Cerpen Rosna Hermawan (Medan Pos, 20 September 2020)

Seorang penulis—lebih tepatnya orang yang masih belajar menulis— biasanya punya keinginan sederhana. Tulisannya bisa mejeng di media massa. Lalu namanya tersiar di berbagai media sosial. Ia akan menanggalkan gelar penulis yang belajar—lalu mendapatkan gelar penulis pemula. Penulis yang digadang-gadang bakal menjadi ikon sastrawan di masa depan. Ya sederhana menurut pikirnya. Untuk saat ini, bisalah kiranya orang ini disebut calon penulis.
“Kamu harus mulai menulis,” kata seseorang yang pernah mempengaruhinya untuk menulis. Orang itu berkata, selain mendapat ketenaran, ia juga bisa mendapat honor bila tulisannya naik cetak. Ya kira-kira dapatlah uang itu digunakan untuk jajan di kafe atau restoran.
“Bagaimana caranya menulis?”
“Ikutlah seminar!”
Lalu si calon penulis pun mengikuti sebuah seminar kepenulisan pada suatu Minggu yang hujan. Tentu ia membayar sejumlah rupiah untuk mengikutinya. Di seminar itu, ia belajar untuk memahami mengapa seseorang harus menulis. Ia mendapati sebuah pertanyaan sederhana: mengapa Kartini lebih terkenal dari Dewi Sartika? Lalu si narasumber menyebut kalau Kartini rajin menulis. Tulisan-tulisannya pun akhirnya diterbitkan dan menjadikan dirinya terkenal.
Si calon penulis berdecak kagum mendengar cerita tentang Kartini. Selama ini dirinya tidak pernah memikirkan betapa hebatnya sosok Kartini itu. Dengan tulisan-tulisannya, ia bisa dikenal bahkan sampai dianggap sebagai pahlawan. Seminar kepenulisan itu telah membangkitkannya, mengobarkan sebuah nyala api untuk giat menulis. Tidak salah ia sampai berbasah-basah dan menggelontorkan beberapa lembar rupiah untuk seminar itu.
Setelah mengikuti seminar kepenulisan itu, si calon penulis membuat sebuah cerita. Seadanya, sebab ia memang belum pandai menulis.
“Bacalah! Ini tulisanku,” si calon penulis menyodorkan beberapa lembar tulisannya yang terangkum dalam satu judul. Ada kata “Cerpen” di bawah judul itu, lalu diikuti oleh nama si calon penulis. Rupa-rupanya, ia menulis sebuah cerpen.
Orang yang membaca tulisan si calon penulis tidak lain adalah orang yang mempengaruhinya untuk menulis. Dapatlah kita sebut sebagai si pemengaruh. Ia membacanya, sampai habis.
“Sudah bagus kamu bisa menulis sebanyak ini. Tetapi tulisanmu belum berwarna. Maksudku, masih terlalu biasa, masih dangkal,” kata si pemengaruh. Memang begitu adanya. Mana mungkin seorang yang baru pertama kali menulis langsung bisa membikin cerita yang dalam? Si pemengaruh mengembalikan naskahnya.
“Lalu bagaimana agar tulisanku menjadi lebih berwarna?”
“Banyaklah membaca,” si pemengaruh memberikan sebuah wejangan. Ia bercerita tentang prosesnya menjadi seorang penulis. Ia pun sering sekali membaca sebelum mengarang sebuah cerita. Dari bacaan-bacaan itulah akan muncul ide segar untuk dituliskan. Barulah ia mulai menuliskan ide segar itu, merangkainya menjadi sebuah cerita yang bagus.
Dulu, naskahnya pun berkali-kali ditolak. Butuh waktu hingga lebih dari setahun sebelum naskahnya naik ke media massa. Ketika karyanya mulai konsisten tampil, namanya mulai dikenal publik.
Si calon penulis pulang dengan membawa semangat baru. Kini ia tahu yang harus dilakukan. Membaca, membaca, dan membaca. Ia mendatangi beberapa perpustakaan, meminjam buku pada beberapa kawan, bahkan kadang ngutilsebuah buku menarik di toko buku bekas. Semua dilakukannya demi bisa membaca.
