Cerpen Thomas Utomo (Radar Banyumas, 13 September 2020)

PINTU yang diketuk itu perlahan terbuka. Seraut wajah berkumis tampak dari baliknya.
“Lho, Pak Rustam? Mari, mari, silakan masuk, Pak,” ujar pemilik rumah, membukakan pintu lebih lebar.
Laki-laki keriput yang dipanggil Pak Rustam beranjak masuk. Seperti tahun yang sudah-sudah, dia duduk di kursi yang sama, menghadap orang yang sama. Bahkan, waktu kedatangannya pun sama.
“Sedang sibuk ya, Pak Tanto? Maaf lho mengganggu. Sore-sore datang bertamu tanpa mengabari lebih dulu,” kata Pak Rustam. Sekadar basa-basi, sebetulnya.
Kumis Pak Tanto bergerak seiring tarikan bibirnya ke samping. “Tidak, Pak. Ini tadi cuma lagi utak-atik laptop. Biasa, buat persiapan rapat guru akhir tahun. Tiga hari lagi kan pembagian rapor.”
Pak Rustam mengangguk-angguk. Dia sudah paham, teramat hafal malah akan pembicaraan yang senantiasa berulang setiap tahun itu. Maka dia berdehem untuk melicinkan tenggorokan.
“Begini, Pak,” Pak Rustam mendorong sebuah kardus berisi padat ke dekat kaki Pak Tanto. “Mohon maaf. Seperti biasa, saya mau minta tolong. Anu, Ranti, anak saya, tolong jangan dipasang jadi guru kelas tinggi. Seperti yang sudah-sudah, saya minta dia jadi guru kelas dua saja ya, Pak.”
Lagi-lagi, Pak Tanto tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk. Dia lebih dari mengerti apa yang dimaksudkan Pak Rustam.
“Pak Tanto tahu sendiri. Walaupun bontot saya itu sudah bertahun-tahun diangkat, tapi ya pemahamannya begitu-gitu saja. Belum bisa jadi guru yang baik. Masih harus banyak latihan, terutama pelajaran Matematika. Yah Pak Tanto pasti paham. Untuk menghitung uang tabungan dan nilai rapor siswa saja dia tidak bisa. Jadi, saya mohon pengertian dan kebijaksanaan Pak Tanto sebagai kepala sekolah.”
Pak Tanto tersenyum. Bagi Pak Rustam, senyum itu adalah sebuah jawaban kepastian.
***
Dua laki-laki duduk berhadapan di sebuah ruangan tak terlalu luas. Pintu dan jendela tertutup rapat. Kesejukan menguar dari kotak AC, namun seolah-olah tidak bisa meredam rasa gerah yang membekap udara.
“Pakai acara pamit sama anak-anak dan orang tua segala! Lihat akibatnya, anak-anak dan orang tua jadi pada ribut! Bolak-balik saya ditelepon dan didatangi orang tua. Mereka merengek-rengek, minta kamu dipertahankan mengajar di sini!” geram laki-laki berambut salju.
“Saya hanya minta maaf pada anak-anak, Pak. Mungkin, selama mengajar mereka, saya banyak luputnya. Tidak saya duga, mereka cerita pada orang tua,” sahut laki-laki muda berkulit langsat. Air mukanya keruh.
“Berlebihan! Lihat yang lalu-lalu. Guru-guru yang keluar dari sekolah ini, tidak ada yang pamitan pada anak-anak dan orang tua! Kalau keluar ya keluar saja! Tidak usah ada pemberitahuan segala!”
“Maaf kalau saya salah. Saya hanya berpikir kepatutan saja. Datang tampak muka, pulang tampak punggung. Begitu saja, Pak!”
“Kamu memang bodoh! Untuk hal seremeh apapun, kamu atau siapapun, harus minta izin sama saya, pemimpin tertinggi di sekolah ini!”
Si laki-laki muda tidak menyahut.
“Benar-benar kamu ini! Siapa suruh kamu tempo hari memotret tempat wudu siswa yang berlumut, terus mengunggahnya ke status WhatsApp?! Eh, satu urusan belum selesai, tambah lagi masalah ini. Kamu mau merusak reputasi sekolah ini? Sudah saya putuskan kamu keluar lebih cepat dari seharusnya! Sebagai pelajaran, gajimu bulan ini, tidak akan dibayar!”
Laki-laki muda menunduk. Di lantai keramik yang putih bersih, dia melihat deretan angka tunggakan SPP anaknya selama enam bulan.
***
Isyana terisak-isak.
