Gerendel Itu Tidak Lagi Berbunyi

Cerpen Iin Farliani (Medan Pos, 06 September 2020)

Gerendel Itu Tidak Lagi Berbunyi ilustrasi Istimewa
                  Gerendel Itu Tidak Lagi Berbunyi ilustrasi Istimewa

Aku merapatkan jaketku. Aku sudah bersiap duduk di beranda sambil menenteng senapan. Aku menyalakan rokok dan mengisapnya terburu-buru agar badanku hangat kembali. Di luar, suara gerimis yang ribut sesekali ditingkahi suara angin menggerakkan dedaunan. Ayunan rimbun pohon berhembus ke kanan dan ke kiri yang serta merta mengantar dingin ke tubuhku. Tapi, aku selalu suka malam gerimis bercampur dengan suara angin. Oleh karena, suasana malam yang sedang berlangsung ini selalu mengingatkanku akan suasana di kampung halaman. Aku menatap sendu ke arah tiang jemuran. Beberapa potong baju milikku yang tak sempat diangkat berayun-ayun dan tentu akhirnya basah lagi oleh gerimis.

Aku melirik ke arah senapan yang kusandarkan di kursi sebelah. Senapan ini adalah saksi ketika dulu aku masih suka berburu di hutan. Aku tidak tahu alasan yang pasti mengapa aku selalu membawanya kemana pun aku pergi. Aku hanya perlu sesekali mengokangnya lalu berpura-pura sedang membidik buruan. Pemuda-pemuda di sekitar tempat tinggalku sering melontarkan olok-olok sambil berkata, “Boleh kucoba senapanmu, Pak tua?”

Aku memandang mereka dengan dingin. “Senapanku tidak memiliki peluru,” kataku. Lalu meledaklah tawa mereka.

Aku mencoba mengarahkan senapanku ke pohon mangga yang ada di depan rumah. Senapan ini tidak berisi satu pun peluru. Tapi, aku selalu berpura-pura telah berhasil melumpuhkan buruan. Buruan itu akan terkapar di tanah, menggelepar dengan banyak bercak darah. Saat itu, aku bisa tersenyum puas.

Suara gerendel pintu gerbang berbunyi nyaring ketika aku mencoba lagi mengarahkan senapanku ke pohon mangga. “Seekor burung ada di sana. Tembak!” O! Aku berhasil menembaknya. Tapi, suara gerendel pintu gerbang yang terus berbunyi memecah konsentrasiku. Akhirnya, aku tersadar dari lamunanku yang kekanak-kanakan.

“Kristo! Buka gerbangnya!” teriak suara itu. Suaranya terdengar seperti suara wanita yang sudah kukenal.

“Sialan! Dia lagi!” pekikku.

Aku bersiap menghambur masuk ke dalam. Tapi, terlambat. Gerbang itu sudah terbuka menggaungkan bunyi karat yang sangat menyakitkan telinga. Gerbang itu memang selalu mengeluarkan bunyi yang dapat membuat seseorang akan mudah naik pitam. Sebab, bunyi itu tak hanya terdengar menyakitkan, tetapi juga seakan membuat batinmu tertekan.

“Aku membawakan sup.” Maria berjalan ke beranda dengan satu tangan memegang mangkuk dan satunya lagi memegang tangkai payung.

“Sudah kukatakan tak perlu repot-repot!”

“Aku tahu kau pasti belum makan malam.” Maria meletakkan payungnya di beranda. Tetes-tetes hujan dari payung mengalir ke bawah membentuk genangan di ubin.

Aku sudah dapat menebak apa yang dikatakan Maria setiap kali ia membawakan sesuatu sehingga aku menolaknya. Tapi, ia tetap saja meletakkan sup itu di atas meja. Kepulan uap naik dari mangkuk. Tentu sup itu masih hangat. Bagaimana pun juga sup itu terlihat menggiurkan dan tentu akan nikmat sekali jika menyuapnya sesendok demi sesendok di malam yang bergerimis ini.

“Aku sudah kenyang. Kau pulang dan bawa sup itu kembali!” Ketika menyebut kata “sup”, terasa lidahku menjadi berat. Sudah kukatakan tadi, biar bagaimana pun sup itu terlihat enak.

Maria menatapku dengan serius. “Kau harus makan. Kau harus peduli dengan kesehatanmu. Kau sudah tua. Lagi pula…”

“Omong kosong!” potongku cepat. “Jangan kau katakan lagi kepedulianmu yang palsu itu, Maria!”

Tiba-tiba Maria terisak. Ia menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya menjadi lemas lalu ia bersandar di kursi. “Kau harus memperingatkannya. Aku sudah bosan mengatakannya sendiri. Dia tidak pernah mendengarku. Dia masih menelepon gadis itu. Dia sepertinya tidak akan bisa lepas dari gadis itu. Rasanya lebih baik aku mati saja kalau terus seperti ini. Tolonglah aku, Kristo. Kau kawannya. Topan pernah bercerita padaku, kau kawannya yang baik. Dia pasti mau mendengarkanmu.”

