Kartini

Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Radar Bromo, 18 April 2021)

“KUBAKAR buku-bukumu itu!” Samsul mengamuk.

Buku-buku milik Kartini dihantamkan ke tembok dengan keras. Matanya nyalang penuh amarah.

“Mas, mbok ya sudah, jangan kasar begitu sama Kartini. Dia kan cuma kepingin sekolah,” ujar Nurma.

“Apa dengan sekolah uang bisa datang? Yang ada malah justru kita bakal kehabisan uang kalau dia sekolah! Kamu mikir nggak?”

Kartini berlari ke arah Nurma. Ia tak kuasa menahan tangis di bawah ketiak ibunya. Bocah berumur sepuluh tahun itu terlampau takut oleh amarah bapaknya. Maka, daripada melihat, ia lebih memilih melakukan itu. Nurma yang awalnya bisa tegar, akhirnya jebol juga dan turut menangis karena tak sanggup menatap anaknya seperti itu.

Nurma berbisik pada Kartini. Kartini memahaminya dan beringsut menuju ke kamar. Di dalam kamar berukuran 2×2 meter itu, ia masih menangis. Segala ocehan yang keluar dari mulut bapaknya telanjur tertangkap oleh telinganya. Tiba-tiba tangan kanannya terkepal. Tangis di wajah ayu itu perlahan berangsur hilang dan tergantikan dengan merah padam.

Malam itu, saat bapak dan ibunya tengah terlelap, Kartini nekat kabur dari rumah. Hanya beberapa helai pakaian yang dimasukkan ke dalam tas sekolahnya. Sementara, kaus oblong dan celana panjang hitam membalut tubuhnya. Tak lupa kerudung putih sebagai penutup kepala. Kartini berangkat menembus gelap, entah ke mana.

Keesokan harinya, Nurma kalang kabut mencari Kartini. Diguncang-guncangkan tubuh Samsul agar segera bangun. Air mata berlelehan di pipinya.

“Mas, Kartini hilang!”

“Kamu kenapa, sih? Paling juga main.”

Samsul bergeming dan membalikkan badanmembelakangi Nurma.

“Tapi dia tinggalkan ini di atas meja!”

Selembar kertas tergenggam oleh tangan Nurma yang melayang di udara. Mendengar itu, Samsul pun penasaran dan menatap Nurma. Matanya segera tertuju pada kertas itu. Dibuka dan dibacalah isinya:

Pak, Bu, Kartini pamit. Tadi malam Bapak sama Ibu tidurnya nyenyak sekali, Kartini ndak mau ganggu. Kartini kepingin sekolah. Bapak sama Ibu ndak usah cemas. Doakan saja, semoga Kartini bisa jadi orang sukses.

Kartini

Selepas itu, reaksi Samsul justru berkebalikan dengan apa yang ada di benak Nurma. Samsul sama sekali tidak memedulikan anak kandungnya. Hatinya telah mati tertimbun batu kebencian bergununggunung, hingga tak berbentuk lagi.

“Baguslah kalau dia pergi, jadi kita tidak perlu susahsusah mencarikan uang untuk menyekolahkannya. Buatkan aku kopi, ya. Habis ini aku mau mangkal!”

“Ndak, Mas. Kita harus cari Kartini sekarang juga!”

Samsul menepis tangan Nurma yang menghalangi jalannya dan menuju ke kamar mandi. Nurma masih sesenggukan. Ia tak tahu harus bagaimana. Ke mana ia harus mencari Kartini?

Pagi itu, setelah menyeruput kopi yang dihidangkan Nurma di atas meja, Samsul berangkat mangkal. Seulas senyum culas tersungging di bibirnya yang kering. Nurma tak tahu, kalau sebenarnya Samsul tidaklah mangkal, melainkan kumpul dengan teman-temannya yang katanya menjanjikan bisnis dengan keuntungan besar. Selepas mandi, ia sempat menggeledah lemari dan mengambil uang simpanan Nurma.

