Tepi Laut Kadra

Suatu ketika Ratri duduk di atas tanah berwarna putih. Tanah itu terlihat kering. Tiba-tiba di atas tanah yang kering itu berguncang. Ditekan dari bawah, lalu tanah putih itu menjadi hijau bersinar.

Setelah kejadian itu, Ratri menjadi sosok yang banyak dinanti kedatangannya. Malam itu bagi Ratri malam ganjil, di mana dia seperti biasa tak pernah banyak bicara. Di tepi pantai sebuah pulau di kawasan timur manusia bisa merangkum cerita yang tak biasa-biasa saja. Alam pikirannya harus melayang-layang. Terkadang terbang bebas dengan segala rupa. Pada akhirnya jadilah kosa kata tanpa ujung cerita. Tentang masa tua yang terbagi-bagi dalam banyak pengalaman. Bagaimana bisa Ratri menaruh harap air laut menjadi sedemikian putih jernih.

Bagi orang-orang, Ratri adalah harapan. Dalam dirinya selalu saja membiru-biru. Tak karuan menjadi apa saja yang sudah dapat dipastikan inilah awal dari sebuah skema. Atau paling tidak menjadi drama telenovela. Angin bibir pantai saat itu memeluk ringan. Menepi pada pori-pori kulit yang sejak siang belum sedikit pun tersengat matahari.

“Aku sudah pasti menyimpan rindu yang mendalam secara pelan-pelan. Memastikan nakhoda tak ke mana-mana saat jangkar kapal belum benar-benar terlempar ke tepian,” kataku, jika suatu hari bisa ketemu Ratri.

Kataku lagi, perjalanan ini adalah perjalanan manusia muda. Nanti pasti akan menghasilkan rangkuman cerita yang cukup memenuhi rak buku. Memenuhi perjalanan kalender hidup. Aku tetap saja menganggapmu sebuah pesona. Ada rasa yang sedikit menggoda dan lekat sekali untuk sekadar diingat-ingat. Dari sanalah aku mengerti bahwa teka-tekimu adalah sebuah kisah yang indah.

Aku tak lagi mengerti apa saja yang dibutuhkan untuk mengenalmu sampai pagi, Ratri. Paling tidak untuk memastikan bahwa kamu memberikan bahagia dari arah mana saja kepada orang-orang. Demikian indahnya jika hal itu terjadi bukan hanya untuk wali Tuhan, tapi untukku dengan kadar yang rendah sekalipun. Termenunglah aku, apakah jika situasi ini kubayangkan bisa berlangsung lama dan mengenai apa saja yang tak pernah kutemukan. Saya akan terus memastikan bahagia dalam doa dan salam sajak-sajakmu yang demikian ditunggu.

Jika bukan karena Ratri, aku tak akan secepat ini berlari. Tak pula saat pulau ini kejejaki untuk siang ini. Siang yang syahdu tanpa lagu-lagu. Begitu kapal bersandar dan sirine meraung-raung pelan, tak pernah ada pesan. Siang itu menjadi pesan tersendiri di dalam perjalanan yang bahkan kondektur pun tak meraup untung. Di dalam rangkuman-rangkuman terpisah kehidupan yang nyata. Ada semacam lembaran kertas penuh dengan tinta yang tak melebar ke mana-mana, jika dilukis menjadi panorama indah yang fana.

Sepanjang perjalanan tak banyak yang kuceritakan karena bayang Ratri tiba-tiba menghilang. Lenyap lalu terbang setinggi-tingginya. Aku masih bersandar di dek kapal. Bersandar dengan menyaksikan air-air berlarian saling kejar. Sahut-menyahut tak beraturan. Melambai pelan mendalam dengan saling terurai begitu saja. Terlihat di seberang sebuah tongkang putih kehitaman. Semula samar-samar namun ada gerakan tipis menebal dan lalu demikian nyata terlihat dari dekat. Selamat jalan tongkang. Kutinggalkan kau dalam penglihatan. Kutinggalkan doa dalam seisi kapal yang kau gendong pelan. Hanya itu katamu juga kataku menjadi simpul untuk menuju tujuan yang semakin dekat. Aku semakin rindu hanya saja kamu belum terbangun dari tidurmu.

Syahdan aku lupa kalau sejak tadi mentari memang sedang tak menampakkan apa-apa. Kugendong tas, kutarik koper, kupastikan aku jumpa dengan orang yang kukenal.

Seperti jalanan yang sepi tak ada lagi roda-roda. Aku terhenyak di bukit buatan itu. Hamparan laut mengayun hingga tepi. Sore yang lelah dengan segepok keinginan manisnya dunia yang tak pernah tuntas.

“Aku besok yang mencoba bermain dengan kura-kura.”

“Tapi di mana ada,” kata Sauki.

“Di pulau pertama itu tampaknya ada.”

“Baiklah kita besok menyeberang ke sana,” sahutnya.

“Kura-kura atau hiu-hiu?” tanyaku.

“Dua-duanya boleh,” jawabnya.

Bukankah ujung pulau pertama yang kulihat itu adalah dahulunya tempat penangkaran hiu-hiu muda. Pada akhirnya harus mati menghirup racun yang entah dari mana asalnya. Semua orang kala itu mengabarkan awalnya, namun kemudian tak ada ujung kabar matinya hiu-hiu itu. Sengaja diracun kaum barbar karena persaingan bisnis atau saking buruknya kualitas air laut atau pula tempat penangkaran yang tak memadai karena tereksploitasi manusia. Sudah berkali- kali mencoba mengalihkan pandangan di pulau pertama untuk menatap di pulau lain yang berderetan dari kejauhan. Namun mata ini tak bisa.

