“Yang penting sudah bisa sekolah saja sudah cukup.” Hampir seluruh orang tua di desaku mengatakan hal itu saat aku mengetuk pintu rumah mereka dan menawarkan diri untuk menjadi guru mengaji bocah-bocah itu.
Aku menawarkan jasa gratis untuk mereka, tapi rupanya bukan karena uang mereka menolakku. Sudah hampir puluhan tahun warga desa menganggap mengaji itu tidak penting. Mereka lebih suka anak-anak membantu di sawah dan bisa membaca menulis saja sudah cukup.
Aku memang bukan lulusan S-1, apalagi S-2 yang mempunyai wawasan luas dan pemikiran-pemikiran kritis. Aku hanyalah seorang gadis berumur 26 tahun lulusan SMA yang tak terlalu terkenal di desa kami. Tapi, aku tahu, mengaji sangatlah penting, apalagi untuk warga kampung kami yang mayoritas memeluk agama Islam.
Ketika impitan hidup makin mencekik, warga sibuk menyelamatkan diri dan mengorbankan pendidikan agama anak mereka. Sayang, hal ini dilakukan terus-menerus hingga para penerus muda tak mengenal lagi huruf hijaiyah.
Mimpiku sederhana saja, saat mereka mau menerimaku menjadi guru mengaji di rumah mereka dan menghabiskan tak lebih dari satu jam sehari untuk mengajari anak mereka mengaji.
Perang pertamaku adalah meruntuhkan tembok keyakinan para orang tua dan usaha pertamaku akan kumulai hari ini. Aku akan berkunjung ke tiap rumah dan mencoba bicara pada tiap orang tua tentang pentingnya mengaji untuk anak-anak mereka.
“Maaf Mbak, tapi anak saya sudah sangat sibuk. Mereka harus sekolah di pagi hari, memberi makan ternak sorenya, dan mengerjakan PR sebelum tidur.”
“Satu jam saja kok, Bu.”
“Ndak bisa.”
(Di rumah pertama si ibu menyuruhku pergi).
“Anak saya gak bakal ngasilin duit dari ngaji. Untuk apa? Buang-buang waktu saja. Lebih baik anak saya bantu saya di sawah.”
“Pak, saya ngajari anak Bapak untuk membaca kitab suci Alquran, Pak, kitab sucinya Bapak. Bapak Muslim kan?”
“Nggak bisa ngaji juga ndak apa. Saya ndak bisa ngaji, yang penting rajin shalat dan tidak mencuri saja.”
“Tapi, Pak….”
(Di rumah kedua, si bapak menutup pintu rumahnya sebelum aku selesai berbicara).
“Aduh Ndhuk, yang penting itu bisa nulis sama baca biar nanti dapat kerja, kan kalau tes kerja ndak perlu bisa ngaji.”
“Ngaji itu pintu awal untuk mengkaji isi Alquran sebagai pedoman hidup, biar nanti hidupnya terarah, selamat dunia akhirat.”
“Kalau akhirat itu urusan nanti Ndhuk yang penting sekarang bisa makan dulu.”
(Di rumah yang entah keberapa ini si ibu bahkan mengantarku keluar sampai di halaman rumahnya dan menutup pagar rumahnya).
Kakiku sudah terasa kesemutan luar biasa karena berjalan dari ujung kampung sampai hampir sore. Rupanya, cara ini tak berhasil. Aku harus mencari cara lain. Mungkin, mereka akan mendengar seseorang yang lebih berpendidikan, terpandang, dan punya ilmu agama yang lebih dalam dari sekadar wanita yang tak berprestasi sepertiku.
***
Belum Subuh, tapi aku sudah di perjalanan menuju desa seberang. Jaraknya cukup jauh dan tak banyak kendaraan yang bisa membawaku ke sana. Jadi, aku harus rela bangun pagi-pagi sekali untuk menumpang mobil pikap sayur ke sana. Ada seorang ulama yang namanya sudah terkenal pintar tinggal di sana dan aku rela berlutut di hadapannya agar beliau sudi menemui warga kampungku.
Syukurlah ada beberapa warga yang membantuku menemukan rumah Sang Ulama. Wajah beliau benar-benar adem dan tutur katanya lembut. Setelah aku bercerita dan menghabiskan banyak tisu untuk mengusap pipiku yang basah, beliau bersedia mengunjungi desaku.