Bowo menatap lekat lawan bicaranya, berusaha meresapi cerita perempuan itu. Perlahan dan berulang, dia mengelus punggung Isyana. Ada desir aneh namun nikmat waktu tangannya menyentuh tali bra Isyana.
“Bayangkan, Pak! Kemarin, malam-malam, ada dua laki-laki datang ke rumah. Mereka mau ketemu Rifai. Waktu aku bilang, Rifai tidak ada, mereka tidak percaya. Mereka marah-marah. Anakku ketakutan. Tetangga dengar semua. Ya Tuhan,” air mata kembali meleleh dari mata Isyana yang memerah.
Bowo menyodorkan tisu. Wajahnya berubah tegas. “Suamimu memang keterlaluan. Mau investasi tidak pikir panjang. Istri tidak diajak rembukan. Keluarga tidak diberi tahu. Siapa kira akibatnya bakal seperti ini.”
Isyana menyusut mata dan hidungnya.
“Aku pasti bantu, Bu. Aku ada tabungan. Tidak banyak. Tapi setidak-tidaknya, bisa mengurangi tanggunganmu.”
Bowo meraih Isyana, menenggelamkan kepala perempuan itu ke dadanya. Dia tidak peduli kemeja batiknya basah oleh air mata dan ingus. Diam-diam, ada perasaan tertentu yang menggelombang di kedalaman dirinya, perasaan yang tidak dia dapatkan dari istri yang gemar mencuatkan tanduk, setahun belakangan.
Dari kejauhan, seseorang mengacungkan ponsel, merekam adegan di seberang. Hatinya berbisik, “Kalau kejadian ini aku bagikan ke orang tua siswa lain, bagaimana jadinya, ya? Dua guru SD Bina Utama bermesraan di kafe. Bakal ramai, nih.”
***
Pintu kelas terbuka. Sebuah kepala menjulur keluar, celingak-celinguk. Sepi. Tiada seorang pun di luar ruangan kelas lima. Kepala ditarik, pintu ditutup.
“Sssttt…! Dengar, Bu Guru ngomongnya tidak akan keras-keras. Kalian jangan berisik, biar suara Bu Guru terdengar jelas.”
Dengung suara anak-anak berubah sepi. Mereka mengerti maksud perkataan Bu Guru.
“Sekarang, lihat soal pilihan ganda nomor dua puluh lima. Bu Guru belum pernah mengajarkan materi itu kan? Nah, biar gampang, Bu Guru tidak akan kasih tahu rumusnya. Nanti lama. Pilih saja jawaban A atau B. Kalau A itu angka satu,” Bu Guru mengacungkan telunjuk tangan kanan. “… dan B itu angka dua,” Bu Guru mengacungkan telunjuk dan jari tengah tangan kanan. Kalian pilih, antara satu dan dua, mana yang lebih dulu? Mana yang nilainya lebih sedikit? Itu jawabannya.”
“Satu, Bu! Berarti jawabannya A,” cetus seorang anak berambut keriting.
“Sssttt …!” Bu Guru melotot. “Bu Guru sudah sering bilang, ‘Kalau lagi ulangan, jangan suka nyeletuk jawaban. Langsung silang saja. Ini ‘kan ulangan tertulis, bukan lisan. Kalau masih ada yang nyeletuk, Bu Guru tidak mau lagi memberi kunci jawaban.”
“Jangan, Bu. Nanti nilaiku jelek. Bisa-bisa, aku tidak jadi dapat hadiah dari Ayah,” rengek seorang anak berambut lurus sebahu. Matanya melompat ke anak berambut keriting, mendelik. “Kamu sih! Bodoh!”
“Baik. Kalau kalian patuh, Bu Guru akan melanjutkan. Tapi sebelum itu, sekali lagi Bu Guru ingatkan. Ini semua Bu Guru lakukan demi kebaikan kalian. Demi kebaikan kita bersama. Bu Guru ingin, nilai kalian bagus semua, supaya orang tua kalian bangga, supaya kelas kita tetap jadi kelas juara. Sekarang, lihat soal rum dua. Bu Guru catat caranya di papan tulis. Kalian tinggal hitung jawaban akhirnya. Terus tulis di lembar jawaban. Awas! Jangan berisik!”
***
Arifin berjalan santai sambil bersiul-siul. Setiba di kantin, keadaan sepi. Tidak ada guru piket. Tidak ada siswa yang tengah membeli jajan. Tentu saja, Arifin hafal, sekarang masih jam pembelajaran. Semua guru dan siswa tengah mengeram di kelas.
