Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam Itu

Aku berbaring telentang dan menyadari langit-langit kamar berwarna persis seperti langit-langit kamar rumah kontrakan yang kita tempati bersama teman-teman pengrawit. Putih yang tak lagi putih. Seperti hidupku saat ini. Titik-titik hitam kecil menghiasi permukaan plafon. Aku menghitung titik-titik itu untuk mengundang kantuk, tetapi telah gagal bahkan untuk dua hal (mengetahui jumlah titik itu dan menghadirkan kantuk).

Anganku justru memutar peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum aku masuk ke sini. Kenangan-kenangan itu seperti video film yang diputar secara auto-replay. Teman-teman yang berlatih nggamel, kamu yang mengeluhkan betapa mahal uang kontrakan. Atau aku yang terus menari, sampai kamu menyuruhku berhenti. Sekarang, kamu tak lagi bisa memaksaku menari atau berhenti menari. Menyadari hal itu, membuatku ingin nembang. Biasanya kalau sedang senang, aku akan menyanyikan lagu-lagu campursari atau langgam. Apakah saat ini aku sedang senang? Entahlah. Buktinya langgam ‘Caping Gunung’ mengalun lirih dari bibirku.

Setiap hari kita berjalan berombongan, menyusuri jalan raya, masuk ke lorong lorong sempit permukiman penduduk Ibu Kota. Kita menawarkan hiburan dari tanah Jawa yang hampir punah digerus zaman: tayub.  Bersaing dengan banci pengamen, ondel-ondel, pemain angklung, dan pengamen bocah yang meramaikan sudut-sudut Jakarta dengan rupa-rupa pertunjukan receh. Sungguh, kehidupan yang aku jalani, tak seindah bayanganku dulu tentang Jakarta. Yang katamu di Jakarta mencari uang mudah, semudah kita meludah ke tanah. Yang menurutmu, dengan pergi ke Jakarta aku akan bisa membeli lagi sepetak sawah yang disita Mandor Karmin. Tanpa harus melunasi utang Bapak atau bersedia menjadi istrinya yang ketiga.

Kenyataannya, aku harus bermandi peluh sejak pagi sampai petang, menambal jempol kakiku yang melepuh dengan Tensoplast, karena harus terus berjalan. Dan…, sesekali mengibaskan tanganmu yang hendak menggerayangi tubuhku saat malam tiba. Lalu kamu akan melengos kesal saat kukatakan ada teman-teman pengrawit yang belum tentu sudah tidur. Penghasilan sebagai pengamen tayub hanya cukup untuk membayar sewa satu kamar berukuran 3 x 4 meter, untuk makan, dan untuk membeli kosmetik murahan. Otomatis kita harus tidur berderet-deret, berbagi bau keringat dalam kamar pengap.

Aku menyesal, karena telah menolak uang dari Mas Gunung. Sebelum nekat pergi ke Jakarta, Mas Gunung memaksaku menerima uang tabungannya, agar bisa mengambil kembali sepetak sawah dari Mandor Karmin agar tak usah menjadi istri ketiga Mandor Karmin. Agar tak usah bekerja di Jakarta. Namun aku menolak, karena merasa tak sampai hati menerima kebaikan guru SMP-ku itu. Aku justru menerima ajakanmu ke Jakarta. Menjadi penari tayub yang menghadirkan rangkaian panjang kisah kita untuk bisa bertahan di Ibu Kota. Bekalku belajar menari di sanggar Mbak Retno kurasa cukup membuatku percaya diri.

Arsip Cerpen di Indonesia