Hikayat Piso Tumbuk Lada; Kami, Erkiniteiken Dibata

Puisi-puisi Marsten L. Tarigan (Koran Tempo, 31 Agustus – 01 September 2019)

Piso Tumbuk Lada ilustrasi Istimewa.jpg
Piso Tumbuk Lada ilustrasi Istimewa 

Hikayat Piso Tumbuk Lada

 

Tangkai hulunya, carikan jati paling sejati,

berdiri paling tegak di belantara hutan raya.

Kami ukirkan pula segambar pucuk merbung

sebagai tanda gembira bagi pemiliknya. Supaya

erat dalam genggaman telapak tangan, agar jiwa

dan rohnya tetap berada pada tempat yang tepat.

Tiada kambuh penyakit yang diderita, tiada bala

yang datang adakala.

 

Kilap emas, suasa, maupun perak, dipilah-pilih

mana serasi bagi si pemilik. Kemudian jadikan

pengikat dua bilah sisi batang sarung yang

terbuat dari tanduk kerbau atau gading gajah.

Supaya tak menjadi senjata si pemakan tuan,

agar darah tetap mengalir menjaga kehormatan

si pemilik.

 

Dari ketajaman ia telah bangkit, sempurna

menyayat irama gurit. Telah terkumpul besi

mersik dari lima negeri kerajaan jauh. Di atas

sebilah baja datar dilebur jadi satu, ditempah

jadi piso Tumbuk Lada. Maka darinya akan lahir

tajam yang tak melulu menginginkan luka atau

bala, tapi justru sejurus menumpas sempurna

pedih dan sakit dari tubuh si pemiliknya.

 

(Kandang Singa, 2018)

 

Arsip Cerpen di Indonesia