Lelaki Berdasi

“Intinya jangan menjadi petani, kamu bisa menjadi apa saja Nak, asalkan jangan menjadi Petani.”

Setelah itu keduanya terdiam, kemudian bapaknya pergi. Setelah kepergian bapaknya, anaknya pun merasa menyesal terhadap tindakan yang dilakukan. “Tidak semestinya seorang anak membantah ucapan orangtuanya,” gumamnya.

***

Dengan berjalannya waktu, setahun sebelum ayahnya meninggal, akhirnya ia menjadi seorang lelaki yang berdasi. Lelaki yang diinginkan bapaknya. Dengan keberhasilan inilah, senyum kebahagiaan terpancar dari raut wajah bapaknya. Senyum yang sempat hilang dengan begitu lamanya, akhirnya terhapuskan dengan keberhasilan anaknya yang berpakaian dasi, dan berada di dalam gedung yang terlihat bagus dan menjulang tinggi, yang kemudian menjadi buah bibir untuk warga-warga di sekitar.

Sesuai dengan tradisi desanya, hajatan dilaksanakan dengan mengundang seluruh penduduk. Keramaian serta kebahagiaan Pak Sarman terpecah dalam perbincangan dengan warga. Sedangkan anaknya tersenyum dalam kesedihan. Sebab, sejatinya bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin menjadi petani, agar bisa hidup dan menghidupi orang lain dengan hasil panennya.

Setelah kepergian bapaknya, ia benar-benar kesepian. Gelar sebagai manusia yang berdasi seakan tidak berguna lagi. Kebahagiaannya luntur bersama dengan kepergian bapaknya. Senyum yang sempat terlihat setahun terakhir, menjadi bukti, bahwa perpisahan memang menyakitkan. Tetapi itu selalu terjadi dalam diri setiap manusia.

***

Sejajar dengan garis kehidupan, semua akan berjalan sesuai dengan alur. Setiap kebaikan pasti menemukan kebaikannya, dan usaha tidak akan membiarkan seseorang terpuruk pada keadaan. Kesepian yang pernah dialami oleh seorang anak lelaki yang selalu termenung, sekarang sudah menjadi manusia yang berdasi, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ayahnya.

Dan benar adanya, bahwa orang yang berdasi memang menemukan kemakmuran, tetapi ia selalu kekurangan asupan kebahagiaan. Kesepian selalu menyelimuti dirinya. Kerinduan terhadap kasih sayang dari bapak dan ibunya senantiasa menghantui lewat mimpinya. Hingga ia tidak tau lagi bagaimana menghilangkan kesepian dan kerinduan kecuali dengan kematian.

Ya, lelaki berdasi yang dicita-citakan oleh seorang bapaknya mati mengenaskan. Ia termakan oleh kesepian dan digerogoti kerinduan dalam hingga akhir hayatnya.

 

Suroso, lahir di Banyurip desa terpencil di Kabupaten Rembang

Arsip Cerpen di Indonesia