Aku selalu benci mendengar kata “kawan”. Topan bukan kawanku dan sejak dulu aku tidak pernah menganggapnya sebagai kawan. Aku ingin sekali mengatakan pada Maria bahwa aku sama sekali tidak peduli dengan perkara yang menimpanya. Entah mengapa, Maria seakan perlu bergayut di lenganku dan mempercayakan padaku untuk menyisingkan lengan membereskan segala perkaranya. Barangkali ini bermula sejak aku menduda, ditinggal mati istriku. Maria mulai suka mengantar makanan ke rumahku. Maria berpikir aku sudah terlalu tua untuk mengurus diriku sendiri hingga ia sering bertanya, “Apa kau memasak hari ini?” Kunjungan awal-awal berlangsung biasa-biasa saja. Maria mengantar sayur asam, sepiring ikan asin goreng yang ditaburi sambal, sayur kacang hitam, nasi kuning telur, sayur labu, martabak dan sebungkus acar, dan berbagai jenis makanan yang sering ia sebut sebagai “panganan berlebihan”. Ia mengatakan ia selalu memasak dalam jumlah banyak sehingga ia merasa perlu untuk membagi masakannya dengan para tetangga. Tapi, meski ia mengatakan turut pula membagi masakannya dengan yang lain, aku tahu tak ada tetangga yang turut mencicipi masakannya selain diriku.

Maria menunjukkan simpatinya dengan bertanya apa aku tidak takut tinggal sendirian di rumah besar yang dikelilingi halaman luas. Aku menggeleng cepat sambil menunjuk senapanku. “Tidak akan ada yang berani,” kataku meyakinkan. Kemudian, Maria mengingatkanku betapa perlu aku sesekali berkunjung ke rumahnya dan bercakap-cakap bersama Topan, suaminya. Aku selalu menolak. Lalu, Maria akan terisak-isak memberitahu bahwa lagi-lagi Topan berulah. Topan menelepon “gadis” itu, katanya. Gadis yang tak lain mahasiswanya sendiri. Maria mendengar Topan menyebut kata “cinta”, “kepedihan”, “rindu yang tak terbendung” diiringi suara batuk yang sesekali memecah keheningan di ruangan tempat Topan menelepon si gadis. Maria memintaku untuk memberitahu Topan. Tak sepatutnya Topan menunjukkan kelakuan seperti itu. Dia seharusnya sadar dengan keadaannya saat ini. Apa ia tidak malu? Aku pun menjawabnya, “Mengapa kau tidak menembak saja kepalanya?”

Sesaat kemudian, aku terkejut dengan ucapanku sendiri. Aku melihat Maria yang masih tersedu-sedu. Sekonyong-konyong ingatanku kembali pada peristiwa puluhan tahun lalu. Aku mendengar Topan berteriak, “Kau menembak kepalanya!” Topan berlari ke arah Nensi, istriku yang jatuh di tanah. Aku tidak percaya dengan penglihatanku. Seluruh tubuhku mendadak menggigil. Semua berlangsung begitu cepat. Aku hanya mengingat sesaat sebelum penembakan itu terjadi, kami bertiga berjalan menyusuri hutan. Kakiku tersangkut rumput. Tiba-tiba terdengar letusan yang memekakkan telinga dari jarak yang amat dekat. Dua senapan laras panjang tergeletak begitu saja di hadapanku. Topan menjelaskan pada polisi bahwa letusan itu berasal dari senapan yang kubawa. Senapan yang kubawa itulah yang saat itu berada dalam posisi tembak.

Aku membela diri. Aku mengatakan senapan itu milik Topan. Aku dan Nensi hanya menerima tawarannya untuk berburu rusa di hutan. Aku sama sekali tidak tahu perihal senjata dan berburu. Tapi, pembelaanku sia-sia.

Aku menceritakan semuanya pada Maria. Ia tercengang dan tidak percaya. “Bahkan, Topan tidak pernah bercerita padaku,” katanya. Aku menatapnya yang sedang tercenung. Ia menunjukkan wajah yang mengesankan sebuah beban telah ditimpakan lagi padanya.

Sejak saat itu, Maria tidak datang lagi mengantar makanan. Tetangga-tetangga bertanya mengapa Maria tidak pernah kelihatan lagi. Mereka bertanya padaku sambil menahan tawa. Aku tahu arti tawa mereka. Orang-orang percaya Maria telah berbuat serong denganku. Aku semakin benci melihat orang-orang. Ini membuatku memiliki alasan untuk tidak sering keluar rumah dan berdiam diri saja di beranda. Aku melihat ke arah gerbang. Gerendel itu tidak lagi berbunyi. Aku mengokang senapanku dan mengarahkannya ke arah gerbang. Aku berpura-pura seakan gerbang itu terbuka dan melihat Topan masuk ke dalam. Aku bersiap akan menembak kepalanya. Telunjukku menarik picu dan sesaat kemudian terdengarlah suara letusan yang memekakkan telinga.

 

(Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019)

Arsip Cerpen di Indonesia