Empat jam yang lalu
Sebuah dokumen bersampul putih mendarat di mejaku. Sebenarnya, mendampingi keluarga pasien untuk menyelesaikan administrasi bukanlah hal baru. Tapi kali ini beda. Ini tetang kelangsungan hidup satu keluarga.
Seragam putih yang kugunakan tiba-tiba memunculkan noda-noda darah. Berebutan noda-noda itu bercerita. Kisah pertemanan dengan alkohol, infus, tak tertinggal cairan kimia alami berupa keringat. Noda-noda itu bergulung-gulung menjadi pusaran hitam. Berputar kencang kemudian meluncur deras ke jantungku. Tubuhku terhuyung. Kakiku melangkah surut.
“Rin, antar dokumen itu ke istri Sukitno, Paviliun Cempaka. Hanya itu cara membebaskan keluarga Sukitno dari tagihan rumah sakit sebesar 20 juta!”
Lima jam lalu
Aku seorang remaja kelas 7 SMP dengan dua adik laki-laki kelas 3 dan 1 SD. Bapakku pedagang es tape keliling. Ibu buruh tandur sekaligus mengurus kebun singkong milik tetangga. Bapak sudah renta untuk bertahan bekerja di pabrik pati. Dengan sepeda tua, Bapak berkeliling kampung menjajakan es tape buatan ibu. Pelanggan Bapak kebanyakan buruh-buruh tani dan pekerja kasar pabrik. Murah, itulah alasan mereka memilih es tape. Seiyanya mereka tidak mengambil banyak jatah bayaran untuk keluarga.
Tepat di hari keduapuluh setelah dirawat inap akibat infeksi, Bapak meninggal. Aku yang hanya anak perempuan menangis tanpa suara. Kupeluk tubuh ringkih ibu yang kurang tidur.
“Nduk, suster bilang biaya perawatan Bapak 20 jt lebih.”
***
Sirene ambulans meraung-raung menuju sebuah pemakaman. Pukul 14.00 waktu yang dipilih untuk pemakaman laki-laki paruh baya itu. Tibalah ambulans di depan gapura makam. Lima orang berpakaian APD lengkap warna hijau keluar dari mobil. Sebuah peti mati diturunkan. Udara yang teramat panas itu tak menghalangi langkah kelima tenaga medis itu. Juru kunci yang sedang mengaso kaget bukan kepalang. Dengan tergopoh dia mendekat. Teramat hapal dia berlari meliuk-liuk melintasi jalan setapak tanpa takut terantuk nisan. Bibirnya yang gemetar dipaksakan untuk bertanya,” Siapa yang meninggal, Mas?”
Salah seorang dari tenaga medis itu menjawab, “Bapak Sukitno yang tinggal di Kampung Ndalem. Di mana tanah makam yang kosong Pak?” Tenaga Medis itu balik bertanya.
Juru kunci yang mendengar jawaban itu tubuhnya menegang. Wajahnya pasi. Sukitno yang tinggal di Kampung Ndalem. Bukankah itu teman semasa jadi buruh kasar di pabrik pati.
“Di mana tanah makam yang kosong, Pak?”
Juru kunci itu terjaga dari lamunannya. Dia menunjuk bagian ujung selatan pemakaman. “Tapi belum ada liang lahat yang digali. Saya tidak tahu kalau hari ini akan ada pemakaman.”
Kelima tenaga medis itu meliuk melewati puluhan nisan menuju arah yang ditunjuk. Langit pemakaman menjadi kelabu. Angin kering yang berhembus kencang menjadi senyap. Daun-daun kamboja yang berderak menjadi diam.
Tiba-tiba peti bergerak pelan. Mereka segera menurunkan peti. Ketakutan mencekam. Hantu jalang mana yang berani menampakkan diri di siang derang. Tapi laki-laki pantang takut. Mereka melangkah mundur. Peti itu semakin bergoncang hebat. Segel yang mengunci dari empat penjuru bergulir keluar.
Penutup peti bergeser. Mayat Sukitno terduduk dari dalam peti itu. Kantong resleting yang membungkus raganya terbuka perlahan. Tubuh pucat keluar serupa kepompong yang pecah belum waktunya.
Kelima nakes yang mengelilingi mayat mengeluarkan suara-suara samar yang terhalang masker respirator. Kecuali juru kunci. Dengan mata yang nyalang dihampiri mayat itu.
“Sukitno. Sukitno. Ini aku Pandu. Mengapa tubuhmu dibungkus plastik, Sukitno? Mengapa bukan kain kafan saja yang membungkusmu?”
Mayat yang ditangisi Pandu itu hanya menunduk sendu. Merangkak keluar dari peti. Sembari berjalan gontai diraihnya cangkul. Sampai di area yang kosong dia mulai mencangkul. Satu, dua, sampai seratus cangkulan.
Liang lahat itu mencapai kedalaman dua meter. Mayat itu merebahkan pelan badannya. Dimiringkan tubuhnya ke arah kiblat. Adzan ashar berkumandang. Seketika tanah galian lahat itu bergetar runtuh. Menutup bagian kaki, bagian badan, bagian leher, dan sesaat setelah adzan selesai tanah itu menutup sempurna kepalanya.
Pemakaman telah purna. Tanpa bunga. Tanpa sanak.
Tubuh Pandu mengigil. Secepat kilat dicangkul kembali tanah merah itu. Dia terus mencangkul dan mencangkul. Tapi alam mahabaik. Semakin mencangkul semakin menutup kembali. Terus berulang. Sampai akhirnya tersungkur. Tak ada iba di mata kelima nakes itu. Tanpa komando mereka segera berbalik meninggalkan tempat itu. Salah seorang dari mereka mengambil tabung penyemprot disinfektan. Disemprot semua bagian ambulans termasuk kawan-kawannya. Setelah selesai dia kembali masuk ke pemakaman. Di depan Pandu yang masih tersungkur, dia semprotkan cairan disinfektan. Pandu seperti batu, tak merasa apa-apa.
Satu jam kemudian
Aku tak percaya jemariku mampu menandatangani dokumen bersampul putih itu. Kresek kecil warna hitam berisi sejumlah uang menjadi tanda. Tak ada upacara brobosan. Tak ada tumpeng mungkur. Tak ada wangi rajangan daun pandan yang dironce di atas keranda.
“Ibu, jangan menangis lagi. Adik-adik senang sekali ibu pulang membawa nasi padang. Bukannya ibu tidak punya uang?” ***