Bahkan ada yang sambil mengelus dada. “Kasihan, kok gak dibawa kerumah sakit jiwa sama anaknya ya?”
Saya duduk di halte berikutnya. Menunggu bis datang. Lima belas menit menunggu, yang datang ternyata bukan bis, melainkan penyakit asma yang kambuh. Setelah berpikir panjang, saya memutuskan pulang. Saatnya istirahat untuk melanjutkan aktivitas ini besok pagi.
***
Terbaring seorang diri dikamar hingga pagi tiba.
“Kapan sembuhnya kalau saya tetap berbaring disini? Ah.” Saya menarik selimut. Saya putuskan berangkat ke halte saat ini juga.
Persis di depan halte. Asmaku semakin parah. Napasku tersendak. Tapi aku paksakan untuk bertahan. Tidak ada tujuan apapun kecuali hanya menjalankan pesan almarhum Arum yang sudah bahagia di sana.
Bis hitam mendekat ke halte. Penumpang mulai berebut menaikinya. Saya juga bergegas. Tapi, kaki ini terasa berat untuk digerakkan. Benar, kaki terasa kaku. Kernet bis sudah menutup pintu. Sekali lagi saya mengangkat kaki, tetapi rasanya berat sekali. Saya mencoba berteriak ‘Tunggu’. Tetapi aneh. Suara tidak keluar dari mulutku. Bis melaju dengan cepat meninggalkan halte.
***
Mata terbuka. Infus melekat di tanganku. Astaga, ternyata saya ada di rumah sakit.
“Sejak kapan ayah jadi pengamen di bis?” Amir anak sulungku melotot.
“Kan ayah setiap bulan dapat uang pensiunan. Ditambah lagi uang dari saya.” Rasid menimpali
“Ayah cukup duduk manis di rumah menghabiskan masa tua, kan lebih enak?” Kulsum berdiri dari kursinya.
Ketiga anakku ternyata sudah ada di sampingku semua.
“Ternyata untuk membuat kalian pulang, saya harus sakit dulu,” suaraku tersendak. “Saya tidak kekurangan uang. Uang pensiunan masih utuh. Termasuk juga uang dari kamu, Rasid. Cuma saya ingin melaksanakan wasiat ibu kalian. Saya tidak malu melakukan ini. Justru kalianlah yang harus malu karena lebih mencari harta kekayaan daripada memakmurkan kota sendiri. Kalian orang berpendidikan semua. Lalu apa yang kalian berikan pada tanah kelahiran kalian?. Benar kata pepatah ‘bumi cukup menyediakan kebutuhan, tidak untuk ketamakan’.”
Senyap.
***