Laki-laki bertubuh sedang itu, merogoh celana khaki, mengeluarkan sebuah tas kresek. Dengan tenang namun sigap, dia mencomoti aneka jajan, memasukkannya ke tas kresek.
Buntalan kresek diikat. Arifin melenggang, melewati teritisan belakang gedung sekolah. Mulutnya mengerucut, macam pantat ayam. Dia kembali bersiul riang.
Setiba di kandang parkir, dia membuka jok sepeda motor, memasukkan buntalan kresek ke sana.
Klik! Jok ditutup. Arifin mengayun kaki ke kelas.
“Bagaimana? Tugas sudah selesai? Sekarang tukar dengan teman sebangku. Kita koreksi bersama,” ujarnya setelah merebahkan pantat di kursi belakang meja guru. “Andika, kamu baca jawaban nomor satu!”
***
Sebuah tangan berjari-jari panjang, memegang gagang pintu, hendak menariknya. Mendadak, sebuah tangan lain, berjari-jari gemuk dan pendek, menekan gagang pintu, menahannya.
“Sebentar!”
Perempuan bertubuh jangkung, menoleh. Pandangannya bersirobok dengan mata sesosok perempuan berperawakan bulat pendek, seperti induk ayam. Perasaan tidak enak merayapi dadanya.
“Duduk!” Melalui isyarat mata, perempuan pendek menuding kursi di dekat rak buku perpustakaan.
“Saya mau mengajar, Bu,” sahut perempuan jangkung. Lirih dan perlahan.
Perempuan pendek tidak menyahut. Wajahnya cemberut. Tanda titahnya tidak bisa ditawar.
Tanpa bicara, perempuan jangkung beringsut duduk. Berangsur-angsur, dadanya menciut.
“Kamu pakai lipstik ya?” tukas perempuan pendek. Nadanya tidak bertanya.
Cepat perempuan jangkung menggeleng.
“Bohong! Genit kamu, ya!”
“Ini lip balm, Bu. Bukan lipstik. Saya pakai biar bibir tidak kering dan pecah-pecah.” Perempuan jangkung, membela diri. Suaranya pelan saja.
“Aaah! Sama saja! Tujuannya buat berdandan kan? Terus apa lagi itu! Pipimu kenapa merah-merah begitu, he?!”
Perempuan jangkung membuka mulut, hendak menyahut, namun kalah cepat dengan perempuan pendek, “Aku sudah bilang berkali-kali. Kamu guru agama. Bersikaplah layaknya guru agama. Tidak usahlah berdandan, macam perempuan jalang saja. Lihat mukaku! Polos tanpa polesan kan? Seharusnya, sebagai guru junior, kamu meniru aku!”
Perempuan jangkung menunduk. Dadanya berasa senyar.
“Sudah! Pergi kamu! Kalau tidak demi kebaikan, mana sudi aku menasihati kamu! Puah! Puah! Sesungguhnya, daripada lihat muka kamu, lebih baik aku lihat tahi selautan! Puah! Puah!”
***
“Ke sekolah lagi? Gusti, jam berapa, sekarang, Mas?” Mata Nani terbeliak. Sebilah tangannya menunjuk jam dinding.
Mendengar suara ibunya yang menanjak, bayi dalam gendongan Nani menggeliat, menangis keras.
“Aku ada urusan. Penting. Cuma sebentar ini. Kamu kan tahu tanggung jawabku sekarang,” ujar Hartoyo dengan suara sumbang, penuh kepalsuan. Sesungguhnya, dia akan ke sekolah, karena mau nonton bareng pertandingan sepak bola dengan teman-temannya sesama guru laki-laki.
“Baru jadi wakil kepala sekolah sudah sesibuk ini ya, Mas? Pagi-pagi buta berangkat, pulang sore, malam berangkat lagi. Rumah hanya jadi tempat singgah, bukan tempat tinggal. Kamu ke rumah cuma buat mandi, ganti pakaian, dan membuntingi aku. Lainnya buat sekolah. Bagus! Luar biasa! Loyalitas tanpa batas!”
Tangis bayi kian keras. Seolah tidak peduli, Nani terus merepet, “Kamu pasti tidak tahu kan kalau tadi, anak sulung kita jatuh ke selokan? Kamu juga tidak tahu kalau ibuku sakit? Tentu tidak! Yang di kepalamu cuma sekolah, sekolah, sekolah!” “
Diam kamu! Radio noble!” Hartoyo bergegas pergi.
“Maaas…! Benar-benar kamu yaaa …!”
Suara mobil menderum, meninggalkan pelataran rumah. (*)