ANAK-ANAK PUISI; CELOTEH ZAMIT; BUKIT IBU; BAJU LEBARAN; BELAHAN JIWA

ANAK-ANAK PUISI

: Zallumy, Zain, Ziyad, Zamit

 .

Sebelum kau terlahir; ayahmu adalah sebatang pena

Dan ibumu adalah buku kosong

Setiap lembarnya hanya garis riuh sunyi

Dunia tanpa gelak tawa

dan juga tiada tangis gerimis

.

Lalu setetes tinta menggores pada wajah halaman

Kata-kata berubah menjadi warna pelangi

Bayi-bayi kecil

pun lahir

mengecup

harum bunga

Daun-daun

mata terbuka

melihat langit

dan samudera

biru

.

Tangan-tangan

yang berkepak seperti sayap

Kaki-kaki yang mencengkeram bagai akar

Tumbuh dalam gemuruh angin

dan gelombang laut

.

Kaulah anak-anak puisi yang berlaridi pasir pantai

Menerabas desir semilir aroma uap garam

Mengejar laju baris-baris ombak

dan menulis sajak

.

Awan putih membumbung seperti harapan

Burung-burung menjerit-jerit manja

Anak-anak puisi mencelupkan tubuhnya

Menjelma warna kupu-kupu

.

Sampai senja, sampai semua tiada tersisa

karena telah bahagia

.

Indramayu, 2019

 .

CELOTEH ZAMIT

 .

Kuberi kau nama; Zamit, putraku dalam timang

tangan-tangan penyayang

.

Tumbuhlah di tanah Adam dicipta

mengecup harum daun-daun boreh dan bunga

.

Senyumlah

dalam garis

retak sawah

dicakar panas

kuku

kemarauberbau

tanah

.

Tataplah

matahari pagi

dengan rindu

mekar di balik punggung bukit ibu

.

Dengarlah sajak ayat-ayat suci

dilantunkan seindah puisi

.

Celotehmu adalah dahan pelipur

ranting nyanyian burung tekukur menghibur

.

Dari kursi aku memandangmu dengan air mata

menggenang di cangkir dengan rasa manis bahagia

.

Indramayu, 2019

 .

BUKIT IBU

 .

Tenggelamlah dalam bukit ibu, menyusur

mata air kasih yang bersulur

.

Biru selembar selendang menggendong, larik

pelangi tempat

bernaung di

kala terik

.

Dengarlah

dendang

nyanyian

dalam ayun,

ibu

berkalung

seuntai kecubung kelabu

.

Dekaplah mimpi dengan hangat, esok

kaupanjat batang hidung ayah dengan elok

.

Sepanjang daun-daun matamu mengatup, senyum

terlukis di kanvas bibir ibu yang ranum

.

Indramayu, 2019

 .

BAJU LEBARAN

 .

Saat bulan ramadan,

anak-anak minta baju lebaran

Di pasar malam digantung,

seperti udara melambung

.

Kemeja dan gaun baru,

aroma surga wangian rindu

.

Luruh tangan tunaikan fitrah,

bagai bayi tiada salah

Sungai zikir

mengalir,

gemericik jiwajiwa

bertakbir

.

Oh, baju

lebaran,

selebar seperti

pintu kemaafan

Semua orang

menjadi baik,

tak ada lisan yang mencabik

.

Hati jauh lebih putih,

Walau sekali setahun berlatih

Tapi Tuhan mengajak hamba,

agar tak jadi pendusta agama

.

Pada anak-anak yatim di sana,

adakah baju lebaran untuknya

 .

Indramayu, 2019

 .

BELAHAN JIWA

 .

Akan tetapi anak-anak adalah belahan jiwa

Bermain dan mengusik di dada

.

Tiap kujumpa ia menjadi duri di tangkai

Aku berharap mawar-mawar dapat terbingkai

.

Tapi saat kulihat ia menjelma bunga

Semoga harumnya jauh sampai ke surga

 .

Indramayu, 2019

 .

Faris Al Faisal. Penulis bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Puisi-puisinya tersiar di media lokal, nasional, dan Malaysia.

Arsip Cerpen di Indonesia