EPISODE HUJAN
/
Saya tak pernah bertemu Socrates
dan muridnya Plato. Bahasa saya berbicara
Melalui kelopak-kelopak yang menari
dalam sebuah putik
/
Detak jantung adalah bunga yang tumbuh
seadanya. Merindukan hujan di tanah gersang
Mengelilingi jiwa, menyalakan mata saya
/
Mungkin saya tidak ada setiap waktu
Hanya jiwa saya. Mencarimu sepanjang jalan
Sampai di ujung-ujung jalan
Yang akan ditutup atau diledakkan
/
Di bawah hujan matamu, jalan-jalan berlari
Menyimpan ribuan pelangi di dalam dirimu
Saya mati. Saya mati setiap saat
menghirup nafas saya. Dunia imajiner
membangun kembali kota-kota yang terluka
/
Saya akan terus melukis kata-kata
Dengan tetesan hujan dari banyak warna
Meninggalkan jejak tanpa berjalan
Tak ada pagi, siang menjadi malam
Yang menakutkan
Memanjat seribu mimpi-mimpi
/
Langit adalah laut di mana mimpi-mimpimu
terbakar. Meleleh dalam kota-kota
yang hilang dalam dirimu. Suaramu memanjat
jiwa saya. Hanyut dalam gelombang
Ke tengah-tengah lautan
Menuju langit-langit hujan
/
Padang, 2019
/
Wirja Taufan lahir di Medan, 15 September 1961, dengan nama Suryadi Firdaus. Buku puisi terbarunya adalah Bunga, Kupu-kupu, Mimpi dan Kerinduan (Imaji Indonesia, 2020). Pada 1984 ia menerima Hadiah Kreativitas Sastra Bidang Puisi dari Dewan Kesenian Medan (DKM).
/
SORE PADA JENDELA TAMAN
/
kita seperti benda-benda masif menyusun
matahari lain dari buku tua epicurus yang
berjalan sendiri di bentang waktu, kalender
hujan, ritus-ritus cuaca dan musim tanam
tumbuh, sebuah tata hidup manusia tanpa
harus memasang mata sebagai saksinya
/
2020
/