Raut muka pucat berjalan tergopoh-gopoh saat air laut surut. Kedinginan dengan mata yang menatap tajam. Malam melesat cepat di bibir pantai pukul lima pagi, tak ada yang mengetuk pintu membangunkanku. Aku segera bangun setelah angin pagi semakin dingin. Aku memastikan seluruh tim lengkap. Aku menyeringai tidak menanggapi omelan kanan-kiri yang kebiasaannya memang begitu. Tiga puluh menit kemudian, penduduk laut mulai menggeser perahu yang terparkir semalaman. Tak ada anak-anak seluruhnya terlihat orang dewasa.

Sesekali kuperhatikan rombongan nelayan memanggul jaring ikan. Kulit mereka hitam-hitam. Badan mereka gempal dengan postur tidak seperti orang Asia pada umumnya. Dengan wajah ceria mereka membawa dirigen bahan bakar. Aku menelan ludah. Mungkin senang sekali mereka kembali beraktivitas di tengah wabah. Mereka pergi ke tengah membawa bekal untuk pulang keesokan hari. Kusegeralah mengusir pikiran terhadap orang laut itu. “Aku juga punya perahu, perahu bawah sadar dengan nakhoda kekasihku,” gumamku.

Ibuku dulu pernah bilang, “Hidup ini hanya soal sudut pandang. Digeser sedikit saja cara kita memandang, kita bisa mengubah sesuatu yang menyebalkan menjadi sesuatu yang menyenangkan.” Bahkan, ibuku benar karena bisa belajar banyak di laut ini, sekaligus mengusir kejenuhan kehidupan di belahan kota dingin itu.

Hari berikutnya, saat mesin-mesin perahu dihidupkan lalu dimundurkan, aku memperhatikan dinding beton dermaga kapal yang berkarat. Kutatap gurat-gurat di dinding kokoh itu. Sepanjang ratusan meter. Aku memegang melihat peta di ponsel masih menyala menuju bujur timur. Proyeksi tentang jalur laut sebelum melintasi pulau-pulau. Dua puluh tujuh pulau tak seluruhnya bisa terbaca. Aku mengira bakal rumit membaca peta kalau seluruhnya pulau kutempuh. Pasokan signal tak lagi mendukung. Hanya menghafal kira-kira arah angin, yang pulau ini sejak kecil sudah kukunjungi.

Aku mengintip lamat-lamat dari balik badan kapal. Aku berusaha merekam dengan akuran apa pun yang kulihat kali pertama. Aku sepertinya memahami sesuatu dari balik dek kapal itu.

“Apakah kita akan sampai ke tengah pulau itu ketika hujan turun?” tanyaku.

Aku yang sedang ngobrol dengan dua remaja itu kemudian menoleh ke gemericik air yang disapu-sapu perahu. Sementara para remaja lainnya menikmati situasi yang tak biasa mereka temukan. Empat kali bertanya, dua kali terjawab. Sisanya dengungan suara tak jelas tertangkap telinga.

Aku terdiam, menatap orang-orang.

Juga dua remaja putri itu. Mereka melihat lagi panorama biru dengan air bergelombang riang. Mendayu-mendayu naik-turun serupa syair lagu. Menjalankan kebahagiaan di tengah lautan tidaklah mudah, terutama bagi sejumlah kawan lanjut usia. Empat puluh menit perjalanan laut mereka saling tatap.

“Ah, ini indah sekali. Cuaca yang sangat terkenang untuk melempar tawa.”

“Bagaimana aku menikmati bahagia siang ini untuk dibawa pulang.” Teman yang lain menatapku heran. “Maksudku mengarungi lautan ini barangkali seumur sekali, membutuhkan pikiran yang segar untuk merekam setiap gerak.”

Aku terdiam dan memikirkan Ratri sebenarnya di mana dia berada. Kumengusap rambut yang mulai basah tersiram air dari ujung badan perahu. Aku usap dengan tangan namun tetap saja tak kering. Kemudian aku memilih naik ke atas atap perahu, agar rambut kering. Dia atap itu pulalah bisa menikmati seluas samudera dengan hiu-hiu hidup di dalamnya. Itulah seperti terbayang begitu saja di kepalaku.

“Gerimis di depan pintu tanpa bayang-bayang,” gumamku.

“Kabut tipis memeluk erat. Pun daun jendela masih menggigil kedinginan,” kataku.

“Tanpa pelukan tanpa nyanyian. Kau pun tiba-tiba menyambar angin. Sebelum matahari datang pelan,” kataku lagi.

Dulu di kawasan ini bulan sabit terlihat merona pada malam. Malam dengan bulan di bibir pantai tentu bergairah. Pagi harinya semburan matahari dari balik bukit menambah kehangatan, meski Ratri tak datang. Pada masa nanti, saat kita kembali bersama, aku mungkin sendiri. Hingga tak menyangka kembali untuk kali ke sekian. Dan teman-temanku ini rambutnya memutih tersisa cerita-cerita. Betapa rindu ini menunggu Ratri, bukan. Di tepi laut Kadra seperti yang dikisahkan satu episode kisah Musa.

Dalam rindu yang dalam ini aku bermimpi diperintahlah memakan amarah. Mula-mula terlihat besar, tapi jika bersabar menahannya amarah menjadi kecil hingga tak tersisa. Malam itu Ratri memberi semangkuk emas dan memintaku untuk memberikan siapa saja yang malam itu datang. Setelah itu aku terbang. (37)

Wonosobo, 5 April 2021

Edy Purnomo, memiliki nama samaran Edy Pandjaitan. Lahir di Jepara 5 April 1985. Beberapa karyanya antara lain kumpulan puisi Kupu-Kupu Pagi (2005), Antologi Puisi 100 Wartawan Penyair (2018), dan novel Panggil Aku Irine Saja (2021).

Arsip Cerpen di Indonesia