Cerpen Maya Sandita (Haluan, 13 September 2020)

IBU ANGKATKU, Ummi Hanum. Seorang muslimah penuh senyum. Suaminya, seorang musisi ibu kota tempat aku tinggal saat ini. Aku biasa menyapanya Bapak Taufiq. Aku lebih dulu kenal bapak, sebelum bertemu dengan istrinya yang cantik.
Pertemuanku dengan bapak bermula ketika aku menghadiri sebuah acara musik di tengah kota. Beliau seorang komposer sekaligus penabuh tifa. Aku tertarik untuk berkenalan. Melihat usia yang tak lagi muda dan semangatnya menabuh tifa, membuatku penasaran.
Lewat tengah malam, ketika pentas usai, kususul beliau ke belakang panggung ke balik tenda yang bertirai.
“Assalamu’alaikum, bapak.”
Senyum ramahnya membuat rasa gugup—yang awalnya menggerogoti sekujur tubuhku, wartawan muda ini—lenyap.
Di akhir pekan berita tentang beliau naik di media tempatku bekerja, beliau kukabari dan aku diminta datang ke rumah untuk buka puasa bersama. Di sanalah aku kenal Ummi Hanum dan tiga anaknya.
Ada yang berjalan begitu saja dan tak terasa.
Bapak dan seisi rumah sudah seperti saudara. Lebih tiga tahun lebaran kurayakan bersama Ummi, Bapak, Zayid, Zahra, dan Zaza.
“Sekarang Mbak Laila yang jadi anak pertama, Bang Zayid anak kedua!” celoteh Zaza, si bungsu.
Zayid memburunya ke ruang tamu, hendak menggelitik adik yang cerewet itu.
Dari dapur terdengar suara ummi, “Zayid, Zaza! Jangan lari-lari! Toples kue ummi nanti pecah, belingnya bisa kena kaki!”
Zayid berhenti mengejar, Zaza menjulurkan lidah keluar.
Melihat lebaran yang begini, selalu saja menghadirkan rindu ke kampung halaman. Di mana ibu, ayah, dan adik-adik sudah tiga tahun kutinggalkan. Tiga kali lebaran hanya bisa mendengar suara dan mengucapkan selamat hari raya. Melihat wajah mereka saja tidak bisa. Jaringan internet di sana belum memadai, bahkan 3G sekali pun.
“Lail, ibu dan ayah sudah kamu telfon? Sudah sampaikan salam bapak?”
Aku tersenyum sembari mengiringi bapak yang kemudian duduk di sebelah kiri. “Sudah, pak. Ibu dan bapak bilang sampaikan salam kembali. Dan terima kasih sudah menerima Laila jadi bagian keluarga di sini.”
“Kamu anak baik, Laila. Siapa yang menolak hatinya menambahmu sebagai anggota dalam keluarga? Sudah baik, pintar pula!”
Aku dan bapak tertawa, tapi aku tak merasa sedemikian istimewa. Sebab hanya sekali kutulis berita tentangnya dan kemudian naik di media tempatku bekerja. Tapi ia membalasku dengan kasih sayang tak terhingga ketika kukatakan, “Laila merantau ke sini sendirian, pak.”
Lima bulan setelah lebaran, kontrak kerjaku terselesaikan. Tabungan kurasa juga sudah cukup untuk biaya kuliah S2. Tentu kota perantauan ini mesti kutinggalkan. Pada keluarga angkatku, tentu aku perlu berpamitan.
“Nanti Mbak Laila kembali lagi, kan?” Sedu sedan Zaza tak terbendung. Air mataku juga berserakan.
Ia si bungsu yang paling manja padaku. Apa saja diceritakannya, dan tentu aku jadi pendengar nomor satu. Zahra si nomor dua yang cukup dewasa, masih senyum meski sudah sembab kedua mata—sejak subuh saat ia mengambil wudu. Sedang Zayid, kupikir ia lelaki yang tegar meski dari caranya bernapas kulihat ada rongga yang menyempit. Sesuatu ia tahan dan bicara hanya sedikit. “Hati-hati di jalan, Mbak Lail,” katanya. Lalu segera menyibukkan diri dengan memasukkan tasku ke dalam bagasi.
