Satu Pintu

Cerpen Pasini (Kedaulatan Rakyat, 10 Juli 2020)

Satu Pintu ilustrasi Joko Santoso (Jos) - Kedaulatan Rakyat (1)
Satu Pintu ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

SIANG itu kurir berseragam oranye terang, keluar dari halaman rumah Imah dengan wajah riang. Hanya beberapa perempuan tetangga yang berwajah mendung. Itulah kekhasan manusia. Iri jika orang lain bahagia. Mereka pasti berandai alangkah enaknya menjadi kurir itu. Datang ke rumah Imah sekali seminggu. Lalu menerima sepertiga nilai wesel yang dikirim anak Imah dari jauh sana.

Jika dipikir-pikir, sebagai tetangga, perempuan-perempuan itu pun sering kecipratan enaknya. Gamis, daster, kain sutera, dilimpahkan Imah atas mereka. Ia tak perlu barang bagus. Karena tidak lagi ingin ke mana-mana. Tidak mau meninggalkan rumahnya. Takut terkena tulah pintu. Hanya menunjukkan jalan pergi tanpa menuntunnya kembali. Imah sudah beberapa lama menjadi rerasan karena dicurigai sakit jiwa. Betapa tidak? Suatu hari ia memanggil tukang kayu, ia meminta menutup pintu-pintu rumah.

Terwujudlah keinginan Imah. Tak ada lagi pintu-pintu luar di rumahnya. Ditutupi tukang kayu dengan bilah-bilah papan yang dipaku. Pintu depan yang menghubungkan dengan halaman. Juga pintu belakang yang menjadi jalan keluar ke pekarangan. Terjebaklah Imah di dalam rumah dengan wajah yang sumringah.

Hanya ada sebuah jendela yang masih Imah buka. Dari sanalah kepala tukang sayur celingakcelinguk sambil meneriaki Imah yang kemungkinan lagi di dapur. Ia membawa pesanan Imah di hari sebelumnya. Brengkes pindang, dawet kemangi, bothok lamtoro, tapi tidak hanya itu. Tukang sayur juga membawa kisah tentang anaknya yang seharusnya menginap di rumah sakit, tapi terpaksa dirawat jalan, karena alasan biaya.

“Sudah bawa saja,” kata Imah ketika tukang sayur melongo brengkes dan kawan-kawannya tadi dihargai berpuluh-puluh kali.

Pun terhadap tetangga kiri-kanan yang datang di luar jendela sambil membawa apa saja. Kolak pisang kesukaan Imah. Atau yang terang-terangan meminjam uang tapi ujung-ujungnya melupakan. Terakhir, kurir pos tadi. Imah memberinya ongkos bensin dan rokok. Karena ia masih berstatus pekerja honorer.

Imah tidak membutuhkan apa-apa lagi. Hanya kepala desa yang rumahnya menyamai besarnya rumah Imah. Lantainya keramik yang mengkilat. Guci-guci, semuanya barang langka. Kiriman dari dua anaknya. Satu dari luar negeri. Satu dari luar pulau.

Dulu sekali, suami Imah keluar lewat pintu dapur. Beberapa ratus meter di belakang rumah, ada sungai yang setiap musim banjir pasti mengirimkan pasir. Oleh suami Imah diangkut menggunakan keranjang bambu beranyam rapat dan ditaruh di depan rumah. Jika sudah sampai beberapa rit, sebuah pick up milik toko bangunan akan membawanya pergi dan mengganti dengan sejumlah nilai uang, tapi sayang, banjir tidak hanya mengirimkan pasir. Tapi juga Izrail. Lewat bah yang datang tiba-tiba.

Sulung Imah keluar lewat pintu depan. Kepada sebuah negeri jauh untuk menjadi TKW. Tapi majikan kepincut dan dijadikannya gadis itu simpanan. Sebagai gantinya, Imah menerima lembar-lembar uang dan barang-barang bagus setiap bulan.

Terakhir, ragil Imah. Yang mendapatkan pekerjaan bagus di luar pulau. Selalu berhalangan setiap musim libur tiba. Kehabisan tiket, susah mendapat cuti, jadwal lembur, sampai sakit yang tidak dijelaskannya itu apa.

***

Sulung Imah bersama tuan bulenya pulang. Pun ragil Imah yang sepertinya sudah mendapatkan tiket, dibolehkan cuti, dan sembuh dari sakitnya. Rumah Imah penuh orang-orang yang berdatangan. Bilah-bilah papan dilukari dan dimasukkan pintu tungku bakal masak nasi kenduri. Rumah Imah sudah kembali kepada konsepnya sebagai rumah yang lumrah. Dengan banyak pintu dan jendela yang terbuka. Siapa boleh masuk menghaturkan bela-sungkawa.

Tapi Imah justru terbekap di rumah barunya. Sebuah rumah yang hanya menyediakan satu pintu masuk saja. Ketika sudah berada di dalamnya, ia tak bisa ke mana-mana. Seandainya pintu seperti itu ada di rumahnya dulu di dunia, tentu Imah bisa menahan suami dan anak-anak untuk tetap di sisinya. Menemani sampai maut tiba. ❑-o

 

*) Pasini, cerpenis tinggal di Ngawi.

Arsip Cerpen di Indonesia