Tamu Lebah

Cerpen Risda Nur Widia (Haluan, 26 Juli 2020)

Tamu Lebah ilustrasi Istimewa (1)
Tamu Lebah ilustrasi Istimewa

SARANG lebah tiba-tiba menempel di atap belakang rumah baruku. Padahal dua hari lalu, sarang itu belum ada. Hari ini, saat aku dan istri memindahkan barang-barang dari kontrakan ke rumah kami, lebah-lebah itu sudah mengerubungi. Aku dan istri tentu merasa takut. Kami khawatir kalau lebah-lebah itu menyerang. Belum lagi, ukurannya besar sehingga pasti sangat mengganggu.

Mengetahui bahaya di rumah, aku dan istri langsung berunding. Kami serius membicarakan tindakan apa yang akan diambil. Istriku mendesak agar masalah sarang lebah itu lekas disingkirkan.

“Besok pagi saja kita urus,” jelasku.

“Tapi aku takut, mas,” istriku khawatir.

“Hari ini tenaga kita gunakan untuk menata barang-barang dulu,” tambahku.

Istriku manggut tidak puas. Sialnya, keputusan yang aku ambil salah. Siang harinya, sarang lebah itu semakin besar menggumpal. Lebah-lebah itu seolah memanggil kawan-kawannya untuk berkumpul. Selain itu, tingkah para lebah itu seakan ingin merebut rumah kami.

“Kok malah makin banyak?” Tanya istriku.

“Benar,” jawabku. “Padahal di sekitaran sini tak ada hutan. Sore nanti aku akan urus sarang lebah itu.”

Sekali lagi istriku mengangguk. Dan seperti pagi tadi, istriku tampak menyimpan air muka risau dengan gagasanku itu.

***

Sorenya setelah kami beres menata ruang tengah, aku segera mengurus sarang lebah itu. Saat aku melihatnya, gundukan sarang itu semakin besar. Bila siang tadi seukuran dua kepalan tangan pria dewasa, sore ini sudah seukuran kepala orang dewasa. Lebah-lebah itu berdengung nyaring. Aku merasa kalau mereka sedang memberikan peringatan padaku.

Aku tidak mau jadi korban sengatan mereka, batinku. Tiba-tiba, aku ingat, dahulu waktu kecil, aku punya tetangga yang meninggal karena diserang lebah liar. Tetanggaku saat itu tengah berusaha mengusir lebah yang sarangnya sudah serukuran buah nangka. Kekuranghati-hatian tetanggaku membuat dirinya diserang ribuan lebah hingga mati.

“Kamu jangan main-main dengan sarang lebah,” ingat ibuku setelah kejadian itu. “Pak Toyib meninggal karena diserang ribuan lebah. Tubuhnya merah dan bengkak.”

Setelah peristiwa mengerikan pada Pak Toyib, ibu dan ayah melarangku kelayapan ke kebun. Hal yang sama pun dialami teman-teman sebayaku. Orang tua mereka takut kalau anak-anak mereka diserang lebah-lebah liar.

Peristiwa masa lalu itu membuatku ragu untuk mengusik sarang lebah di rumah baru kami. Aku takut kalau lebah yang jumlahnya ratusan itu akan menyerangku hingga tewas. Namun, aku tidak punya pilihan. Jika terus membiarkannya, sarang akan makin besar.

“Sebelum lebah-lebah itu menguasai rumah baruku,” pitamku. “Aku harus mengusirnya.”

Akhirnya, aku mengambil keputusan untuk merusak sarang lebah itu. Aku berpikir, jika sarang itu dirusak, lebah-lebah itu pasti pergi.

Aku menjalankan niatku dengan menutup semua pintu dan ventilasi rumah. Setelah semuanya beres, aku mengambil tongkat bambu yang cukup panjang. Aku berusaha mengambil jarak dari lebah-lebah itu. Lalu,—dengan gerakan tangkas—aku mengayunkan tongkat bambu dengan sekali pukulan. Keras. Aku pun berhasil merusaknya. Sarang lantas terjatuh.

