Cerpen Pangerang P. Muda (Pikiran Rakyat, 16 September 2020)

Di antara orang-orang yang kulihat mengerumuni Kakek, kenapa ada pula kedua pamanku beserta Nenek, padahal ketiganya sudah tiada? Begitu mereka menaikkan Kakek ke atas keranda, aku berteriak-teriak memanggil dan malah kudapati wajah Ibu melayang di atas kepalaku, sambil menepuk-nepuk pipiku.
“Kamu mimpi, ya?” sayup suara Ibu, sesayup-sayup ingatanku pada pesan Kakek: Jika bermimpi buruk, tidak usah diceritakan ke orang lain. Jadi kusimpan sendiri mimpiku itu sampai Ibu berbalik ke pintu.
Semalam tidurku amat terusik. Suara burung hantu yang berulang-ulang seakan peluit kereta tua, membuat kupingku amat tak nyaman. Mulanya suara serak itu melaung dari jauh, berepetisi entah berapa kali, lalu seturut lena katup mataku yang baru beberapa jenak suara burung berdurja seram itu mendekat. Kuduga burung itu kemudian bertengger di bubungan atap di atas kamarku, masih mengulang-ulang pekiknya, membuat upayaku memicing mata sungguh sulit. Mungkin sudah capek, dan entah sudah jam berapa itu, burung malam itu baru berhenti memekik dan hanya mengeluarkan suara seperti orang berdeguk-deguk, seakan menunggu berita duka.
Aku bangun lalu mengikuti Ibu menuju kamar Kakek. Dadaku berdentum cemas. Sukar kutepis dugaan Kakek yang amat kusayangi itu tentu sedang bertarung dengan maut di ujung usianya. Betapa heboh kami semalam melihat kondisinya. Sejak siang ia sudah meriang dan tak sesuap pun makanan melewati tenggorokannya. Usai magrib, panas tubuhnya bertambah, sampai kami menelepon Tante Biah. Adik ayahku yang dokter itu ditelepon untuk selekasnya datang memeriksa sekaligus membantu kami membujuk Kakek supaya mau dibawa ke rumah sakit. Namun, sekuat kami membujuk, sekuat itu pula Kakek menolak.
Tante Biah terpaksa menginfusnya sekalian mewanti-wanti kami bila sampai pagi kondisi Kakek tidak membaik, sebaiknya dibawa saja ke rumah sakit. Dan di dalam kamarnya pagi ini, melihatnya duduk di tepi tempat tidur seraya disuapi sarapan bubur, rasa cemasku berubah jadi kekeh. Istri Paman Maddi yang menyuapinya mesti pula membujuk-bujuk, seperti menyuapi anak kecil yang sedang rewel.
“Mana tantemu?” sergah Kakek begitu melihatku. “Suruh cabut jarum ini. Kenapa pula saya dipasangi begini?”
“Semalam kan Bapak sakit,” Ibu yang menimpali, dan langsung disambar Kakek, “Siapa bilang? Saya baik-baik saja. Malah sempat ketemu makmu.”
Ibu mengedipkan senyum ke arahku, tapi aku tetap merinding. Semalam sebelum kutinggalkan kamarnya Kakek memang menanyakan Nenek. Mata Kakek terkatup, kelihatan lelap tapi ketika aku hendak beranjak ia malah bertanya, “Mana nenekmu?” Menanyakan Nenek yang sudah tutup usia sejak tujuh tahun silam (ketika itu aku baru saja lulus SD), pertanda memori di kepala Kakek mulai kacau.
Kakek memang sudah sepuh. Ia sendiri tidak pernah mau repot mengingat apalagi menghitung bilangan usianya. Ibuku yang anak bungsu sudah berusia 42 tahun. Paman Maddi, anak sulung Kakek—dua anaknya yang lain sudah meninggal—pernah bilang usia Kakek sekitar 25 tahun ketika dia lahir. Dengan usia pamanku itu yang sudah melewati 60 tahun, maka bilangan usia Kakek memang sudah cukup untuk melayukan fisik dan memajalkan memorinya.
“Kamu dengar suara burung hantu semalam?” bertanya begitu, membuatku berpikir: semalam Kakek juga tidak terlelap; ia pun mendengar suara burung hantu itu.
Di kampung kami, ada kepercayaan bahwa bila semalam ada suara burung hantu terdengar di kejauhan, dan suaranya terdengar aneh atau tidak seperti biasanya, berarti di dekat rumah atau di dalam rumah kita ada orang sedang sakit keras menunggu ajal. Sebaliknya, bila suara burung hantu itu terdengar dekat, berarti orang yang sedang sakit keras atau menjelang ajal, jarak rumahnya dari rumah kita jauh. Kakek telah berkali-kali pula menceritakan kejadian-kejadian yang menyertai kepercayaan itu.
