Cerpen Kak Ian (Fajar Makassar, 20 September 2020)

Yang tidak habis kupikir adalah saat aku menerima sebuah paket dari pengantar pengiriman barang di waktu Nora tidak ada di rumah. Ia masih berada di rumah orang tuanya. Ketika saat kubuka paket itu ternyata berisi poto-potoku bersama Ellyza di hotel saat aku sedang barsamanya. Dan tak habis kupikir siapakah pengirim paket itu!
***
Sejak pandemi Covid-19 melanda di negeri ini kami yang hidup di sebuah kompleks perumahan tidak bisa berbuat banyak. Apalagi protes tentang kebijakan yang ada. Semua harus mengikuti peraturan dari pemerintah. Mengikuti segala protokoler yang ada. Bagi yang melanggar sudah pasti akan dikenakan sanksi.
Dan itu pun memengaruhi pekerjaanku yang harus bertemu pada orang-orang di luar sana. Menjadi seorang konsultan hukum sudah pasti aku harus bertemu para klien untuk menumpahkan klaim pada sebuah perusahaan yang mereka tidak bisa menyelesaikannya sendiri sebelum konsul lebih dulu kepadaku. Sampai juga soal perkara penceraian para klienku. Sudah pasti aku harus bertemu dengan mereka. Tapi dengan adanya pandemi yang masih menjadi momok aku hanya bisa menyerah.
Bekerja di rumah akhirnya aku lakukan termasuk dengan membeli makanan, minuman maupun kebutuhan sehari-hari sampai kebutuhan pribadi (yang aku butuhkan) lewat jalur pencet jemari. Semua melalui online dan diantar oleh ojek online ataupun pengantar paket. Jadi jika beberapa bulan ini di komplek perumahanku terdengar teriakan. “Pakeeeettt…!” Itu sudah tidak asing lagi.
Seperti saat ini aku mendapatkan sebuah paket yang diantar oleh pengantar barang ke rumahku.
“Pakeeettt…! Benar ini rumah Pak Najib?” tanya pengantar paket itu memastikan kepadaku.
“Iya, benar! Memangnya ada paket buat saya?” sambil melepas selang air, aku yang sedang mencuci mobil pun berhenti sejenak untuk menghampirinya.
“Iya, Pak! Silakan tanda tangan dulu,” ucapnya.
“Terima kasih, Pak!”
“Iya, sama-sama!”
Usai pengantar paket itu menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepadaku. Ia lalu pergi meninggalkanku. Aku pun langsung masuk ke ruang tamu. Acara untuk mencuci akhirnya tersendat.
“Sial! Siapa yang sudah berani mencuri foto-fotoku bersama Ellyza seperti ini!” umpatku.
Usai aku melihat foto-foto itu dan kubanting di atas bangku sofa. Secepat itu juga aku menelepon Haryo, asistenku dalam membantu mengatur jadwal kepada para klien. Haryolah yang selama ini membantuku menjadwalkan semua dengan siapa aku bertemu dan jam berapa beserta di mana tempatnya, ia semualah yang mengaturnya. Jadi bila soal perkara ini tentu ia harus tahu!
“Kamu lagi di mana, Yo? Bisa ke rumah sekarang! Cepat aku tunggu,” sambil memikirkan siapa pengirim paket itu tidak lama kemudian Haryo datang dengan maticnya dengan napas tersengal-sengal.
“Iya, Pak! Ada apa? Sepertinya Bapak begitu kalut saat menelepon saya!” mata Haryo sedikit memicingkan ke foto-foto yang berhamburan di sofa.
“Lho ini kan Bapak dengan Ellyza, mantan Bapak sewaktu di bangku kuliah yang pernah diceritakan kepada saya. Kenapa foto-foto itu bisa sama Bapak,” Haryo langsung terkejut sambil tangannya memegang foto Najib dan Ellyza yang sedang berada di kamar hotel itu menanyakan pada Najib.
“Maka dari itu aku bertanya sama kamu!” tukas Najib.
“Apa kamu yang kirim?”
Haryo sedang berpikir keras mencari tahu dari mana foto-foto itu ada di tangan atasannya itu.
“Ti-tidak, Pak! Kan saat Bapak bersama Ellyza saya di kamar hotel sebelah. Jadi tidak mungkinlah!” sergah Haryo.
