Muslihat Seekor Domba

“Domba ini sudah mati.” Marsalim mendengus, sebelah kakinya menginjak bangkai domba Ladung Gembala. “Kita impas. Kalau kau tak suka, kita selesaikan saja dengan cara orang lama.”

“Domba itu tidak bersalah,” sergah Ladung Gembala. “Kaulihat, di lehernya masih ada tali. Itu tandanya dombaku ini selalu kuikat dan tak kubiarkan sembarangan mencari makan. Kalau dia masuk ke ladangmu, cuma ada dua kemungkinannya, domba ini ada yang melepaskannya atau memang kau yang mencurinya.”

“Lancung betul mulutmu,” gertak Marsalim sambil melambaikan parangnya ke muka Ladung Gembala. “Seharusnya kauminta maaf padaku, sebab semua ini kesalahanmu. Meskipun seluruh dombamu itu kauberikan padaku sebagai gantinya, tak akan bisa mengembalikan putik-putik semangka itu seperti semula.”

“Bukan aku yang harus mengganti kerugianmu. Tapi kau sendiri yang harus mengganti domba itu. Bila perlu dengan nyawamu.”

“Ambil sendiri kalau kau mampu!”

Bala itu bermula dari jawaban Marsalim yang semena-mena, membakar habis kesabaran Ladung Gembala. Kemudian dengan penuh dendam, Ladung Gembala mengayunkan sabit di tangannya. Gerakan itu lekas ditangkis oleh Marsalim. Langit sore yang terang menjadi saksi. Kematian adalah hal yang mustahil dihindari. Sabit dan parang melayang-layang, diiringi tatapan girang Hasim di kejauhan.

Telah diperincikannya matangmatang bahwa Marsalim pasti akan membunuh domba Ladung Gembala. Hasim tahu betul, lelaki bujang tua yang kikir itu tak akan diam jika ladangnya rusak. Dia pasti akan bertikai dengan Ladung Gembala. Pertikaian itu akan mengantarnya pada dua perkara: masuk penjara atau mati terbunuh oleh Ladung Gembala. Dua-duanya memberi untung bagi Hasim, sebab dengan cara itulah dia melunasi dendamdendamnya dan mengambil alih ladang semangka itu untuk menjamin hidup anak dan bininya. (*)

 

Adam Yudhistira. Bermukim di Muara Enim, Sumatra Selatan. Buku kumpulan cerpennya “Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon” (basabasi, 2017).

Arsip Cerpen di Indonesia