Cerpen Andreas Mazland (Haluan, 19 Juli 2020)

DENGAN celana kedodoran yang sampai-sampai membuat belahan garis horizontal dari pinggang hingga pangkal pahanya terlihat jelas, Xaverius tetap berdiri tegap. Meskipun, harus melawan kaki yang gemetaran karena termakan usia. Sudah tiga hari terakhir, Xaverius yang hobi memancing, hanya mendapat kekecewaan dari hasil pancingan.
Padahal kata para nelayan, di Tanjung Priok; tanpa umpan pun ikan bisa dapat juga karena memang sedang musimnya. Sempat terbesit dalam benaknya, jangan-jangan para nelayan itu hanya melempar basa-basi untuk mengobati nasibnya yang beberapa hari ini surplus kesialan.
Tak jauh beberapa meter dari Xaverius, tapi sangat jauh jarak mujurnya; berdiri seorang yang sama rentanya dengan dirinya, baik dari keriput kulit, maupun usia. Sejak senja tadi, umpan orang itu selalu disambar ikan. Seakan-akan angin keberuntungan tidak bertiup ke timur atau barat, tapi ke arah lemparan kailnya. Akan tetapi, dilihat dari gelagatnya saat mengangkat pancingan, dapat diduga bahwa ingin pula orang tua itu sekali waktu merasakan sensasi tidak mendapat ikan untuk beberapa jam saja. Bukan karena lelah tangannya menarik ikan yang terjerat dalam kailnya tiap sebentar, tapi lebih pada ingin merasakan tantangan saja.
Sudah beberapa kali makian keluar dari mulut Xaverius, jika matanya tak sengaja melihat orang itu sedang membuka ikan dari kailnya. “Dewi Fortuna sialan! Gila sekali, untuk urusan sederhana seperti ini pun masih tebang pilih. Manusia mana yang ingin diberkatinya,” maki Xaverius berkali-kali, sampaisampai busa putih membuih di tepi bibirnya. Dalam hati Xaverius, barangkali “maki” sudah berlipat-lipat tumbuh subur, tapi karena kekurangan aksara untuk menyampaikannya, ia hanya bisa mengeluarkan beberapa.
Entah wangsit dari mana, tibatiba saja orang tua yang berada tak jauh dari Xaverius itu berjalan menghampirinya, meninggalkan pancingannya begitu saja. Xaverius yang didatangi pun segera memikirkan beberapa alibi untuk berkilah jika orang itu berusaha memberi wejangan. Sebab, Xaverius merasa bahwa orang ini tahu bahwa hari-hari Xaverius sedang surplus kesialan. Sehingga bisa saja kedatangannya, tak lain dan tak bukan, untuk memberi sedikit wejangan; kiat agar umpan disambar ikan.
“Selamat malam, bung. Udara Tanjung Priuk cukup dingin malam ini?” sapa orang tua itu.
“Lumayan,” jawab Xaverius ketus.
Orang itu lalu duduk di samping Xaverius, lalu menyodorkan rokok murahan dari kantongnya. Namun, Xaverius menolak dengan dingin. Bukan karena tidak mau—hatinya ingin sekali menarik rokok itu karena rokoknya sudah habis sejak beberapa jam lalu—tapi pikirannya masih terpusat pada dugaan tentang maksud dan tujuan orang tak dikenal itu menghampirinya.
Melihat Xaverius menolak sodoran rokoknya, orang itu lantas mengeluarkan sebatang saja untuk dirinya sendiri, lalu menghidupkannya dengan korek api kayu, dan mengisapnya dalam-dalam. Kemudian, mengeluarkan asap lewat mulut bagai koboi menang duel melawan bandit gunung. Melihat gaya merokok orang tak dikenal itu, hati Xaverius semakin jengkel. Beberapa kali matanya mencuri pandang, melihat tingkah orang itu.
“Salam kenal, bung. Nama saya Petrus,” tiba-tiba orang tak dikenal itu mengulurkan tangan.
“Eh, iyaaa, na-na-nama saya Xaverius,” jawabnya sedikit gugup sambil menyambut uluran tangan orang tak dikenal itu.
“Sepi juga ya, bung? Rasanya kita berdua saja yang tersisa di pelabuhan ini.”
“Iya.. Lumayan sepi.”
