Satu kali, bersama beberapa kawan, aku mendapat tugas mengantar salah satu kawan kami yang tangannya membusuk. Aku sudah mendengar bisik-bisik, kalau barang-barang bekas yang kerap kami pegang itu, sebenarnya mengandung zat beracun. Maka itulah dari dulu, banyak dari kami yang tak bisa bertahan. Nasib kawan kami ini, bisa jadi akan menyusul mereka. Sungguh, membayangkan itu membuat pikiranku langsung tertuju pada timbunan-timbunan tanah di sekitar tempat ini.
Karena desa terdekat ada di balik bukit, maka kami pun harus berjalan melintasi bukit. Di situlah Agge menunjukkan padaku pohon Ibu. Anehnya –mungkin ini perasaanku saja– pohon itu seperti menghipnotisku, hingga aku ingin sekali mendekat padanya. Tapi para penjaga sama sekali tak memberi waktu pada kami, selain langsung menuju puskesmas.
Untungnya saat tengah menunggu kawan kami diobati, aku diam-diam bisa melarikan lari ke dalam hutan. Aku tak tahu kenapa bisa senekat ini. Aku sebenarnya tak punya alasan kuat untuk melakukannya. Bisa jadi, aku hanya penasaran melihat Pohon Ibu dari dekat, atau aku ingin melihat di dalam dahan-dahannya yang tengah memeluk itu, apakah benar ada seseorang bocah di sana?
Dan aku langsung menyadari kalau itu adalah keinginan yang bodoh. Tentu saja aku tak menemukan apa-apa di sana. Pohon Ibu benar-benar nampak seperti pohon biasa. Batangnya memang nampak besar, tapi itu karena terdiri dari beberapa dahan yang menyatu. Sungguh, ini membuatku tersenyum pahit sudah membayangkan pohon ini sedemikian rupa dengan imajinasiku. Lebih-lebih, sudah mempercayai cerita Agge selama ini.
Tapi saat aku akan kembali, aku melihat tunas tanaman aneh di dekat pohon Ibu. Aku segera menunduk dengan tak yakin.
Apakah ini tunas Ibu? Hatiku berdesir. Tunas itu hanya setinggi sebuah pena, namun sudah memiliki cabang-cabang kecil di sekitar tubuhnya. Satu yang paling aneh, sedikit saja akarnya yang ada di tanah, sebagian lainnya nampak berada di atas tanah.
Dengan perasaan tak menentu, aku segera mengambil tunas itu dengan hati-hati. Kubuat lubang kecil untuk menanamnya. Dan saat akar tunas itu mulai tertutup tanah seluruhnya, sesuatu yang ajaib terjadi di depanku. Tunas itu tiba-tiba tumbuh dengan cepat. Bahkan gerakannya lebih cepat dari bibirku yang mencoba berhitung. Hingga hanya beberapa saat saja, ia tumbuh sebesar diriku, dan terus tumbuh lebih besar lagi.
Saat tubuhku akan terjengkang, sebuah dahan seperti meraih pinggangku. Ranting-rantingnya kemudian seperti menarikku mendekat.