Membaca akan membuatnya memiliki perspektif baru yang sama sekali belum pernah dipikirkannya. Si calon penulis mengalami hal semacam itu. Pada beberapa buku yang ia baca di awal-awal, ia merasa memiliki seluruh pengetahuan yang akan membawanya menjadi seorang penulis. Kepalanya terisi berbagai cerita dari berbagai penjuru dunia.
Ia pun mulai menulis lagi. Berkali-kali ia membaca hasil ketikannya di laptop. Kali ini hasilnya bisa dibilang lumayan. Setidaknya lebih bagus dari sebelumnya. Ia harus membawanya lagi kepada si pemengaruh.
“Ya. Ini lebih baik dari sebelumnya. Tetapi bahasamu masih terlampau kaku. Belum ada kata-kata yang mampu membangkitkan perasaanku sebagai seorang pembaca. Kamu harus mencobanya lagi,” kata si pemengaruh.
“Bagaimana caranya?”
“Gunakan teknik ATM, seperti yang dikatakan orang-orang.”
Si pemengaruh bercerita tentang teknik ATM itu. Ia bisa menceritakannya dengan lancar, sebab ia juga pernah memakainya. Mula-mula ia mengamati sebuah cerita yang bagus. Lalu ia meniru bagaimana tulisan yang diamatinya. Meniru bagaimana cara merangkai kata demi kata. Ia juga melakukan perubahan di sana sini, sesuai dengan jalan pikirnya sendiri. Ia menyebutnya sebagai modifikasi. Dan akhirnya, tercipta suatu karya yang cukup menyenangkan dirinya sebagai penulis. Lalu dikirimkannya tulisan itu ke media massa. Selang beberapa hari, tulisannya naik cetak. Ia senang bukan kepalang.
Si calon penulis menyimak dengan baik setiap pembicaraan si pemengaruh. Tidak ada satu kata pun yang boleh terlewat. Sebab, itu adalah rahasia yang akan mengantarkannya pula menjadi penulis hebat.
“Aku akan melakukannya,” kata si calon penulis. Ia pulang, membawa semangat baru lagi. Kali ini, ia pasti dapat membikin cerita yang mengesankan si pemengaruh.
Di meja kerjanya, penulis itu membuka laptop. Mencari cerita yang bisa ia amati, tiru, dan modifikasi. Lalu ia mulai mengetikkan nama penulis yang ia suka. Karya-karyanya pun bermunculan. Ia mengeklik salah satu cerita, membacanya, dan kepalanya geleng-geleng sendiri. Terheran-heran bagaimana si penulis bisa membuat cerita sehebat itu.
“Inilah ceritanya. Aku harus melakukan ATM dari cerita ini,” si calon penulis bergumam dalam hati. Saat itu juga kepalanya mulai memutar segala pengetahuan yang dimilikinya. Jemarinya begitu lancar menirukan gaya bercerita si penulis tadi. Ia juga melakukan sedikit modifikasi. Lalu jadilah. Ia puas sekali sekarang. Ceritanya jauh lebih berbobot, pikirnya.
“Kamu benar. Tulisan ini jauh lebih berbobot. Bahkan bisa dibilang sangat baik,” kata si pemengaruh dengan jujur, “tetapi….”
“Tetapi apa?” si calon penulis penasaran.
Lalu si pemengaruh membuka gawainya. Ia membuka sebuah media sosial, menunjukkan sebuah berita hangat yang sedang terjadi akhir-akhir ini.
“Lihat! Ini adalah kasus plagiarisme. Orang ini menjiplak cerita milik seorang penulis terkenal,” kata si pemengaruh. Orang yang menjiplak ini banyak mendapat protes dan hujatan. Ia menunjukkan beberapa komentar yang menyalahkan proses menulis dengan menjiplak itu. Tentu saja mereka tidak menyalahkan orangnya, tetapi caranya.
Si calon penulis turut memeriksanya. Membaca sebuah cerita yang diduga dijiplak, dan sebuah cerita lagi yang diduga merupakan jiplakan. Si penulis membandingkan kedua cerita itu. Judulnya berbeda, tetapi ide ceritanya sama. Alur ceritanya pun sama. Jika ada yang berbeda, hanya kata-katanya dan tokohnya saja. Tetapi keduanya seperti merupakan cerita yang sama.