“Ha-ha, sudah berapa lama mancing di sini, bung?” Tanya Petrus, berusaha mencairkan suasana. Barangkali Petrus sudah merasa Xaverius sedikit terganggu akan kehadirannya.
“Baru beberapa hari ini saja, bung.”
Dalam hati, Xaverius mulai menerka-nerka, barangkali setelah ini pertanyaannya akan langsung menembak urat tunggang kecemasannya. Pertama, Petrus akan berpura-pura bagai orang bodoh; kedua, bertanya sudah berapa hasil tangkapannya tiga hari ini; ketiga, setelah tahu bahwa dirinya selama tiga hari ini hanya mengail kecewa, lantas berubahlah Petrus menjadi nabi yang menceramahi kesialannya.
Tapi apa yang ditunggunya tidak juga muncul, selain jawaban “O” dibarengi senyum Petrus. Xaverius lalu memberanikan diri bertanya pada Petrus hal ihwal maksud menghampirinya.
“Tidak ada maksud apa-apa, bung,” jawab Petrus. “Sebagai sesama pemancing, ada baiknya kita berbagi cerita bukan? Apalagi dengan jarak yang begitu dekat, tapi tidak saling bertegur sapa, rasanya tidak elok pula, haha-ha,” sambungnya dengan dua kali tawa, terbatuk tiga kali; tawa sekali, terbatuk dua kali. Tawa khas orang renta.
“I-i-iya juga, he-he-he,” jawab Xaverius sedikit gugup dengan tawa tipis agar terlihat ramah.
“Kalau boleh tahu, bung tinggal di mana?” tanya Petrus setelah mengeluarkan asap dari mulutnya.
“Di Sunter bung. Tidak jauh dari sini, kok,” balas Xaverius makin ramah. “Bung sendiri dari mana?” tanyanya pula.
“Saya dari Medan bung,” jawabnya. Sebelum keriput kening Xaverius membentuk angka sebelas, Petrus melanjutkan jawaban: “Di sini, saya tinggal di Kebon Bawang, bersama anak. Niat awalnya ingin menjenguk cucu, eh kerasan. Sampai akhirnya malas kembali ke Medan.”
“Oh begitu toh.”
Baru sekejap duduk bersama, di ujung teluk tiba-tiba awan hitam pekat terlihat berbondong. Angin terasa semakin kencang. Perlahan sinar bulan didesak segera padam. Petrus yang awalnya duduk mencangkung— seperti orang yang sudah khatam mengidap ambeien—lintang pukang menuju tempat semula ia meletakkan joran. Begitu pula Xaverius, meski tidak selintang pukang Petrus, nyatanya ia juga panik.
Sebelum kepanikan mereka selesai, hujan telah datang membombardir pelabuhan terpadat di negeri ini. Dengan lutut yang perlahan menggigil tak karuan, kedua teman yang baru bersua itu terus berlari mencari tempat berteduh. Kebetulan, tak jauh dari tempat mereka mengail, ada sebuah gubuk tua tak berpenghuni. Di sanalah mereka menepi.
Di gubuk sunyi itu, gemeretak gigi yang telah kacau susunannya terdengar kian kencang dari mulut Xaverius dan Petrus. Untuk menghangatkan suasana, Petrus menyodorkan rokoknya pada Xaverius yang kali ini dengan sigap menyambar dan mengisap rokok murahan itu.
“Alhamdulillah,” kata Xaverius, “Makasih ya, bung. Sudah hampir lima jam bibirku tak merasakan tembakau. Berkat bertemu denganmu, aku bisa lagi merasakannya,” lanjut Xaverius sambil memandangi lampulampu kapal di tengah pelabuhan yang masih bersinar.
Bukan main terkejut Petrus. Sebab kawan barunya itu mengucap Alhamdulillah amat fasihnya, tapi rasa kaget itu berusaha ia tahan. “Ngomong-ngomong, kampungmu di mana bung?” Tanya Petrus hati-hati.
“Sudah lama tergadai bung,” jawab Xaverius santai.
“Tergadai bagaimana? Tadi kau mengucap hamdalah. Apa aku tak salah dengar?” tanya Petrus lebih hati-hati.
“Tergadai oleh apa saja. Apa berdosa mengucap hamdalah? Aku Islam,” jawab Xaverius santai.
