Senja Redup di Matamu

Cerpen Dimas Indiana Senja (Radar Banyumas, 27 September 2020)

AKU menemukan senja yang redup di matamu. Mata yang mendung, mengeramkan segala apa yang tak bisa kau jelaskan dalam kata-kata. Semacam lorong yang panjang dan pengap. Ada sekian pertanyaan yang ingin kau utarakan. Ada sekian beban yang ingin kau teriakkan. Tetapi, aku tahu, kamu tidak bisa berbuat banyak.

Hidup memang kadang memilukan. Kita ditakdirkan untuk bersiakrab dengan kenyataan. Meski kita sama-sama tahu, terlalu berat untuk diterima, terlalu mustahil untuk dihindarkan. Waktu adalah daun-daun gugur yang menciumi pipi tanah. Dan tangan kita terlanjur melepuh untuk membersihkannya sebelum usia memutih di rambutku.

Aku tahu, kamu masih mengenang pernikahanmu pagi tadi, pernikahan yang dibanjiri airmata. Semacam kepasrahan yang tegak pada batas keharuan dan penderitaan. Ada yang tidak bisa digambarkan dengan kalimat apapun. Suasana yang semestinya penuh kebahagiaan berganti dengan suasana dengan penuh keheningan. Ada kekhidmatan yang lain. Orang-orang di sekelilingmu menangkap bahasa yang kau isyaratkan dalam diam.

Pernikahan tanpa ucapan selamat dan jabat hangat. Pernikahan hasil kesepakatan berat dua keluarga yang mencari jalan tengah. Semua yang sudah kamu persiapkan hampir tidak ada yang terwujud. Aku tahu, kerja kerasmu dalam menyusun rencana-rencana dan mimpi-mimpi besarmu.

Aku ingat, suatu kali, di senja yang sedikit lembab karena gerimis bersetia membasahi bumi kita yang telah menua. Dengan wajah sumringah, kamu sodorkan catatan-catatan rencana pernikahanmu dengan perempuan pilihanmu. Sebagai orangtua, aku menyambut dengan perasaan bahagia. Kamu memilihkan baju seragam yang kelak kita kenakan bersama, warna dan segala hiasan di pelaminanmu. Juga daftar catering yang akan kau siapkan di hari resepsimu.

Saat itu aku melihat anak satu-satunya yang kupunya telah beranjak dewasa. Mungkin sebentar lagi akan meninggalkan keluarga kecil ini, lantaran membuat keluarga kecil yang baru. Tidak kusangka mataku menghangat, seperti ada doa yang mencair menganak sungai di pipiku. Aku tidak ingin menyekanya, aku ingin kamu melihat airmata paling jernih yang bisa dihasilkan seorang ibu.

Aku bersaksi dengan segenap degup di dadaku, bahwa kamu adalah harta terbaik yang Tuhan titipkan. Aku merawatmu dengan hati paling lapang dan doa-doa yang panjang. Kamu adalah anak laki-laki yang keras dan pekerja keras. Aku hampir tidak pernah melihat kamu mengeluh, atas apapun yang kamu lalui dan rasakan. Kamu senantiasa mencoba baik-baik saja, meski aku tahu kamu mengalami kegagalan dan kesialan berkali-kali.

Kamu benar-benar laki-laki tabah. Anak laki-laki yang tidak ingin berbagi luka. Kamu seolah bisa menanggung semua nasib buruk yang terjadi. Sebagaimana yang kamu alami hari ini. Hari pernikahanmu semestinya akan terlaksana pekan depan, jika nasib buruk ini tidak menimpa kita.

***

Aku menemukan senja yang redup di matamu. Mata yang mendung, mengeramkan segala apa yang tak bisa kau jelaskan dalam kata-kata. Semacam lorong yang panjang dan pengap. Ada sekian kesedihan yang ingin kau sampaikan. Ada sekian kecewa yang ingin kau ceritakan. Tetapi aku tahu, kamu tidak bisa berbuat banyak. Selain menerima semua dengan dada terbuka.

