Mbak Jamu

Cerpen Dede Yetty Suminar (Pontianak Post, 26 Juli 2020)

Mbak Jamu ilustrasi Pontianak Post (1)
Mbak Jamu ilustrasi Pontianak Post

PEREMPUAN itu masih di sana. Berjalan berlenggak lenggok dengan senyum menebar pada setiap orang yang dilewatinya. Bibir seranum mawar menghias wajah ovalnya yang sedap dipandang. Kain jarit selutut dan kebaya hijau sederhana diikat di pinggang, semakin membuat tubuhnya terlihat menawan. Seolah tidak keberatan dengan bakul berisi jamu di gendongan, kaki putihnya melangkah dengan ringan.

Kemarin pertama kali kulihat dia setelah sekian lama. Jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Tawanya begitu semringah di antara bapak-bapak penghuni komplek yang sedang bercanda entah apa. Dia sedang berlutut, tangannya begitu cekatan meramu jamu dan memberikannya dengan gemulai. Gerakannya masih sama seperti dulu, begitu anggun tanpa terlihat di buat-buat.

“Jamunya, Mas… jamunya, Mbak!” serunya dengan merdu.

***

Sudah seminggu dia wara-wiri di kompleks ini. Utari namanya. Dia tidak tahu bahwa setiap pagi harus mendengar suaranya dari dalam rumah, sudah membuat jantung kebat-kebit. Aku harus berusaha menghindarinya. Bagaimanapun kisah masa lalu kami tidak perlu terungkit lagi. Bertemu setelah sekian lama hanya akan membuka luka lama.

“Oh, ini toh rumahnya Mas Yoga?” tiba-tiba terdengar suara perempuan yang renyah di teras. Tidak lama kemudian terdengar derai tawa perempuan itu dan … Mas Yoga. Aku yang baru keluar dari kamar mandi jadi penasaran. Masih memegang handuk sambil mengeringkan rambut, bergegas ke ruang tamu, mengintip dari balik gorden.

Utari bersimpuh di lantai. Betis putihnya terlipat dengan rapi. Berkebaya merah hati, kulitnya nampak berseri. Dia sibuk menyeduh jamu sehat lelaki, pesanan Mas Yoga. Senyumnya tak henti merekah. Kuperhatikan Mas Yoga yang duduk di kursi teras, tak henti juga memandang parasnya.

Aku tidak tahan ingin segera keluar, menghentikan adegan yang membuat hati terasa dihujani ribuan panah. Tapi akal sehatku masih bekerja. Bagaimana jika dia membocorkan rahasia, mengungkap sesuatu yang kusembunyikan lama? Sudahlah, aku harus bisa menganggapnya biasa. Mungkin Mas Yoga hanya suka dengan jamu buatannya. Toh yang dibelinya jamu sehat lelaki, tentu saja itu untuk menyenangkan aku, istrinya.

***

Ini sudah kali ketiga Utari singgah di rumah. Mas Yoga pun sepertinya menanti saat-saat datangnya Utari. Berkali dia longokkan kepalanya keluar dan bilang, “Kok belum datang ya, Mbak jamunya?”

Duuuh. Bahkan Mas Yoga memanggilnya ‘Mbak jamu’ bukan ‘Mbok jamu’. Ini tidak bisa dibiarkan. Hatiku mulai panas.

“Enak ya, Mas … jamunya?” tanyaku semanis mungkin, menyembunyikan perasaan yang mulai tidak nyaman.

“Enak, dong,” kata Mas Yoga cepat. “Baru kali ini aku ketemu jamu yang rasanya cocok di lidah,” tambahnya lagi sambil matanya tetap melihat sesekali keluar pagar.

“Jamunya Maas … jamunya Mbaak ….” Suara yang dinanti Mas Yoga akhirnya terdengar. Setengah berlari Mas Yoga memburu ke arah pagar dan membuka pintu untuk Utari. Sambil tersenyum manis Utari berlenggang menuju teras. Diletakkannya bakul gendong berisi jamu di lantai. Dia bersimpuh di sampingnya dan mulai sibuk menyiapkan termos serta jamu-jamunya.

“Jamunya seperti biasa ya, Mas?” tanyanya. “Jamu sehat lelaki yang membuat Mas semakin perkasa,” kataya lagi dengan nada suara yang menggoda. Kelopak matanya mengerjap indah membuat barisan bulu matanya yang lentik seolah melambai pada Mas Yoga.

Mas Yoga mengangguk. Pandangannya tak lepas dari gemulai gerak-gerik Utari yang membuatnya terpesona. Apalagi saat ini rambut Utari yang dicepol tinggi, menampilkan leher putih jenjang dengan anak-anak rambut yang menjuntai tertiup angin, sungguh membuatnya tak bisa memalingkan wajah.