Si calon penulis mengingat lagi tulisan bikinannya sendiri. Kok rasa-rasanya ada kesamaan dengan cerita yang ia amati tempo hari.
Belum habis si calon penulis berpikir, tiba-tiba si pemengaruh menyodorkan gawainya. Ia membuka sebuah cerita.
“Lihat!” katanya.
“Wah, benar. Ini adalah cerita yang kuamati. Lalu kutiru ceritanya. Itu ceritamu.”
Lalu si pemengaruh menepuk pundak si calon penulis. Ia menyuruh si calon penulis untuk mengganti ceritanya, sebab cerita itu sangat mirip dengan cerita yang dibuatnya.
“Itu namanya plagiarisme. Menjiplak karya milik orang lain. Itu berbahaya. Kamu akan dianggap sebagai orang yang tidak kredibel seperti orang yang kutunjukkan di media sosial ini,” si pemengaruh menasihati.
Lalu ia juga bercerita tentang kemungkinan bahwa dirinya akan berbalik membenci si calon penulis. Sebab karyanya telah dijiplak begitu saja.
Si calon penulis menyadari kesalahannya, lalu meminta maaf. Beruntung ia belum sempat mengirimkan tulisan itu ke media massa. Padahal sudah bagus, tetapi terbukti menjiplak.
Si calon penulis berjanji akan berusaha lebih baik lagi. Tidak akan melakukan tindakan plagiat lagi. Ia juga meminta agar si pemengaruh tidak membencinya, sebab kepada siapa lagi ia harus berguru. Ia masih ingin jadi seorang penulis.
Si calon penulis kembali membuka laptopnya. Mencari tulisan-tulisan lama yang masih tersimpan.
“Ya sudah! Kirim saja. Lagi pula, katanya, seorang penulis harus mengalami kegagalan dulu,” gumamnya dalam hati. Si calon penulis mengirimkan beberapa tulisannya ke beberapa media massa. Tentu, tulisannya itu sangatlah tidak layak, setidaknya menurut pemikirannya sendiri.
Sepanjang hari, ia teringat akan tulisannya. Seminggu tidak ada kabar pemuatan. Ia masih bersemangat menulis. Membaca beberapa buku, melakukan teknik ATM dengan tidak melakukan plagiat sedikit pun. Lalu mengirimkannya lagi. Kali ini ia lebih yakin, sebab tulisannya cukup baik. Ia berharap akan dimuat. Lalu namanya mulai menghiasi media massa.
Sebulan kemudian, masih tidak ada kabar pemuatan. Ia ingat bahwa si pemengaruh butuh waktu lebih dari satu tahun. Ia mencobanya lagi. Ia terus membaca, hingga melakukan teknik ATM. Sampai akhirnya melebihi satu tahun. Tetapi tidak ada satu pun tulisannya yang dimuat.
Si calon penulis mulai frustrasi. Ia sudah berusaha berkali-kali. Tidak sempat ia hitung berapa tulisan yang sudah dikirimkannya ke media massa. Apakah tulisannya tidak cukup pantas untuk dimuat? Ia ingin mendatangi si pemengaruh, tetapi orang yang ingin ditemuinya itu kini sudah menjadi penulis besar. Ia sudah mengisi seminar di mana-mana. Ia sudah sibuk sekarang. Bahkan untuk tinggal di dalam kota saja sudah sangat jarang.
Si calon penulis mulai menimbang-nimbang untuk pensiun saja. Sebab ia mulai berpikir bahwa ia telah menghabiskan satu tahun untuk hal yang sia-sia. Dalam keputusasaannya, ia mengingat bahwa ia masih mempunyai sebuah tulisan yang sama sekali belum dikirimkan. Tulisan yang menurutnya sudah sangat layak untuk diterbitkan. Ia masih menyimpan tulisan itu. Tulisan yang mempunyai cerita yang sama dengan si pemengaruh.
Ia berpikir, lalu kembali membuka laptop.