“Saya mau keliling kampung kalau jarum ini sudah dicabut,” ujar Kakek lagi. “Mau cari tahu, siapa yang sedang sakit keras, atau malah meninggal. Suara burung hantu semalam suaranya sangat dekat, seperti ada di dalam rumah saja. Yang sakit, atau meninggal, rumahnya tentu agak jauh. Ada yang ikut mendengarnya?”
***
Betapa kesehatan Kakek sudah seperti menyamai musim pancaroba: sedikit-sedikit membaik, sedikit-sedikit tubuhnya meriang. Sore tadi ia memaksaku menemani ke kebun di belakang rumah. Di sana ada gulang-gulang tempat kesukaannya mengaso. Tidak banyak yang bisa ia lakukan, hanya sempat memeriksa tiga pohon rambutan yang buahnya kecil-kecil dari ukuran biasanya, setelah itu ia berbaring di atas rumah kebun kami itu dan mulai menggigil. Butuh mengerahkan tenaga membantunya berjalan kembali ke dalam rumah.
Dan malamnya, pekik serak suara burung hantu kembali membangunkan lelap tidurku. Aku mulai berprasangka burung yang mukanya sangat tak elok ditatap itu hendak membayangi kondisi kesehatan Kakek. Kali ini burung hantu itu tidak mendekat, suaranyanya tetap terdengar di kejauhan, membuatku terus pula mengingat kepercayaan orang di kampung kami soal isyarat suaranya: Bila suara burung hantu terdengar di kejauhan, suaranya terdengar aneh atau tidak seperti biasanya, berarti di dekat rumah atau di dalam rumah kita ada orang sedang sakit keras menunggu ajal….
Tidak kuingat lagi jam berapa baru aku bisa tertidur kembali. Ketika membuka mata, tahu-tahu cahaya terang sudah kelihatan dari lubang jalusi di atas jendela kamarku. Bukan terang di luar itu yang kemudian membuatku tersentak, tapi suara ribut-ribut di luar.
Benang merah kejadiannya seketika terpintal di kepalaku: isyarat suara burung hantu semalam yang terdengar dari jauh, dan suara ribut-ribut di luar! Aku bergegas menyerbu ke kamar Kakek, tapi tidak kudapati ada orang di sana. Entah seperti apa parasku, kurasakan wajahku berubah beku.
Aku balik badan dan bergegas ke depan. Kulihat sudah banyak tetangga berkerumun di depan pintu pagar, sebagian pula di beranda. Mereka disertai ayahku, Paman Maddi dan istrinya, ibuku … dan tidak ada Kakek! Oh, tentu Kakek telah dibawa, mungkin ke rumah sakit atau entah ke mana! Namun, kenapa orang-orang yang duduk di beranda malah lebih banyak tertawa-tawa?
“Afik, lihat tuh kakekmu,” begitu melihatku, ayahku menunjuk ke halaman dengan ujung dagunya. “Pagi ini ia mengaku sangat sehat. Lihat, ia memberi wejangan kepada tetangga; apa lagi kalau bukan soal isyarat yang dikirim suara burung hantu semalam? Kakek tadi bilang, belakangan ini suara burung malam itu makin sering terdengar, dan terdengarnya makin aneh pula.”
Ternyata Kakek ada di dalam kerumunan tetangga di depan pintu pagar. Tetangga kami itu tentu sudah tahu Kakek sedang sakit, lalu mereka datang pagi-pagi hendak memastikan kondisi kakekku. Apalagi mereka tentu mendengar pula suara-suara burung hantu semalam.
“Aku … sudah mengira Kakek….”
Gelak ayahku menyela, “Karena suara burung hantu semalam? Sudah mau jadi mahasiswa, ternyata kamu masih percaya pula pada mitos.”
“Makin seringnya burung hantu berkeliaran di atas kampung kita, memang merupakan isyarat tidak baik. Berarti habitat mereka telah rusak, sampai berkeliaran dan memekik-mekik di atas kampung,” sedikit berlagak, ayahku menjelaskan. “Burung hantu itu mengirim isyarat pada manusia, agar tidak sesukanya merusak tempat bermukim mereka….”
Kalimat ayahku terputus, dipotong sembur Kakek yang ternyata sudah ada di belakangnya, “Itu kepercayaan turun-temurun yang sudah beratus tahun! Cukup kamu saja yang tidak percaya, tidak usah pula menghasut cucuku!”
Kupalingkan tawaku dari mereka. Tubuh Kakek sudah agak bungkuk, tapi langkahnya cukup cepat mencapai sisi beranda sampai ayahku tidak menyadari. Rupanya respon Kakek cukup tangkas bila ada yang meragukan soal isyarat suara burung hantu. ***