Puisi-puisi Ilhamdi Putra (Koran Tempo, 25-26 Juli 2020)
Bandung, Wieteke
Ketahuilah, Wieteke, di sini
Tuhan memahat waktu pada pinggang gunung
kota dibentuk dengan permainan air deras
dari angin lembap dan runtuhan batu cadas.
Kami tahu angin pengirim demam dingin
maka kami sisihkan bayangan hari buruk
kami sisihkan pula ketakutan tukak tergaruk.
Tapi kami tidak paham alur dan patut
lembap yang memberat, ataukah lindap
yang menjadikan mata angin berkarat.
Maka kami sematkan setangan kain lusuh
ke dada, ke dalam lengkung tulangnya
kami lipat jantung hati sekalian talinya
namun yang terbuhul semakin membuntal.
Sudah kami pepat semak dari lereng ke lurah
kami taklukkan darah hitam dan angin merah
tapi dingin adalah lading berkarat pada mata
bukan membelah, lebam yang ditinggalkannya.
Sebab Bandung membuat orang-orang terus memanggil
lewat sambungan jarak jauh, bertanya perihal kabar
mengaitkan yang tak pernah benar-benar terpaut
“lecut aku, Adik, tepat pada bandar punggung
agar aku ingat sudah berapa musim
kesepian tidak pernah genap dihitung.”
2020
Merawi
Sudah kubenam doa buruk itu dalam-dalam
dari lubang kunci di mana gerigi tidak menyangkut lagi
ke bawah retakan lantai, hingga dasar muara berair hitam
tapi pengaminan kadung diucap hingga selesai.
Maka ke jantung kota ini aku mencari
ke pati santan tempat letupan bergelintin kemudian menghitam
ke muka laut dengan gelombang tak terbujuk pula aku mengadu
di mana benar tempat doa-doa buruk itu tersangkut begitu tinggi.
Aku ingin kembali pada rinai tak seberapa
menggurat di hadapan laut jinak gelombang
menyanduk sambal cabai uap kelewat masin
memandang pagi dari landung tali jemuran.
Tapi di sini benar pengharapan hitam itu kami sungkah
ditentang yang sama bilamana tumit bertolak pergi
getar punggung masih ingin rinai tanggung semusim lagi.
2020