Beberapa lama mereka berdua diam, mematung menunggu rintik hujan berhenti. Dalam diam itu, Petrus dihantui rasa penasaran. Ada yang ingin ia tanyakan pada Xaverius, tapi takut jika pertanyaan itu salah jika diajukan, dan rahasia besarnya selama ini malah akan terbongkar. Apalagi di depan orang yang baru ia kenali. Namun, akhirnya ia beranikan juga untuk bertanya.
“Ha-ha, bukan masalah itu, bung. Aku hanya penasaran, dari mana orang tuamu mendapat ilham sampai-sampai memberimu nama Xaverius.”
Xaverius mengalihkan pandang pada Petrus. Menatap mata sayu kawan barunya dengan curiga. Dalam hati ia ingin meninggalkan gubuk itu dan lekas sampai di rumah, tapi kakinya berat untuk pergi bukan karena hujan saja, tapi juga karena dalam mata Petrus tidak terlihat niatan jahat sama sekali.
“Kau orang Medan, bukan?” tanya Xaverius pada Petrus, yang masih penasaran menunggu jawaban.
“I-i-i-i-iya,” jawab Petrus tergagap.
“Baiklah. Karena kau orang Sumatera, aku pilih percaya padamu,” kata Xaverius, “Aku juga orang Sumatera, orang Minangkabau.”
“Tahun berapa kau lahir, bung?”
“1954.”
Dugaan Petrus tentang kejanggalan Xaverius yang membuat ia penasaran hampir menemui titik terang. Tinggal sedikit congkelan lagi, rahasia terbesarnya akan terbongkar. “Aku yakin nama aslimu bukan Xaverius, bung?” tanya Petrus lagi, kali ini tanpa hati-hati.
“Ha-ha-ha, sialan. Jangan sok tahu kamu bung!” kilah Xaverius yang kini berbalik hati-hati.
“Sudahlah, bung. Tidak ada orang Minang pada tahun 1954 memberi anaknya dengan nama Xaverius,” desak Petrus.
Karena terdesak oleh pertanyaan Petrus, Xaverius pun tersudut. “Ya, begitulah bung. Orang tuaku korban PRRI. Terpaksa berkirap dari kampung halaman. Kami sekeluarga lalu mengganti nama yang mula-mula khas Minang menjadi kebarat-baratan atau kejawa-jawaan. Nama asliku Dani Safri. Xaverius samaran dari Safri. Sudah puas kau?” jawab Dani Safri alias Xaverius.
“Ha-ha-ha, salam kenal bung. Aku Minang tulen juga. Kampungku di Padang Panjang, juga korban PRRI. Nama asliku Haldi Ramadhan Putra. Petrus samaran dari Putra. Maaf sudah membohongimu,” kata Petrus.
Terkejut bukan kepalang pula Xaverius mendengar penjelasan Petrus, yang ternyata senasib pula dengannya. Sambil memegang dagu yang keriput dan ditumbuhi jenggot jarang-jarang, Xaverius berucap dengan gaya bijaksana: “Aku mengerti sekali, bung, mengapa kau sampai bersikap demikian. Orang buangan seperti kita memang harus sangat waspada. Bukankah karena itu kita terpaksa membuang nama, suku, dan kampung halaman kita?”
“Ha-ha-ha..” tawa sekali, batuk dua kali, tawa dua kali, batuk empat kali, semua pecah dari mulut Xaverius alias Safri dan Petrus alias Putra. Hampir satu jam mereka berteduh, sambil bercerita banyak hal tentang serangan tentara pusat, dan proses mereka lari meninggalkan kampung tercinta pada tahun huru-hara itu.
Bulan yang sebelumnya harus mengalah—sebagaimana mengalahnya banyak orang Minangkabau pada keadaan pascaretaknya hubungan daerah dan pusat pada 1958 di Sumatera Bagian Tengah—perlahan mulai menampakkan sinar. Hujan berangsur-angsur reda. Dengan seiya-sekata, mereka mengemasi barang-barang sebelum berjabat tangan erat dan cukup lama. Sebelum bercerai, kedua kawan baru itu memutuskan untuk tak bersua rupa hingga celak pada mereka yang terlibat dalam kemelut PRRI dipulihkan kembali oleh negara.(*)