau tidak mendengar permintaan dokter itu. Sulasih semakin kebingungan, kemudian ia menghubungi semua sanak saudara yang dekat dan jauh untuk melakukan transfusi darah.
Maka secepat kilat semua keluarga besar Raden Sosro Aji berdatangan untuk mendonorkan darah. Namun ada kejanggalan saat suster mencocokkan golongan darah tiap anggota keluarga tidak ada yang cocok buat Raden Sosro Aji. Semua tampak was-was kenapa golongan darah mereka tidak cocok, mereka ini juga keturunan darah murni.
Sulasih yang dari tadi gemetaran dan kuatir melihat keadaan suaminya yang kehilangan kesadaran dan dokter terus berteriak kepada suster untuk memberikan suntikan obat bius lewat selang infus. Semua tampak pucat bercampur ketakutan yang membabi buta.
***
Hampir seminggu Raden Sosro Aji tak sadarkan diri dan hari tepat malam Jumat ia terbangun. Raden Sosro membuka matanya perlahan. Ia mendapati dokter beserta suster berdiri di sampingnya dan melihat selang infus yang terhubung kantung darah yang tergelantung. Raden Sosro Aji berusaha mencabut infus di tangan kiri tapi dicegah dokter itu.
“Raden mohon jangan dicabut, itu satu-satunya yang menyelamatkan nyawa Raden jika memang ingin tetap hidup.”
Raden Sosro mendengus dan meradang atas perkataan dokter itu.
“Aku tak peduli, aku tak mau darahku dicemari oleh darah bukan keturunanku. Aku ini priyayi berdarah murni dan tidak seperti kalian yang kotor.”
Prinsipnya begitu kuat dipegang hingga tekanan darah meningkat, Raden Sosro Aji pingsan kembali.
***
Kesembuhan itu datang juga, akhirnya Raden Sosro Aji keluar dari rumah sakit hampir sebulan disana. Dituntun oleh Sulasih memakai kursi roda, Raden Sosro Aji masih terlihat agak lemas tapi raut muka terlihat sumringah. Saat melewati lorong rumah sakit dan berpapasan dokter itu, Raden Sosro Aji berjabat tangan dengannya.