Malam itu, Amira demam dan terus-menerus rewel. Aku dan Yanti terjaga karenanya. Aku tak membawa anak kami ke rumah sakit karena mengira dia hanya demam biasa. Selain itu, aku juga mempertimbangkan biaya rumah sakit jika ia harus dirawat di sana. Besoknya, aku pamit keluar mencari obat. Sore hari saat pulang ke rumah, aku tak lagi mendengar tangis Amira. Hanya ada Cici di rumah. Dia duduk meringkuk dengan tubuh gemetar.
“Adek…. Adek. Ayah,” Cici sesenggukan menyelesaikan kalimatnya. Sebelum berlalu, ia memberikan secarik kertas. Kubaca tulisan di dalamnya.
Mas, maafkan aku. Aku kalap.
Aku tidak sungguh-sungguh dengan perkataanku waktu itu.
Sejujurnya, aku bahagia pernah hidup denganmu.
Kau tahu itu. Aku tak bisa berdusta
Yanti.
Aku mengguncang bahu Cici keras untuk meminta jawaban pasti. Cici tak menjawab. Namun, tangannya bergerak menunjuk pintu kamar. Aku membuka pintu dan melihat Amira terlelap penuh kedamaian. Aku mendekatinya dengan perasaan skeptis. Aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi ketakutan menguasaiku saat berada lebih dekat dengannya. Kugendong dan kubangunkan Amira. Tak ada respon. Kutepuk lengannya, masih tak ada respon. Aku mematung saat tak kudapati napas dari hidungnya. Aku terduduk. Tulang-tulangku seperti tercerabut. Perutku mual. Aku terkulai lemah. Kulitku menggelenyar. Anak yang begitu aku dan Yanti idamkan, tak lagi bersama kami.
Beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu. Aku pun pasrah dengan keadaanku. Hidupku luntang-lantung di jalan. Cici sudah aku kembalikan pada Marko. Sedangkan Yanti, aku semakin pilu setelah kehilangannya. Sehari sejak peristiwa itu, aku mendapat kabar dirinya tewas setelah melompat dari jembatan. Dia mungkin putus asa dengan delik perbuatannya atau tak sanggup menahan rasa bersalah. Bagaimanapun, Yanti adalah orang yang kucintai. Persoalan Yanti aku rahasiakan dari Cici. Aku tak ingin ia mengalami trauma terhadap hidupnya.
Cici selalu datang menghampiriku. Kadang-kadang datang membawa makanan atau sekadar mengiburku. “Ayah jangan sedih. Guru ngaji Cici bilang kalau adek bahagia di surga. Ibu juga pasti baik-baik saja.” Cici berkata sambil mengelus punggung tanganku sedangkan aku hanya melenguh dan sesekali meracau tak jelas. Aku berpikir dia tak berguna lagi untukku sampai suatu hari aku merasa benar-benar kehilangan semua orang yang berarti dalam hidupku.