Puisi-puisi Charles Simic (Koran Tempo, 18-19 Juli 2020)

Toko Daging
Terkadang ketika berjalan di malam hari
Aku berhenti di depan toko daging.
Di dalam sana ada seberkas cahaya
Seperti cahaya untuk terpidana yang menggali terowongannya
Serbet itu menyantel di gantungan:
Darahnya mencoreng sebuah peta
Dari benua besar yang berdarah,
Agungnya sungai dan lautan darah.
Di sana ada banyak pisau yang mengerlip seperti altar
Di dalam gereja yang suram
Di mana si cacat dan si dungu itu mereka bawa
Untuk disembuhkan.
Di sana ada balok kayu untuk si patah tulang,
Yang tergores bersih―sungai yang mengeringkan alasnya
Di mana aku diberi makan,
Di kedalaman malam dapat kudengar suara.
Permadani
Ia menggantung dari surga menuju bumi.
Di dalamnya terdapat banyak pohon, kota, sungai,
babi kecil, dan bulan. Di sudutnya
salju gugur itu merupa serangan kavaleri,
di sisi lainnya banyak perempuan yang menanam padi.
Kau juga dapat melihat:
ayam yang dibawa rubah,
pasangan bugil di malam pernikahan mereka,
sekolam asap,
mata keji perempuan yang meludah di seember susu.
Apa yang ada di baliknya?
—Ruang, sedikit ruang kosong.
Dan sekarang siapa yang berbicara?
—Laki-laki yang tidur di bawah topinya.
Apa yang terjadi ketika ia beranjak?
—Ia akan pergi ke tukang cukur.
Mereka akan memangkas janggut, hidung, telinga, dan rambutnya.
Agar tampak seperti mereka.