Perempuan Penggenggam Foto

Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Tanjungpinang Pos, 12 September 2020)

Perempuan Penggenggam Foto ilustrasi Pur Purwanto - Tanjungpinang Pos (1)
Perempuan Penggenggam Foto ilustrasi Pur Purwanto/Tanjungpinang Pos

JALAN hidup sebagai seorang karyawati perusahaan swasta membuat Marsita seakan kehilangan banyak waktu. Terutama dengan anaknya yang masih berusia dua tahun. Andai saja tidak terlilit hutang dengan bank, mungkin dia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga biasa. Baginya, dengan begitu, bapak dan ibu tidak merasa direpotkan.

Marsita meminjam sejumlah uang di bank pun bukan semata-mata untuk foya-foya, melainkan agar dia dan keluarganya tidak perlu tinggal lagi di rumah kontrakan yang sewaktu-waktu biayanya dinaikkan oleh si pemilik rumah. Dia sudah lelah dipandang sebelah mata oleh orang-orang, apalagi dengan cara sindiran halus semacam itu. Kalau keadaan mendesak, mau tidak mau ya dia akan membayar sejumlah yang sudah ditentukan itu.

Sebelum pindah ke rumah ini, Marsita dan keluarganya tinggal di rumah kecil yang biaya sewanya setahun lima juta rupiah. Rumah tersebut masih jadi satu dengan si pemilik, namanya Mbah Tarlan. Konon dulunya, rumah itu adalah milik TNI. Entah bagaimana caranya, rumah tak bersurat itu bisa ditinggali dengan santai hingga usia Mbah Tarlan mungkin sudah menginjak 80 tahun. Singkat cerita, tibalah masa memperpanjang sewa rumah. Seperti tahun yang sudah-sudah, Marsita dan kedua kakaknya telah menyiapkan dana untuk membayar sewa rumah.

Kesepakatan dilakukan, termasuk rembug ini dan itu. Tangan bapak menggenggam amplop berisikan uang sejumlah lima juta rupiah dengan erat. Kemudian, disodorkanlah amplop itu pada Mbak Rini, salah satu anak Mbah Tarlan. Sementara itu, Marsita mengintip dari balik tabir. Dia ingin tahu pembicaraan bapak dan Mbak Rini seperti apa.

“Mbah minta harganya dinaikkan, Pak Kasan.”

Seketika Marsita meremas tabir yang menjadi sekat itu. Hatinya mendadak seperti dihujani pukulan gandin berkali-kali. Dia tidak kuat dan lebih memilih beringsut, lalu masuk ke dalam kamar. Marsita menatap anaknya yang sedang terlelap, dan mengecup keningnya sesaat.

“Ibu janji, kita bakal pergi dari sini, Nduk.”

Marsita mendekap tubuh anaknya, seiring mata yang sejak tadi tak kuasa menahan tangis. Malam itu karena kelelahan, akhirnya dia tertidur.

Esoknya, Marsita mendengar sendiri dari mulut bapaknya. Ternyata biaya sewa rumah dinaikkan menjadi dua kali lipat. Dalam hati dia sudah tidak heran. Berulang-ulang keluarganya diusir secara halus seperti itu oleh para pemilik rumah kontrakan. Karena sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang menikah dan punya anak, dia dan keluarganya harus hidup nomaden. Berpindah dari rumah satu ke rumah lain. Alasannya hampir semua sama. Tidak dikontrakkan lagi, harga naik, atau yang lebih parah adalah bahan-bahan bangunan sengaja diletakkan di teras rumah. Mau dibangun, kata si pemiliknya.

Marsita memutar otak dengan keras. Jika seandainya dilanjutkan menyewa, akan sangat merugikan. Tapi kalau membeli rumah dengan harga murah, tak bisa secepat membalikkan telapak tangan. Akhirnya dia pun membuka-buka iklan di facebook. Rumah dengan harga murah tapi berukuran cukup besar berhasil didapat. Proses segera dilakukan, termasuk mengurus surat-surat rumah. Semua berjalan dengan lancar, Marsita dan keluarganya bisa bernapas lega. Mereka telah memiliki rumah sendiri, meski Marsita harus melunasi cicilan di bank selama lima tahun.

Tak terasa, empat bulan berlalu. Dalam rentang waktu itu, Marsita kerap diceramahi oleh bapaknya. Soal mengurus anak, rumah tangga, kebersihan rumah, dan lain sebagainya. Semua itu membuat kepala Marsita berdenyut-denyut belakangan ini.

“Seharusnya kamu bersyukur bapak dan ibu masih ada, karena kamu belum bisa hidup mandiri.”

Setelah itu Marsita hanya sanggup mendengarkan bapaknya berceloteh panjang lebar. Sebab percuma jika dia menjelaskan ini itu, bapaknya tetap tidak mau mengalah. Dalam keadaan hati yang payah itulah, Marsita mengunci diri di kamar. Bahkan enggan menyentuh nasi. Keluarganya memilih untuk tidak mengganggunya. Mungkin mereka paham dan bermaksud ingin memberinya waktu untuk sendiri.

Paginya seisi rumah kalang kabut mencari keberadaan Marsita. Tidak mungkin dia sudah berangkat ke kantor, karena setiap hari selalu diantar oleh sang suami. Tiba-tiba mata bapaknya menemukan secarik kertas di atas meja di kamar Marsita. Di situ ternyata Marsita berkata kalau dia ingin mencari ketenangan dan tak perlu dicari. Bersamaan dengan itu, terdengar suara pembawa acara berita televisi menyiarkan. Pembawa acara itu bilang: “Seorang perempuan ditemukan tewas sambil menggenggam sebuah foto. Foto tersebut diduga adalah foto sang ayah.” ***

 

Semarang, Desember 2019-Januari 2020

RENI ASIH WIDIYASTUTI, kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media.

Arsip Cerpen di Indonesia