Sampai kemudian kamu mengeluhkan biaya hidup di Jakarta yang serbamahal. Lalu kamu mulai menyuruhku untuk menjalani pekerjaan yang sangat nista. “Nauíuzubillah, dadi kowe ki nyambi nglonthe ta (menyebut namaku agak keras)?” * Itulah kalimat pertama yang Sibu ucapkan kemarin saat menjengukku sambil berurai air mata.
Samar-samar aku mengingat malam jahanam itu. Ketika, untuk kali kesekian, kamu menyuruhku melayani lelaki asing yang kamu bawa. Dalam kamar kos kumuh berukuran kecil, di Kampung Rawa. Rasanya seperti kerja lembur, setelah sehari penuh berjalan bersama teman-teman, menawarkan hiburan yang berkesan “terbelakang” di balik kegemerlapan kehidupan Jakarta. Lagi-lagi, kamu meminta uang yang diberikan lelaki itu.
Setelah itu, kamu memelukku, mencium kasar bibirku dan menindihku. “Sayang kan, dia sudah menyewa kamar mahal-mahal, hanya digunakan satu jam?” bisikmu sambil menyeringai.
Lalu entah setan dari mana yang memberiku kekuatan untuk mengambil pisau buah dari saku bajuku. Tahu-tahu pisau itu sudah menancap di perutmu. Seprai penuh genangan merah, percikan darah di bajuku, juga di dinding, dan tangisanku saat menyaksikan kamu terkulai. Kupukul-pukul dinding kamar dengan tanganku yang berlumuran darah, sampai beberapa polisi menjemputku.
Interogasi demi interogasi aku jalani. Kadang lancar, kadang harus dengan gertakan dan pukulan. Lalu sidang demi sidang, yang berakhir pada putusan 15 tahun penjara potong masa tahanan. Seseorang dari desa kita di Kabupaten B menyusulku. Ia menghibur, bahkan membayarkan sejumlah uang untuk sebuah ruangan yang bisa kutempati sekarang. Kamu juga mengenalnya. Ialah Mas Gunung, pak guruku sekaligus cinta monyetku waktu SMP. Katanya, dia rela menungguku keluar dari penjara. Sungguh, ia tak harus membayar sejumlah uang kepada Bu Kepala demi kenyamanku di ‘cangkang’ yang baru, kalau saja Mas Gunung tahu, aku memang warga binaan yang harus diisolasi.
Aku pernah dibawa ke rumah putih yang lain, sebelum diserahkan ke Bu Kepala di Blok C. Rumah putih dengan petugas berseragam jas putih. Mula-mula aku pusing, lalu demam dan nyeri otot tak kunjng membaik. Bahkan aku pingsan saat sidang ketiga berlangsung. Polisi menitipkan aku ke sebuah rumah sakit tentara. Aku dirawat sebagai pasien visum (pasien titipan dari tahanan). Dokter tak memberi penjelasan apa-apa. Aku hanya menangkap beberapa istilah asing saat dokter dan perawat berbicara tentang keadaanku, seperti imunitas, virus, penyakit menular seksual, antiretroviral.