Sebagai ibu, tentu aku sangat mampu menerjemahkan selaksa tanda di wajahmu yang murung. Ada ketidakmengertian yang kamu simpan di balik senyummu. Aku tahu, itu kau lakukan untuk menghiburku, memastikan ibumu tidak larut dalam duka paling luka. Ada perasaan kecewa yang mendalam di matamu, lantaran pernikahanmu tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Aku tahu, kamu adalah anak yang pintar. Sekolahmu yang tinggi pasti telah banyak memberi pemahaman hal-hal logis dalam hidup. Tetapi, kita hidup di masyarakat Jawa yang kental dengan kepercayaan purba. Kita tidak punya kuasa, selain membaca dan mempercayainya, itupun kalau kamu mau, sebenarnya. Tetapi entah karena kamu ingin membuatku tidak terlalu larut dalam kesedihan, kamu memilih untuk mengiyakan.

Aku tahu perasaanmu. Untuk itulah aku tidak memaksakan pernikahanmu pagi tadi, tetapi suara-suara yang berkerumun dari keluarga besar kita mengerucut pada kesepakatan paling berat di hidupmu, juga hidupku tentunya. Aku pun tidak pernah menyangka kita akan ‘kejatuhan gunung’, berupa kepergian ayahmu selama-lamanya. Sebagaimana kepercayaan para tetua kita, jika seorang anak akan menikah tetapi orangtuanya terlebih dahulu meninggal, maka harus dinikahkan di depan jenazah. Atau menunda pernikahan satu tahun Jawa, seusai bulan Asura.

Aku tahu kamu mengiyakan dengan perasaan paling luka. Tapi barangkali dengan ini, ayahmu akan tenang di sana. Ayahmu telah menyaksikan anak lelakinya mengikat janji suci, meski hanya dengan akad di hadapan kyai. Tetapi beginilah adat kita. Juga kemungkinan yang paling bisa kita lakukan. Kita tidak mungkin menunda, sementara semua persiapan pernikahan telah sempurna.

Hari ini pernikahanmu dilaksanakan. Pernikahan yang tidak wajar. Tidak ada perayaan suka cita seperti yang kamu impikan. Aku tahu ini sangat berat. Sempurnalah kepedihanmu. Karena ditinggal seorang ayah adalah kehilangan paling dalam. Aku tahu, hatimu belum siap menerima cobaan yang datang sebegitu berat. Dan genaplah sudah senja begitu redup di matamu.

***

Aku merasakan senja redup di mataku. Aku tahu kamu mampu menangkapnya. Kamu adalah orang yang sangat peka. Bahkan sebelum aku meminta, kamu selalu lebih dahulu memberikan. Kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku bersama ayah, tetapi sejak hari paling sial dalam hidupku ini, kamu mengemban tugas berat seorang diri.

Aku ingin menyudahi beban berat itu dengan mencoba membangun keluarga sendiri, dan kelak memberimu cucu untuk menemani hari-harimu. Semua sudah kususun dengan rapi. Aku telah memilih perempuan terbaik yang paling mungkin bisa kuajak untuk mengarungi kehidupan bersama.

Aku ingin memberikan kado untukmu berupa menantu yang sesuai inginmu. Dan hari pernikahan kami sepekan lagi semestinya dilangsungkan dengan penuh bahagia. Aku tahu, kamu pasti berat melepas anak lelakimu ini menjadi anak orang lain. Aku tahu kebersamaan kita akan berkurang, lantaran aku harus memulai berbagi cinta dengan keluarga baruku.