***

Kartini berhenti di sebuah butik baju di pinggir jalan. Bibirnya amat kering lantaran belum minum dari semalam. Ia kemudian masuk dan bermaksud ingin istirahat sejenak. Namun, salah seorang penjaga butik yang melihatnya seperti risi dan menyuruhnya segera pergi. Saat penjaga butik itu mendorongnya, saat itu pula pemilik butik menangkap tubuh ringkih itu supaya tidak terjatuh. Penjaga butik spontan menundukkan kepala dan meninggalkan Kartini saat pemilik butik memberi kode lewat tatapannya.

“Nama Adik siapa? Kenapa tidak sekolah?” tanya si pemilik butik itu ramah.

Kartini tidak menjawab, ia justru menghambur dan memeluk pemilik butik itu.

Tangisnya pecah seketika. Ia kembali teringat pertengkaran bapak dan ibunya di rumah. Si pemilik butik lantas membawanya ke dalam butik. Beberapa pasang mata yang melihat turut iba. Tapi banyak juga yang menatap iri. Namun, Kartini acuh saja. Ia bukan orang jahat, pikirnya.

Kartini duduk di salah satu kursi di ruangan ber-AC itu. Air matanya masih berlelehan. Dengan cekatan, si pemilik butik menghapusnya. Kartini memandang orang di hadapannya. Apakah dia orang baik, pikirnya lagi.

“Tunggu sebentar, ya. Tante ambilkan minum.”

Kartini bergeming saat pemilik butik itu mengambilkan air minum untuknya.

“Minumlah!”

Kartini segera meminum air itu hingga tandas. Barulah setelahnya ia bercerita.

“Bapak sama ibu bertengkar. Kartini kabur dari rumah.”

“Oh, jadi nama Adik ini Kartini. Kartini, ikut tante Ajeng ke rumah, ya. Ndak usah takut. Mau, ya?”

Kartini pun mengangguk. Sesampainya di rumah Ajeng, Kartini disambut dengan baik oleh pembantu Sejak usia lima tahun, Ajeng hidup tanpa kedua orang tua dan hanya mengandalkan warisan seadanya. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Kemudian, pembantunyalah yang merawat dan menyekolahkannya hingga sukses seperti sekarang. Ajeng pun menjelaskan pada pembantunya tentang Kartini. Sementara, Kartini akan tidur di rumah Ajeng. Barulah esok ia akan mengembalikan pada orang tuanya.

Namun, kenyataan berkata lain. Kartini trauma dan terlalu takut jika kembali ke rumah. Meski Ajeng sudah membujuk, ia tetap tak mau. Maka, Ajeng pun memutuskan agar Kartini tinggal dengannya. Hari berangsur cepat, berubah bulan, hingga akhirnya menginjak tiga tahun. Kartini bahkan sudah mulai lupa pada traumanya. Tapi bukan berarti ia ingin kembali ke rumah. Ajeng membiarkannya dan menunggu sampai tiba waktu yang tepat. Kartini pasti mau kembali pada orang tuanya, pikirnya.

***

Sepuluh tahun berlalu, Kartini tumbuh menjadi gadis muda yang sukses. Ajeng begitu bangga memandang anak angkatnya itu kini telah meneruskan usaha butiknya. Anak baik itu memang memiliki inisiatif tinggi. Ia ingin Ajeng istirahat, katanya suatu kali di malam yang dingin. Biar Kartini yang bekerja, lanjutnya. Sudah saatnya membalas kebaikan dari orang semulia Ajeng.

Hari ini, Kartini akan menghadiri peresmian butik barunya. Ia sangat cantik dan anggun. Sesampainya di butik baru, semua mata tertuju padanya. Namun, di tengahtengah acara peresmian itu, tiba-tiba datanglah dua orang pengemis. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Mata kedua pengemis tak lepas memandang Kartini. Seolah-olah mereka ingin sekali bertemu dengan Kartini. Tapi Kartini tak menyadari hal itu dan tetap melanjutkan sambutannya.

Saat salah seorang karyawannya hendak berusaha mengusir kedua pengemis tersebut, Kartini mencegahnya.

“Jangan, Surti.”

“Tapi kenapa, Bu?”

“Karena mereka berdua itu bapak dan ibu saya.” ***

Semarang, April 2021

Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media.

Arsip Cerpen di Indonesia