Halte yang Tertinggal

Bis dengan suara bising knalpot ini melaju dengan cepat melintasi jalan-jalan berlubang. Suara serak pengamen tua cukup membuat saya terhibur di bis tua yang pengap ini.

“Untuk melaksanakan wasiat Arum, kayaknya enak juga kalau saya menjadi pengamen di bis kota. Tapi saya akan bernyanyi cukup lama tanpa memungut uang dari penumpang.” Gumamku seketika melihat pengamen menjulurkan tangan ke penumpang.

Ide bagus.

“Pak…” Pengamen Sambil menjulurkan plastik bekas bungkus kopi ke hadapanku.

Tanpa pikir panjang saya masukkan uang Lima Ribu Rupiah.

“Terimakasih, Pak.”

Saya menuruni bis ini setelah kernet berseru ‘Ganding…’.

Air mata saya menetes di atas makam Arum. Saya tidak percaya ia akan mendahului saya menghadap Tuhan yang maha esa. Padahal usianya jauh di bawah saya. Saya panjatkan doa terbaik, semoga ia setia menungguku di sana untuk bersama-sama menuju surganya Tuhan.

***

Pagi yang dingin.

Seperti ide yang saya pikirkan di bis kota kemarin, saya menyiapkan gitar tua yang sudah 8 hari belum kusentuh. Saya akan menjadi orang baik seperti yang disampaikan Arum istriku, bernyayi dan menghibur tanpa memungut uang dari orang lain.

Dari kejauhan, saya lihat terminal sangat ramai. Seperti biasa, akhir pekan dijadikan waktu jalan-jalan bersama keluarga oleh masyarakat kota ini.

“Waktu yang pas.” Saya mengepalkan tangan. Bis akan berangkat. Saya menaikinya dengan cepat sebelum tertinggal.

Bis rengsek ini melaju dengan cepat. Saatnya saya beraksi.

“Penumpang yang berbahagia, saya akan menghibur kalian semua dengan lagu para pejuang cinta.” Saya menghela napas.

“Andaikan kau datang kembali…..

Jawaban apa yang kan kuberi,

Bersinarlah terus sampai nanti

Untuk kita kembali lagi….”

Saya ulangi 3 kali lirik lagu ini.

Bis berhenti di perempatan. Masih lampu merah. Saatnya saya turun.

Arsip Cerpen di Indonesia