“Kalau begitu siapa!” Najib memastikan lagi.
“Bapak tenang dulu. Mungkin yang melakukan ini adalah rival Bapak. Bukankah banyak cara untuk menjatuhkan para rival atau pesaing seseorang. Kan Bapak ini sedang mencalonkan diri di pilkada tahun ini. Mungkin saja ini salah satu cara licik mereka,” Haryo menjelaskan pada Najib agar untuk menenangkan diri.
Dalam diam sejenak Najib mencerma ucapan Haryo. Ternyata ada benarnya juga.
“Baiklah apa yang kamu katakan bisa masuk di logika! Aku terima. Sekarang tugasmu mencari tahu siapa yang mengirimkan foto-foto itu kemudian bakar,” Najib akhirnya meredam amarahnya.
“Baiklah, Pak! Saya akan mencari tahu. Jika sudah diketahui kita harus balas timbal balik, Pak?” Haryo memberi saran.
“Ya, sudah aku tunggu informasi selanjutnya. Sekarang lanjutkan bersihkan mobilku yang sedang aku cuci itu. Aku jadi tidak semangat lagi untuk melanjutkannya!”
“Siap, Pak!”
***
Sudah sebulan ini, Nora istri Najib masih berada di rumah orangtuanya. Tidak seperti biasanya hal ini dilakukan istrinya itu. Kenapa saat sedang maraknya kampanye bagi para calon Kepala Daerah, Nora tidak bersamanya. Seharusnya bisa menemani Najib?
“Kan lagi PSPB, Pak! Aku tidak berani pulang. Jika kamu ingin menemui aku ya datang saja ke rumah orang tuaku. Lagi pula kamukan sudah lama tidak kemari.”
Begitulah alasan Nora jika Najib menanyakan Nora kenapa tidak pulang ke rumah. Sedangkan Najib sangat membutuhkan kehadirannya.
Saat Najib sedang memikirkan bagaimana cara Nora untuk bisa pulang kembali tetiba ponsel pintarnya mendapatkan pesan dari Haryo yang belum sempat dibacanya dan bersamaan dengan paket yang ia terima. Kali ini paket itu berisi sangat menakutkan sekali.
“Paket….!” teriakan khas pengantar paket membuyarkan pikiran Najib.
“Iya!” singkat Najib. Lalu menghampiri pengantar paket itu kemudian menerimanya.
“Terima kasih, Pak!” ucap pengantar paket itu.
“Iya!” usai itu Najib membuka paket. Dan….astaga paket itu berisi kain kafan, jarum, silet dan betadin. Setelah itu ia membanting paket itu.
Najib dengan napas yang berdegup kencang langsung mengabari Haryo kembali. Tapi ia membaca pesan dari Harya lebih dulu.
“Bapak tidak usah jauh-jauh mencari siapa pengantar paket selama ini. Silakan Bapak lihat saja foto yang saya kirimkan ini. Bapak harus ingat jika rival Bapak adalah mertua Bapak sendiri dalam pilkada tahun ini,” begitu pesan yang dikirim Haryo. Lalu ia membuka kiriman poto dari Haryo di via Whatsapp.
Tampak di sana ada Nora dan Ir. Teddy Handika beserta tim suksesnya yang sedang membuat beberapa paket untuk meneror Najib dan juga para pendukungnya di sebuah rumah yang dijadikan markas pendukung rivalnya itu. Tidak lain mertua Najib sendiri.
Najib yang melihat foto-foto yang dikirim oleh Haryo kini baru sadar betapa bodohnya dirinya. Karena selama ini ia hidup bersama musang berbulu domba. Ternyata semua dilakukan oleh Nora, istrinya sendiri pula yang ternyata pendukung rivalnya di pilkada nanti. Tidak lain orangtua sendiri Nora, mertua laki-laki Najib.
“Tunggu saja sandiwara yang aku buat nanti, Nora!” umpat Najib sambil membuang jauhjauh paket berisi kain kafan, jarum, silet dan betadin itu di belakang rumahnya sambil mengempal tangannya membayangi dua orang yang sangat ia murkai: Nora dan Ir Teddy Handika, istri dan rivalnya di pencalonan Kepala Daerah. (*)