Cerpen Diego Alpadani (Haluan, 04 Oktober 2020)
PURNAMA ketiga belas itu akan datang pada malam senin yang sakral. Tabu untuk dibiarkan tanpa melakukan apa pun. Aku menunggu, berusaha untuk tidak bersedih hati meski tanpa nyanyian penghibur. Aku telah kehilangan kepandaian dan perasaan utama dari surga.
Semua rontok perlahan setelah purnama kedua belas Senin malam. Ajaran-ajaran telah aku khianati. Telah kunistakan di hadapanmu. Di bawah benderang purnama kedua belas. Sekarang, biarlah karma mendekapku sepanjang penjelmaan berakhir.
Aku telah kehilangan kebijaksanaan surga ketika tepat berpapasan denganmu Dewi Ratih. Bibirmu yang melengkung serupa bulan sabit merah merekah, mencipta rasa darah yang menghakimi jiwaku. Gantung dagumu serupa suratan bukit surga yang aku rindukan. Bola matamu adalah kenyamanan yang membuatku betah bertatapan. Dalam dan tidak tertahankan. Kemerah-merahan pipimu menambah suasana harmonis malam. Liuk terurai rambut hitam legammu telah memaksaku untuk membuang semua ajaran Sang Muni Wara. Semuanya. Tak ada yang tersisa.
Aku telah kehilangan penjelmaan Dewa Asmara. Aku telah berkhianat pada kitab janji “Pemberi Rasa Absurd pada Manusia”. Semua rontok tiba-tiba ketika berhadapan denganmu Dewi Ratih. Lumbung jiwaku yang selalu dibasuh air surga telah membara menginginkanmu. Aku telah melanggar suratan penjelmaan. Kau adalah ciptaan yang harus aku taklukan. Kau adalah prioritas dari segala kesibukan asmara manusia. Dari setiap anak panah yang harus ditancapkan pada dada-dada muda maupun tua.
Sesaat sebelum purnama kedua belas tepat di atas kepala, lekat mataku menatap liuk tubuhmu. Aku seharusnya berada di singgasana ketujuh. Bersama para dayang dan penghibur lainnya. Memakan bermacam anggur dan meminum bermacam arak sambil menatap penari topeng menggenjot tubuhnya. Meliuk dengan godaan yang mampu menaikturunkan jakun pria. Semua mudah kudapatkan hanya dengan mengangkat telunjuk jari kiri. Namun, aku telah memilih untuk turun menemuimu. Mengintaimu dan berusaha memilikimu. Aku bagaikan pemburu yang hendak menikam mangsa. Namun, itu hanya artian sempit dalam permainan. Seakan semua cerita yang terwarta di lapis ketujuh itu benar. Kau kesempurnaan dari segala ciptaan. Tak ada yang dapat menandingimu Dewi Ratih. Bahkan aku yang disebut-sebut Dewa Asmara bisa dengan mudah tertunduk lemah di hadapanmu.
“Laksana menatap madu, lidah bernafsu mengecap,” ucapku waktu itu di belakangmu yang memakai selendang pancawarna. Menambah keindahanmu yang telah sempurna. Menjadikanmu jauh lebih dari sekadar cerita di Lapis Ketujuh.
“Selalu ada lebah di setiap madu,” ucapmu menundukkan kepala dan tetap memunggungiku.
Aku mengorek-ngorek tanah dengan ujung jempol kaki. Terdiam sesaat tak berbicara. Bulan purnama kedua belas belum tepat berada di atas kepala. Belum tepat untuk melanjutkan bicara. Namun, apa daya, semua ajaran telah terlupakan olehku. Aku telah melanggar apa pun ajaran. Semua demi mendapatkanmu Dewi Ratih.
“Demi umur panjang dibalut gembira ria. Lebah petaka dari neraka akan kubakar menjadi abu tanpa bara, Dewi Ratih.” Sudah tak sanggup lagi aku menahan gejolak rasa. Pertahanan terakhir gelar Dewa Asmara telah bertukar bulu demi kau Dewi Ratih.
“Demi keagungan rasa yang diberi Dewa Asmara. Tanam semua rasa dalam jiwa hingga tumbuh dan mekar. Biarlah rasa yang kau punya menjadi bukti tindakan yang tak perlu kau lisankan. Biarlah Dewa Asmara yang melepas anak panahnya.” Aku tak menyangka hingga saat itu kau belum juga mengenaliku. Tapi, itu mungkin jauh lebih baik untuk kedekatan kita.