“Mas Yoga kenapa lihat-lihat saya?” suara Utari yang manja sepertinya mengejutkan Mas Yoga. Gelas jamu yang disodorkan sedari tadi belum disambut olehnya.

“Kamu cantik hari ini,” Mas Yoga menjawab setengah berbisik.

Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Aku yang menyaksikan adegan demi adegan seperti drama Korea dari balik gorden, akhirnya tidak tahan. Kemarahanku sudah sampai ubun-ubun. Enak saja dia mau menggoda suamiku. Maaf, ya.

Bergegas aku membuka pintu. Mas Yoga dan Utari menoleh padaku dengan ekspresi yang sukar dilukiskan. Aku berlagak tenang.

“Mas, sudah minum jamunya?” kataku dengan nada yang sedikit ditekan agar Mas Yoga mengerti kerisauanku.

“I…iya, ini sedang mau Mas habiskan,” tergeragap dia. Mungkin merasa tertangkap basah mengagumi wanita lain.

“Mas Yoga suami Mbak Retno, ya?” tiba-tiba suara merdu Utari memecah kekakuan.

“Iya, kamu kenal istriku?” tanya Mas Yoga. Ekspresinya terlihat heran.

Alih-alih menjawab, Utari hanya memandangku penuh arti. “Selamat berjumpa lagi, Mbak Retno. Apa kabarnya? Mbak dapat salam lho dari bapak-bapak langganan Mbak. Mereka bilang kangen sama jamu dan cubitan mesra Mbak.” Sampai di sini Utari terkekeh geli seolah itu hal yang sangat lucu baginya. Tidak dipedulikannya mukaku yang mungkin sudah berubah pias sekarang.

“Mbak ndak jualan jamu lagi ya, sekarang?” tanpa dosa Utari menambahkan kalimatnya. Dia sepertinya menikmati betul detik-detik perubahan ekspresi wajahku.

Utari mengemasi bakul jamu dan menggendongnya di punggung. Seperti biasa gerakannya anggun dan luwes sekali. Itu yang dulu membuatnya populer di kalangan pelanggan dan sering membuatku iri padanya.

“Aku tak pamit dulu ya, Mas Yoga. Besok atau lusa tak mampir lagi,” kata Utari sedikit mesra. Dia mulai melangkah meninggalkan teras. Namun, tiba-tiba berhenti seperti ingat sesuatu. Badannya berbalik dan menatapku lurus.

“Oh, iya. Mbak ingat Mas Irwan, kan? Katanya dia tidak bisa melupakan Mbak lho dan peristiwa indah malam itu. Dia titip salam buat Mbak. Maaf ya, Mbak. Aku hanya menyampaikan amanah saja.”

Aku tercengang. Jantungku berpacu semakin kencang. Tiba-tiba kulihat sekilas senyum kemenangan di bibir ranum Utari, sesaat sebelum dia berbalik dan melenggang pergi dengan anggun.

Ya, Tuhan. Aku dulu memang pernah merebut Irwan—pacar Utari—dengan menggoda dan menjebaknya. Malam itu rumah juragan jamu memang sedang sepi. Utari dan beberapa teman penjual jamu sedang pulang kampung. Rasa iri pada Utari yang populer membuatku ingin merebut Irwan yang memang ganteng dan terlihat berduit saat itu. Ternyata sangat mudah menggoda dan menjebak Irwan yang masih polos. Malam itu ia jatuh ke pelukanku. Tentu saja Utari marah besar saat tahu peristiwa itu. Persahabatan kami berakhir dengan tragis.

Tapi, apa itu berarti Utari ingin balas dendam? Apa dia sengaja ingin menggoda Mas Yoga dan menghancurkan rumah tanggaku sekarang? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalaku.

“Jadi, kamu mantan Mbok Jamu ya, Ma?” Hampir saja aku terlonjak kaget. Aku lupa kalau Mas Yoga masih di sini sedari tadi.

“Berapa banyak lelaki yang kamu goda, Ma? Siapa Irwan? Jawab!” suara Mas Yoga terdengar menggelegar. Wajahnya memerah, dia sangat marah. Kini hatiku benar-benar menciut. Ternyata masa lalu tidak pernah benar-benar menghilang. Dia tetap akan datang menuntut pertanggungjawaban kemudian. Sebaik-baik menyimpan keburukan di masa lalu, tetap akan terbongkar jua. Aku benar-benar merasa dunia akan berakhir saat ini. Tapi bagaimanapun juga, aku harus bertanggung jawab. Harus. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia