Menantu Idaman Ayah

Cerpen Annisa Safitri (Medan Pos, 06 September 2020)

                            Menantu Idaman Ayah ilustrasi Istimewa

Angin menggelitik tubuhku kala memandangi bulan yang bersembunyi di balik awan tebal. Purnama hanya mengintip, tak seperti biasanya yang menerangi jagad raya di malam hari.

“Ayah perhatikan, belakangan ini sibuk sekali. Sedang banyak kerjaan di kantor?” Tanya Ayah sembari meletakkan secangkir teh pada meja yang terpampang di depan teras.

“Iya, Ayah, biasalah awal bulan.” Jawabku singkat. Setiap awal bulan aku selalu disibukkan dengan setumpuk pekerjaan di kantor.

“Sesekali pergilah liburan. Apa tidak capek kerja terus?” titah Ayah.

“Ketimbang pergi liburan, lebih baik Astari tidur seharian di rumah.” Jawabku seraya mengalihkan pandangan ke arah Ayah. Aku lebih senang menghabiskan waktu libur untuk berdiam diri di rumah. Mengistirahatkan pikiran dari angka-angka, lantas memanjakan diri dengan rebahan, sesimpel itu.

“Sudah ada calon menantu untuk Ayah?” Tanya Ayah seberes menyeruput teh.

Suasana makin hening ketika Ayah melempar pertanyaan itu padaku. Ah, aku paling tidak suka untuk membahas persoalan ini. Walaupun aku sadar, usiaku tak bisa dikategorikan belia lagi.

“Untuk saat ini, Astari ingin fokus menggapai mimpi-mimpi, Yah. Astari ingin berkarir dan menikmati masa muda. Kalau sudah ada yang cocok dan waktunya sudah pas, pasti Astari akan beri Ayah menantu.” Tuturku.

Bagiku menikah bukan soal cepat atau lambat. Melainkan adanya kesiapan yang timbul dari dalam diri. Kupikir, aku belum siap untuk melangkah ke jenjang itu. Sudah kubayangkan jika aku menikah nanti, mengurus suami dan membesarkan anak. Belum lagi urusan membereskan rumah yang berantakan karena anak dan urusan dapur untuk mengisi perut. Sungguh merepotkan. Jangankan memberi Ayah menantu, sekadar menghibur diri sendiri pun aku tidak sempat, pikirku. Tekanan yang selalu ku terima dari Bu Tri membuatku terus-terusan memijat dahi. Bu Tri adalah supervisor yang super nyinyir di kantor.

Malam menyergap. Aku dan Ayah beranjak dari teras. Ayah menuju dapur untuk menyimpan cangkir, sementara aku bergegas masuk ke kamar. Aku harus tidur di awal waktu agar besok pagi tidak terlambat sampai ke kantor. Aku tak ingin mendengar Bu Tri meraung pagi-pagi. Angin bersiul kencang dari pentilasi udara membuat mataku layu. Tak lupa pula mengaktifkan alarm dengan notif lagu Nisa Sabyan kesukaanku.

Fajar tiba. Suara alarm membangunkanku. Bergegas mengambil wudhu lalu sembahyang subuh. Aroma masakan Ibu mulai tercium dari arah dapur. Setiap pagi, Ibu selalu membuatkan sarapan untukku. Ibu paling jago memasak nasi goreng yang menjadi menu andalan setiap pagi. Seberes sarapan, aku pamit kepada Ayah dan Ibu untuk pergi bekerja. Tak lupa pula kucium punggung tangan keduanya.

Setibanya di kantor, aku langsung membuka laptop. Sadarku beranjak pada lamunan, terngiang akan pertanyaan yang Ayah lontarkan untukku malam tadi.

“Jika Ayah ngebet minta diberi menantu bagaimana, ya?” Hati bertanya pada hati. Karena disibukkan dengan pekerjaan, sampai-sampai aku lupa caranya bergaul. Rutinitasku hanya urusan kantor dan melenyapkan waktu di rumah. Tiba-tiba suara Bu Tri menghalau lamunanku. Aku berlekas-lekas menyibukkan diri agar tidak kena sembur nyinyiran wanita paruh baya itu.

Sore hari mendarat begitu cepat. Aku harus bersicepat menuju halte untuk menunggu angkot. Langit tampak gelap bak jelaga. Gerimis lambat-lambat menghilir. Angkot berlabuh. Aku bergegas masuk ke dalamnya. Pandanganku terpaku pada kaca jendela yang diketuk oleh air hujan. Terlihat samar-samar dua insan yang sedang berteduh di pinggir jalan. Si wanita memeluk tubuhnya sebab kedinginan, sementara sang lelaki menyelimuti tubuh wanita itu dengan jaketnya. Panorama romantis yang membuat diri ini keki.

Aku tiba di depan rumah serentak dengan kumandang azan maghrib. Pakaian yang lembab dan hawa dingin membuatku menggigil.

“Kamu kehujanan?” Tanya Ibu dengan nada sedikit cemas.

“Iya, Bu. Astari kehujanan saat turun dari angkot.” Jelasku.

Ibu segera mengambilkan handuk lantas memasak air untuk mandi.

Seberes mandi, aku mengarah ke meja makan yang sedari tadi sudah ada Ayah, Ibu dan kedua adikku.

“Mbak, kamu kenal dengan suara azan tadi?” Tanya Gita.

“Enggak tuh. Emang kenapa?” sahutku.

“Itu suara Mas Wawan anaknya Pak Gito, Mbak.”

“Bukannya dia sedang melanjutkan kuliah S2 di Korea?” Tanyaku penasaran.

“Iya, kabarnya Mas Wawan sedang libur kuliah, lantas pulang ke Indonesia, Mbak.”

“Sudah tampan, baik agama dan akhlaknya, berprestasi pula. Itu baru namanya menantu idaman ayah.” Pangkas Ayah.

Pipiku memerah. Aku jadi teringat masa kecil. Mas Wawan adalah teman masa kecilku, walau usiaku lebih muda tiga tahun darinya. Aku ingat sekali Mas Wawan pernah mementung pelan kepalaku dengan pentungan bedug kala aku dan teman sebaya membuat keributan di teras masjid. Di mana kala itu anak-anak gemar berbondong-bondong meramaikan masjid saat matahari akan tenggelam.

Tak hanya itu, Mas Wawan juga pernah memberiku semangat ketika mengikuti ajang perlombaan, “Semangat ya, kamu pasti menang.” Ucapannya bak doa yang ekspres dikabulkan Tuhan. Aku menjuarai perlombaan kala itu. Namun karena semakin tumbuh dewasa, kami menjadi sangat individual. Sampai-sampai seperti tak pernah mengenal satu sama lain jika berpapasan. Wajah Mas Wawan lamat-lamat hilang dari ingatan.

“Mas Wawan mana mungkin tertarik dengan Astari yang hanya lulusan sarjana dari kampus swasta, Yah.” Celetukku.

Mas Wawan selalu jadi kebanggaan orangtua dan keluarganya sejak dulu. Aku dengannya bak langit dan kerak bumi jika disandingkan.

“Sudah-sudah, bukannya makan malah bahas Mas Wawan.” Ujar Ibu.

“Nah, itu baru benar, Bu.” Aku langsung menyerbu santapan yang dihidangkan Ibu. Sudah sedari tadi perutku menggerutu.

“Apa salahnya jika Ayah mendambakan menantu idaman seperti Wawan.” Ucap Ayah sambil menyapu kumisnya yang ditumpahi air minum.

“Tidak ada salahnya, Ayah. Hanya saja Mas Wawan itu terlalu sempurna untuk Astari.” Ujarku.

“Tidak ada manusia yang sempurna, Ri. Kesempurnaan hanya milik sang khalik. Tidak ada salahnya kan, jika Ayah berharap kalian bisa berjodoh. Tentu Ayah sangat senang sekali jika kalian berdua benar-benar berjodoh.”

Ayah semakin menggebu membincangkan menantu idamannya itu. Belum lagi Ayah juga sangat dekat dengan Pak Gito, Ayah Mas Wawan. Mereka sefrekuensi, memiliki kegemaran bola yang sama, juga selera humor yang receh. Tentu saja Ayah semakin antusias untuk menjodohkanku dengan anak Pak Gito. “Sudah-sudah, lebih baik kita berdoa saja untuk kebaikan Astari dan Wawan. Urusan jodoh atau tidak, itu takdir Tuhan.” Pungkas Ibu.

Ayah boleh saja mendambakan menantu idamannya. Perihal jodoh, Tuhanlah yang berhak mengolah. Karena sebaik-baiknya dambaan adalah pilihan-Nya. Sebaik-baiknya rencana adalah rencana-Nya.

 

(Penulis adalah Alumni FKIP UMSU Stambuk 2015)

Arsip Cerpen di Indonesia