Oleh Silmi Martini (Solopos, 29 Maret 2020)

”Assalamualaikum…Mama… Mama…Karin pulang…,” ucapku memasuki rumah.
”Waalaikumsalam…eh anak Mama sudah pulang.” Mama sedang asyik dengan jahitannya.
Aku menghampiri mama tuk mencium tangannya.
”Eit.. cuci tangan dulu ya sayang…sebelum cium tangan mama.”
”Semalam kan kita sudah dengar berita di televisi untuk pencegahan dari virus corona kita harus sering-sering mencuci tangan.” Mama menjelaskan kembali pembahasan tentang pencegahan virus corona yang kami dengar di televisi semalam.
Aku segera menuju wastafel untuk mencuci tangan dan segera mengganti baju seragam dengan baju rumah. Aku kembali bergegas ke ruang depan untuk mencium tangan mama tersayang. Mama memang selalu membiasakan agar aku selalu mencium tangan orang tua.
”Ma… Karin kesal deh sama Luki, masa tadi waktu dia bersin dia tidak menutup mulutnya, dia kan lagi flu Ma tapi… masa dia enggak pakai masker, kan nanti penyakitnya bisa menular kan ya ma.”
Aku menceritakan kejadian tadi di sekolah.
”Oh …mungkin Luki baru saja terkena flu jadi dia belum memakai masker,” jawab mama lembut.
”Ahh…Luki memang jorok ma, dia memang suka sengaja begitu kalau bersin.”
Aku teringat bagaimana sikap Luki tadi waktu aku memarahinya. Dia hanya tertawa-tawa saja ketika aku nasihati untuk menutup mulutnya jika bersin. Tadi juga Bu Guru menasihatinya agar memakai masker kalau sedang flu.
”Ya sudah kita saja yang harus menjaga diri kita dari penularan penyakit,” lanjut mama.
”Oh ya Ma… kata Bu Guru besok kita disarankan untuk memakai masker.”
“Mama masih punya persediaan masker kan, Ma?” tanyaku sambil bergelayut manja kepada mama tersayang.
“Wah sayang sekali mama sudah tidak punya persediaan masker.”
“Ya terus bagaimana dong Ma… Karin pakai apa?” Aku merengut mendengar jawaban mama.
“Ya sudah nanti kita beli di toko depan ya,” jawab mama sambil mengelus punggungku.
“Ayo sekarang kamu makan dulu ya… mama sudah buatkan sup ceker. Jangan lupa kamu banyak minum air putih ya karena salah satu cara mencegah penyakit adalah dengan banyak minum air putih.”
“Siapppppp Bos…,” ujarku sambil mengangkat tangan tanda hormat.
Aku makan dengan lahap. Masakan mama memang juara. Aku juga minum air putih hangat. Padahal dulu aku paling suka air es tetapi sejak aku mendengar manfaat air putih hangat yang baik buat kesehatan aku tidak suka lagi minum air es.
Selesai makan, aku menyalakan televisi. Ada berita tentang kelangkaan masker yang terjadi akhir-akhir ini. Dalam berita itu juga diberitahukan cara membuat masker sendiri. Aku jadi terpikir untuk membuatnya juga. Segera kuberitahukan kepada mama di ruang depan.
“Mama… Karin mau buat masker sendiri aja Ma…seperti yang diberitakan di televisi.”
“Wah bagus juga ide kamu,” ujar mama sambil mengangkat jempol.
“Ayo Ma … Mama pilihin bahan yang cocok buat masker.”
Aku tak sabar untuk segera membuat masker buatan sendiri.
Selanjutnya mama menggunting bahan yang diperlukan kemudian mama mengajarkan cara menjahit. Aku memperhatikan dengan seksama. Aku mulai mencoba untuk menjahitnya. Sesekali mama membetulkannya. Akhirnya aku berhasil membuat masker sendiri, masker ala Karin begitu aku menyebutnya. Aku membuatnya beberapa buah.
“Maa …Karin mau buat banyak ya… Karin mau kasih ke teman yang enggak punya masker.”
“Wah baik hati sekali putri mama,” puji mama sambil memelukku.
***
Hari ini aku sudah memakai masker buatanku. Masker cantik sewarna dengan jilbabku dengan hiasan boneka cantik. Aku bangga sekali karena masker tersebut lain daripada yang lain. Hampir semua temanku juga sudah memakai masker. Tetapi kok Luki belum memakai masker?
Saat jam istirahat kucoba tanyakan. “Luki, kok kamu belum pakai masker sih?” tanyaku heran.
“Ya aku enggak punya masker. Kata mama enggak ada yang jual.”
“Tunggu sebentar Luki, aku punya masker buatanku sendiri.” Aku menyodorkan masker kepada Luki.
“Wah bagus sekali masker buatan kamu Karin!” seru Luki senang. “Terima kasih ya Karin… sekarang aku jadi punya masker.”
Luki segera memakai masker yang aku berikan.
“Aku mau dong maskernya….,” tiba-tiba Lovita memelukku dari belakang.
“Ah kalau buat kamu …beli dong.”Aku meledek temanku yang paling bawel.
“Ah Karin pelit … masa Luki dikasih aku enggak.” Lovita mendelik marah.
“Iya … iya aku kasih juga tapi kamu harus rajin mencucinya ya.”
“Siapppppp Boss,” jawab Lovita sambil mengangkat tangan tanda hormat.