Romansa di Balik Topeng Anandita (1)

“Aku…” Aku bingung mau menjawab apa. Tak mungkin aku bilang kerjaanku hanya di rumah saja. Aku tak mau jujur tentang ini. “Mmm… aku baru wisuda. Sedang mencari pekerjaan.”

“O… lulusan mana?”

“Akuntansi.” Asal saja aku menjawab. Apa aku pantas menjadi seorang akuntan?

Anandita mengangguk-ngangguk.

“Mm… sering-sering dong main ke rumahku. Aku tinggal sendirian di rumah.” Dia tersenyum penuh arti.

***

Aku lupa bertanya pada Anandita apa cowok yang bersamanya kemarin adalah pacarnya. Lolly benar, Anandita memang gadis yang sempurna. Sejak bertemu dengannya tadi pagi aku jadi terus memikirkannya.

Pandanganku tertuju keluar jendela. Setelah menulis lima lembar cerpen untuk hari ini, rasanya mata ini lelah. Aku butuh istirahat. Apalagi tadi malam aku cuma tidur dua jam. Aku seorang penulis. Aku hanya lulusan SMA, dua tahun lalu.

Seketika mataku menangkap Anandita pulang diantar seorang pria tapi bukan dengan mewah berwarna merah itu. Kali ini sedan berwarna hitam. Aku memicing. Itu bukan pria yang kemarin. Yang bersamanya kali ini tidak dewasa tapi menurutku tampak tua. Bisa dibilang seperti om-om. Apa itu orangtuanya?

“Lol, sini.” Kebetulan Lolly sedang melewati pintu kamarku yang tidak tertutup. Handuk tersandar di lehernya. Baru jam tiga sore dia sudah mau mandi.

“Ada apa?”

Aku menggamit tangannya ke dekat jendela. “Kau kenal dia?”

“Sepertinya tidak.” Lolly memperhatikan pria bersosok tinggi gemuk itu.

“Bukan orangtua Anandita? Waktu Anandita mengangkat barang saat pindah, apa kau tidak melihatnya?” Aku semakin penasaran ingin tahu. Ketika berangkat ke kampus, Anandita selalu pergi sendirian dengan taksi tapi pulang diantar. Sudah dua kali aku melihatnya diantar dua pria yang berbeda.

 

Bersambung Minggu depan

Arsip Cerpen di Indonesia