Di belakangmu aku berusaha menyentuh lekuk tubuhmu. Entah kenapa aku yang disebut Dewa Asmara bisa sebodoh ini. Berpikir untuk mendapatkanmu adalah pantangan bagiku. Apalagi menyentuhmu. Tapi apa lacur, aku telah melanggar semuanya. Tidak dapat aku mengelak dari indahnya dirimu Dewi Ratih. Kaulah keindahan yang tak akan pernah terlupakan. Kau abadi. Di lain sisi, kau adalah petaka bagiku. Semua yang akan terjadi, terjadilah. Biar karma yang menuntun penghakimanku.
“Dewa Asmara telah mati. Asmaraku untukmu abadi. Sukalah kau memaafkan kebodohanku yang sangat teramat ini. Kau milikku. Kau dan aku akan menyatu. Serentak purnama kedua belas memancar. Tuntun aku masuk ke dalammu. Kan kutuntun kau masuk ke dalamku. Inilah kita Dewi Ratih. Terimalah takdirmu. Dewa Asmara telah mati. Kitalah yang menciptakan asmara itu.”
Kau berbalik menghadapku. Tiada sesiapa. Hanya kita bersama angin berbisik menggoda. Serta bulan kedua belas yang hampir sempurna. Tidak ada Kala Rau untuk memakan bulan tersebut. Sedetik pun tak bisa kupalingkan mata dari indahnya dirimu. Alis tipis yang terukir kiri kanan sama rata. Bulu mata lentik memanjang ke atas. Tak ada garis ketuaan di wajahmu. Wajahmu bercahaya. Membuat bulan akan iri jika kau dan ia harus beradu kecantikan.
Perlahan kau menatapku, “Kau!” ucapmu singkat lembut dan melebar dibawa angin malam. “Kau kasihanilah diri yang sengsara! Akan banyak sengketa. Lesung dan alu akan menjadi bencana. Aku Dewi Ratih, tak pantas untuk kau goda.” Suaramu semakin tinggi, namun tetap terdengar menggoda di telingaku. Bertambah-tambah rasa hendak memiliki setiap mendengarmu berucap.
“Aku telah buta, hanya kau yang tampak ada. Aku telah tuli, hanya suaramu yang tersimpan di rumah telinga. Aku telah mati, hanya kau yang dapat menghidupkan! Terimalah aku dengan segala kekurangan yang ada.”
“Dewa Asmara tak akan suka! Wisnu akan berang dan mendatangkan bencana. Aku bukanlah kepemilikan. Aku serupa benda yang tak dapat diraba! Pelajarilah kembali Tantri!”
Matamu melotot sewaktu itu. Tapi aku tetap mengangap semua itu adalah penerimaan darimu. Penerimaan dengan sedikit drama untuk mempertahankan kebajikan dan suratan yang telah tercipta. Suratan yang telah ada jauh sebelum kita ada.
Ketidaktahuanmu bahwa aku adalah Dewa Asmara membuatku leluasa menyentuh tubuhmu. Tubuh sehat dan kuat serta menggoda. Tentu kau terkejut, namun tak dapat memekik apalagi melawan. Karena aku Dewa Asmara, hal mudah bagiku untuk membuatmu terdiam tanpa perlawanan. Dan kita menyatu dalam dekapan panjang. Tepat purnama kedua belas berada di atas kepala. Kau dan aku telah menjadi satu dalam ikatan nyata. Benderang menandingi rembulan.
***
Saat ini aku telah menjadi sesuatu yang tak tampak. Purnama ketiga belas sesaat lagi bertahta. Malapetaka yang kuterima selama ini telah penuh dan menjadikanku gelap mata. Namun, semua masih menyembah dan berharap rasa terhadap Dewa Asmara.
Tak lama lagi bulan ketiga belas tepat di atas kepala. Perpisahan aku dan Dewi Ratih begitu lama. Angin indera bayu telah memisahkan kita. Aku terbuang di hutan asap larangan. Lebat akan asap sebagai karma dosa. Aku telah menyatu dengan asap di hutan asap larangan. Sesaat lagi Dewi Ratih. Aku akan menemuimu di tempat suci, saat kau terduduk di Bale Gading. Tunggu aku Dewi Ratih. ***
.
.
DIEGO ALPADANI. Lahir di Bandung. Saat ini ia tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Ia aktif berkegiatan di Labor Penulisan Kreatif (LPK), Teater Langkah dan Lab Pauh 9.
.
Purnama Ketiga Belas. Purnama Ketiga Belas.