Lebah-lebah penghuni sarang itu cepat membuyar. Aku sendiri sempat terlena melihat sarang lebah itu mengelinding ke tanah—hingga para lebah itu sadar bahwa semua itu adalah perbuatanku. Mereka pun segera menyerangku. Aku lari sekencang mungkin ke dalam rumah.

***

Sepanjang malam, pintu dan ventilasi rumah tetap tertutup. Sesekali, aku melirik dari balik jendela sebagian lebah yang tak juga pergi hingga malam menjelang. Lebah-lebah itu terus berkerumun di sarangnya yang sudah rusak. Aku bahkan merasa kalau hewan-hewan penyengat itu sedang mengerubungi dan mendaratkan sengatnya di tubuhku.

Membanyangkan hal itu, membuat tubuhku yang sore tadi disengat lebah menjadi ngilu. Aku akhirnya memilih beristirahat menyusul istriku.

“Badanmu tidak apa-apa kan?” Tanya istriku.

“Aku baik-baik saja kok.”

“Aku kok takut ya, kalau lebah itu tak langsung pergi.”

“Tenang saja,” balasku tersenyum. “Besok pagi pasti sudah tidak ada.”

Istriku hanya diam. Aku menyuruhnya agar tidur. Namun, mendadak, aku juga khawatir. Bagaimana kalau lebah-lebah itu masih di sana? Sepanjang malam, pikiranku terus berkelindan. Aku tidak bisa tidur.

***

Kepalaku pusing karena tidak bisa tidur. Semakin berat saat melihat lebah-lebah itu belum juga pergi hingga pagi. Mereka bahkan tampak membuat rumah baru yang lebih besar dari hari kemarin.

“Lebahnya kok belum pergi?” Tanya istriku.

“Aku juga tidak tahu,” balasku bingung. “Nanti aku coba usir lagi.”

“Jangan,” cegah istriku. “Mending suruh orang lain.”

Kami memandang kerumunan lebah itu. Aku tidak bisa merusak dua kali sarang lebah itu, karena pasti mereka sudah menandai diriku, batinku.

Siangnya, aku menyuruh seorang warga untuk mengusir para lebah. Pria yang kusuruh itu tampak terampil mengurus lebah. Ia menggunakan beberapa benda khusus untuk membuat para lebah lumpuh—misalnya ontel yang dibakar, sehingga menghasilkan asap yang sangat bau. Selain itu, ia juga menyumpal lubang telinganya serta menggunakan masker, dan kaca mata.

Pelan-pelan ia menjalankan tugasnya. Lebah-lebah itu membuyar saat pria itu mendekat. Aku pun tersenyum melihat pekerjaan pria itu hampir berhasil. Namun, semua kebahagian buyar saat para lebah itu serentak menyerang si pria, yang kemudian menjerit-jerit sakit karena disengat ramai-ramai oleh para lebah.

“Ampun! Tolong! Ampun!” Teriak pria itu.

Pria itu berlari sekencang mungkin meninggalkan sarang lebah. Melihatnya, aku hanya bisa menelan ludah. Aku tak berani menolong.

***

Aku bingung tindakan apa lagi yang harus diambil untuk mengusir lebah-lebah itu. Aku dan istri akhirnya membiarkan saja untuk sementara. Untuk melampiaskan rasa kesal, aku memilih tidur. Apesnya, di dalam mimpi aku masih berurusan dengan lebah-lebah itu.

Di dalam mimpi, aku nekat merusak lagi sarang lebah itu. Tanpa banyak pikir, aku pukul sarang mereka dengan kayu sekeras mungkin. Para lebah pun lekas buyar terkena seranganku. Namun, kemudian mereka mengejarku.

Aku berlari menghindari sengatan mereka. Namun, sejauh aku berusaha menghindar, satu atau tiga lebah berhasil menyengatku. Aku terus berlari. Sampai akhirnya, langkahku terhenti di gang buntu. Para lebah itu pun mendekat dengan sengatnya. Aku pikir akan mampus seperti Pak Toyib. Namun, di tengah rasa putus asa, seorang pria tua menyela.