Tidak sampai berhari-hari. Tadi pagi setelah pesawat terbang tinggi, malam ini aku berbaring di kasurku yang warnanya merah hati. Belati-belati seperti terhujam dan menetap di rongga dada. Meninggalkan mereka aku seperti tak ikhlas saja. Padahal nyatanya aku kembali ke rumah sendiri. Bertemu dengan ibu, ayah, dan seorang adik laki-laki—lagi.
Kutelepon ummi, kukatakan aku sudah sampai di rumah pukul tujuh malam tadi. Ummi tak banyak bicara kali ini. Seperti ingin buru-buru memutus panggilan. Sayup dari sana terdengar isak Zaza dalam pelukan.
“Za, nanti mbak datang lagi,” kataku dalam hati.
Dua bulan berjalan. Pendaftaran sudah selesai kulakukan. Kuliah akan dimulai bulan depan. Sementara itu, kuhabiskan waktu dengan membaca buku dan menulis beberapa puisi sendu. Melanjutkan puisi-puisi rindu yang dulu kutulis untuk ayah dan ibuku. Kini bait-bait puisi terentang untuk keluarga ummi.
Telepon genggamku berbunyi. Nada pesan masuk terdengar beberapa kali. Kuraih benda itu dan kutemukan sebuah pesan baru. Dari Zayid.
‘Mbak, bapak meninggal. Tadi pagi jatuh di kamar mandi. Kepalanya terbentur dan berdarah, tangannya patah.’
Berkali-kali kupastikan sendiri bahwa aku tak salah baca. Tapi tulisan tetap sama. “Innalillahi wa inna illaihi rajiun,” gumamku dalam hati—bibirku bergetar.
Segera kucoba menelpon Zayid, tak ada jawaban. Zahra juga tak ada jawaban. Sementara ummi dan Zaza, aku yakin sedang tenggelam dalam sedu sedan.
“Besok pagi mbak datang.”
Sebagaimana hancur hati Zayid dan adik-adiknya, mungkin demikian pula hatiku. Bapak Taufiq orang baik. Di kota metropolitan sekeras ini yang baik sepertinya sulit dijumpa. Tak heran kenapa hari ini kulihat ramai orang melayat.
Sedang ummi, ia pingsan beberapa kali.
Setelah bapak dikebumikan, aku masih di sana menemani ummi. Satu minggu kira-kira. Sampai ummi ada tenaga seperti biasa.
Sejak bapak pergi, selera makan ummi tak sebaik dulu lagi. Lebih sering kudengar dari dalam kamar syahdu suara ummi mengaji. Jika salat, ummi khusyuk seperti yang ia lakukan setiap hari. Yang berbeda hanya, ratap tangisnya saat menguntai doa untuk sang suami.
“Ummi, Laila harus pulang. Sebentar lagi kuliah akan dimulai. Laila janji, kalau libur nanti Laila ke sini. Jaga diri ya, ummi,” kataku sembari sibuk menghapus air mata sendiri.
Kupeluk tubuh ummi yang kini sedikit kurus.
Kucium kening Zaza yang sedang tidur di pangkuan ibunya.
Ada yang berjalan begitu saja dan tak terasa.
Perkuliahanku sudah berjalan dua semester. Satu semester berlangsung virtual sebab pandemi tak tertangkal. “Libur semester nanti apa bisa kukunjungi ummi?” tanyaku.
Baru saja ingin kukabari, ummi sudah lebih dulu menelepon.
“Lail…” Suaranya terdengar kecil.
“Assalamu’alaikum, ummi,” kataku pelan, khawatir dalam hati.
“Zaza…,” katanya lagi dan suaranya makin tak terdengar.
“Ummi?”
“Zaza demam tinggi…,” lanjut Ummi.
Belum lagi aku bertanya, terdengar suara laki-laki muda dari sana, “Um, adek sudah tak ada.” Begitu yang kudengar.