Aku melihat matamu yang berbinar, di senja yang sedikit lembab karena gerimis bersetia membasahi bumi. Dengan wajah sumringah, aku menyodorkan catatan-catatan rencana pernikahanku dengan perempuan pilihanku. Sebagai orangtua, kamu menyambut dengan bahagia. Aku memilihkan baju seragam yang kelak kita kenakan bersama, warna dan segala hiasan di pelaminanku. Juga daftar catering yang akan kusiapkan di hari resepsiku.

Aku meihat matamu berkaca-kaca. Aku menangkap ketakutanmu akan kehilangan anak lelakimu. Tenanglah, ibu, aku akan tetap memberimu porsi cinta dan sayang yang besar, meski aku sudah berkeluarga. Aku ingin sekali menyeka doa yang mencair menganak sungai di pipimu. Tetapi kamu ingin sekali menunjukkan airmata paling jernih yang bisa dihasilkan seorang ibu.

Aku juga bersaksi, dengan segenap degup di dadaku, bahwa kamu adalah harta terbaik yang Tuhan titipkan. Kamu merawatku dengan hati paling lapang dan doa-doa yang panjang. Aku selalu berusaha menjadi anak laki-laki yang keras dan pekerja keras. Aku tak ingin mengeluh, atas apapun yang kulalui dan kurasakan. Aku senantiasa mencoba baik-baik saja, meski kamu tahu aku mengalami kegagalan dan kesialan berkali-kali.

Kamu adalah ibu sekaligus istri yang tabah. Ibu yang tidak ingin berbagi luka. Kamu mengajariku untuk bisa menanggung semua nasib buruk yang terjadi. Sebagaimana yang kita alami hari ini. Semestinya, sepekan lagi, kamu dan ayah berbahagia melihat anaknya menikah.

***

Aku merasakan senja redup di mataku. Aku tahu kamu mampu menangkapnya. Kamu adalah orang yang paling peka. Bahkan sebelum aku meminta, kamu selalu lebih dahulu memberikan. Kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku bersama ayah, tetapi sejak hari paling sial dalam hidupku ini, kamu mengemban tugas berat itu seorang diri.

Sebagai ibu, tentu kamu mampu menerjemahkan selaksa tanda di wajahku yang murung ini. Ada ketidakmengertian yang kusimpan di balik senyumku. Kamu juga tahu, itu semua kulakukan untuk menghiburmu, memastikan kamu tidak larut dalam duka paling luka. Kamu tentu tahu, ada perasaan kecewa yang mendalam di mataku, lantaran pernikahanku tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Aku tahu perasaanmu. Untuk itulah kamu tidak memaksakan pernikahankuu pagi tadi, tetapi suara-suara yang berkerumun dari keluarga besar kita mengerucut pada kesepakatan paling berat di hidupku, juga hidupmu tentunya. Aku pun tidak pernah menyangka kita akan ‘kejatuhan gunung’, berupa kepergian ayah selamalamanya. Dan aku mengikuti kepercayaan para tetua. Dengan berat mengucap janji suci di hadapan jenazah. Lantaran tidak mungkin menunda pernikahan satu tahun Jawa, seusai bulan Asura.

Aku mengiyakan dengan penuh kesadaran. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, pun kamu, ibu, tetapi, barangkali dengan ini, ayah akan tenang di sana. Ayah telah menyaksikan anak lelakinya mengikat janji suci.

Hari ini pernikahanku benar-benar dilaksanakan. Pernikahan yang tidak wajar. Tidak ada perayaan suka cita seperti yang kuimpikan. Kenyataan ini sungguh berat. Sempurnalah kepedihanku. Karena ditinggal seorang ayah adalah kehilangan paling dalam. Aku memang belum siap menerima cobaan yang datang sebegitu berat. Dan genaplah sudah senja begitu redup di mataku. ***

.

.

Rumah Kertas, 2020

Dimas Indiana Senja. Pengajar IAIN Purwokerto dan pengasuh sejumlah komunitas sastra.

.
Senja Redup di Matamu.

Arsip Cerpen di Indonesia