“Jangan sakiti pria itu,” katanya lirih. “Biar aku yang bicara.”

Seperti mendengar kata-kata si pria tua, lebah-lebah itu membuyar. Aku hanya meringkuk, mengigil ketakutan.

“Kau baik-baik saja?” kata pria tua.

“Beberapa bagian tubuhku tadi disengat,” jawabku.

“Oh, sebenarnya apa yang kau rasakan itu tak sebanding dengan yang dirasakan lebah,” jawabnya. “Apa kau tidak tahu, lebah yang menyengatmu itu akan mati setelah mengeluarkan sengatnya?”

Aku pernah mendengar kalau para lebah memiliki umur singkat. Lebah sebagian besar menghabiskan masa hidupnya untuk membuat sarang dan mati. Aku juga pernah mendengar, lebah yang menyengat kita, setelah mengeluarkan sengatannya akan mati.

“Ada baiknya kau tidak perlu mengusik mereka. Lebah itu pada hakikatnya hanya ingin membuat sarang secara tenang. Kau seharusnya bersyukur, Tuhan memilih rumahmu sebagai tempat lebah bersarang. Kau seharusnya memperlakukan mereka seperti memperlakukan tamu. Bila kau berlaku demikian, bukan kesialan yang kau dapat, tapi keberuntungan.”

Aku tiba-tiba terbangun dari mimpi yang rasanya begitu nyata. Aku juga lekas menceritakan mimpi itu pada istriku.

***

Aku dan istri akhirnya tak mengusik sarang lebah itu lagi. Mereka juga sama sekali tidak mengusik keluargaku. Anakku yang balita sekali pun belum pernah disengat. Lebah-lebah itu bahkan—secara ajaib—menjadi satpam rumah kami.

Pernah pada satu siang, saat aku dan istri pergi ke sebuah helat pernikahan, seorang maling membobol rumah kami. Maling itu berhasil masuk lewat pintu belakang. Namun, tidak berhasil membawa apa-apa dari rumah. Para lebah itulah yang tampil menyerang maling itu hingga pingsan.

“Lebah-lebah itu akan membunuhku,” jelas si maling saat tertangkap.

Kejadian itu membuatku bingung. Aku tidak tahu bagaimana lebah itu bisa berbuat demikian. Aku bahkan merasa malu, karena pernah berusaha merusak sarang mereka.

“Mungkin apa yang dikatakan pria tua itu benar?” Kataku.

“Betul,” jawab istriku. “Para lebah itu sama sekali belum pernah mengusikku. Lebah itu bahkan pernah melindungi Ayya.”

Istriku menceritakan, pada satu siang rumahnya didatangi anjing liar. Istriku saat itu sedang di kamar mandi. Ayya, anak mereka, baru bisa merangkak, dan itu menarik perhatian anjing liar itu. Namun, seperti menangkap ada gelagat jahat dari si anjing, para lebah pun menahannya. Rengekan si anjing membuat istriku lekas datang, dan melihat anjing itu berlari dikejar lebah.

***

Setelah tujuh bulan di belakang rumah, lebah-lebah itu mendadak hilang. Aku tidak tahu ke mana mereka pergi. Padahal sebelumnya, mereka masih berdengung-dengung. Hanya saja ada sesuatu yang janggal setelah mereka pergi. Persis di bawah sarang, terdapat dua botol kecil berisi madu.

“Madu punya siapa, ya?” Tanya istriku.

Aku menggeleng tidak tahu.

Kepergian mereka membuatku sedih. Bahkan, ketika aku mencoba untuk mencecap madu itu, rasa manis yang lezat membuat air mataku menitik. Aku benar-benar merasa bersalah pernah mengusik mereka. (*)

 

RISDA NUR WIDIA. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya telah tersiar di berbagai media nasional dan lokal.

Arsip Cerpen di Indonesia