Seketika pecah tangis ummi. Suaraku di telepon tak dijawab lagi.
“Za, kenapa pergi, dek?” gumamku sejak hari itu sampai saat Zaza di depan mata. Terbalut kain kafan dan diselimuti kain panjang ia. Senyum terukir di wajahnya.
“Dua minggu lagi tepat setahun sejak bapak pergi, mbak.” Zahra bicara padaku setelah Zaza dimakamkan di samping makam bernisan Taufiq Saheru.
Aku, ummi, dan dua anaknya menabur kembang yang wanginya merupa rindu, melafaz doa yang bubungnya hingga ke surga.
Semester ketiga kuputuskan cuti kuliah satu semester. Sejak bapak dan Zaza pergi, kondisi ummi semakin buruk. Pada ibu dan ayah kukirimkan kabar, terkit kuliah kuminta mereka bersabar. Selain itu pandemi yang semakin menjadi-jadi membuatku tak bisa pulang. Sedang untuk datang ke sini, perjuanganku sudah susah sekali.
Tak kutinggalkan rumah ummi. Kupastikan ia makan meski sedikit dan minum obat yang selalu ia bilang. “Pahit!”
Aku yakin, perkara ikhlas, ummi paham betul. Tapi bukankah siapa saja bisa terluka, dan tak semua orang mudah menyembuhkannya? Aku juga yakin, tentang takdir, ummi juga mengerti. Tapi bukankah membiasakan diri atas apa yang sudah pergi itu susah sekali?
Sebulan kemudian Ramadan tiba. Ummi masih belum membaik. Teman-teman beliau sudah banyak yang datang menghibur. Tapi entah apa yang melintas di kepalanya, ia selalu bicarakan tentang kubur. “Istighfar, Hanum…” Demikian kata teman ummi—kudengar beberapa kali.
“Mbak, kata wali kelas, pengambilan rapor semester genap ini di minggu kedua Ramadan. Mbak tolong ambilkan rapor Zayid dan Zahra, ya?” kata Zahra usai salat Magrib.
“Iya, dik. Mbak ambilkan.”
“Sekalian belikan khimar baru untuk dipakai ummi lebaran nanti. Kita pilihkan warna yang agak cerah. Biar muka ummi agak segar begitu ya, Mbak?”
Aku tersenyum sembari membelai kepalanya. “Ya sudah, Zahra makan dulu sama Bang Zayid. Nanti mba nyusul. Mba suapkan dulu makan ummi. Nanti gantian Zahra yang lanjut suapkan ya, dik?”
Kubawa nampan berisi obat dan nasi. Langkahku menuju kamar ummi.
“Assalamu’alaikum, ummi…” kataku.
Ummi tidur agaknya.
Aku terus saja bicara, “Um, kita makan dulu ya, setelah itu minum obat supaya ummi cepat sehat. Sebentar lagi lebaran. Zahra mau belikan ummi khimar yang cantik untuk dikenakan. Oh iya, um. Sebentar lagi Zayid dan Zahra terima rapor dan tadi katanya…,” ocehanku berhenti saat kusapu kening Ummi.
Dingin sekali.
“Um?”
Kuletakkan telunjuk di bawah hidungnya, kutempel ibu jari di urat nadinya, berusaha kudengar detak jantungnya berulang kali. Dan semua nihil sama sekali.
“Um…, ummi…, um!” Semakin besar suaraku, sedikit berteriak lebih banyak takut.
Zayid dan Zahra masuk. Tiga hati sekaligus remuk.
Lebaran kali ini sungguh berbeda. Tak ada celoteh Zaza, tak ada suara ummi yang takut anaknya terkena beling, tak ada bapak yang titip salam pada ibu dan ayah di kampung. Hanya takbir dan gema lain yang tak berakhir. Bersahut-sahutan dari bibir yang gemetar dan isak tangis yang tak tertahan. (*)
Mengenang alm. Bapak Taufiq 2019.
Direvisi ulang di Batam, 21 Mei 2020