Tak sulit mengumpulkan warga. Mereka suka sekali melihat orang terkenal dan tentu saja ulama yang kubawa termasuk orang terkenal hingga ke desa-desa lain. Mereka berkumpul, berbisik, dan saling berdesakan untuk melihat Sang Ulama lebih dekat.
Namun, setelah beliau memberi wejangan tentang pentingnya mengaji, membaca Alquran, dan memahami maknanya, warga mulai bosan. Mereka meninggalkan lapangan satu per satu. Bagi mereka yang penting sudah pernah melihat wajah orang terkenal dan tidak penting apa yang disampaikan beliau.
Aku menunduk lemas. Bagaimana cara menyadarkan mereka? Di sepanjang malam aku tak tidur dan hanya duduk di depan TV yang memberi tayangan berita tentang hal-hal aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya dan mereka menyebutnya kids jaman now, guyonan di balik kehancuran generasi muda yang miris sekali untuk dilihat dan didengar.
Itu dia, aku akan ke kota dan merekam tingkah kids jaman now yang jauh dari guyuran pendidikan agama. Dan aku akan menunjukkan video itu kepada warga dan menyadarkan mereka bahwa belajar mengaji adalah langkah awal untuk mendekatkan anak pada agama serta memberi koridor untuk menjauhkan mereka dari hal-hal yang tak sepantasnya dilakukan dan dilarang agama.
Saat itu juga aku berkemas dan berdiri di ujung jalan. Kurasa, jam segini masih ada mobil pikap yang lewat untuk mengantar hasil bumi kami ke kota. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya aku melihat cahaya lampu dari jauh. Si sopir berkulit hitam kelam itu bersedia memberiku tumpangan walaupun aku harus duduk di belakang bersama karung-karung bawang yang menyengat.
Tak kusangka, ternyata di kota membutuhkan waktu berhari-hari. Setelah turun di pertigaan jalan besar aku yakin badanku sudah sangat bau sekali karena beberapa orang berjalan menjauh dariku. Pak sopir hanya memberitahuku jika aku ingin pulang aku harus menunggu pikap-pikap lain yang menuju desa.
Selama hampir seminggu aku mendatangi beberapa sekolah dan perguruan tinggi di kota. Berjaga di ujung jalan ditemani panas dan debu untuk merekam tingkah-tingkah aneh dan tak layak dari bocah-bocah itu. Tak jarang aku mengikuti mereka tawuran dan tersesat di jalan.
Bukti yang kukumpulkan sudah lebih dari cukup. Kini, saatnya aku menunggu pikap di pertigaan jalan untuk mengantarku pulang. Sayang, satu-satunya pikap yang kutemui hari ini adalah pengangkut anak kambing. Aku harus berdiri di sepanjang perjalanan kalau tak ingin terkena kotorannya.
Warga terlihat jijik melihatku turun bersama anak-anak kambing dan berbau sama seperti mereka. Aku hampir lupa dengan bau badanku sendiri karena terlalu lama mencium bau kambing. Semua ini kulakukan demi harapanku mendengar anak-anak kampung ini mengaji.
Sulit sekali mengumpulkan warga sekarang setelah insiden ulama tempo lalu. Warga berpikir, aku sedang menggurui mereka dan sekarang ada julukan baru bagiku. Mereka bilang, aku si sok pintar. Tapi, aku tak menyerah, saat itu juga aku mendatangi rumah Pak RT dan Pak RW. Kepada beliau berdua kutunjukkan video mengenaskan itu dan kujelaskan maksud baikku kepada mereka.
Kami mulai membuat pengumuman dengan suara pengeras masjid agar mereka berkumpul di balai desa. Akhirnya, semua warga berbondong-bondong berdesakan untuk mendapat tempat duduk, sisanya lebih memilih berdiri. Ada wajah kecewa saat mereka mendapati bukan aparat desa yang memegang mik di depan mereka, melainkan aku.
Orasiku selama setengah jam berhasil membuat warga hampir tertidur di bahu-bahu di sebelah mereka. Pak RT harus berteriak-teriak agar mereka tak terhanyut ke alam mimpi. Di menit berikutnya aku memutar video itu. Aku diam dan membiarkan mereka menyadari apa yang sedang terjadi di tanah lain. Di akhir video aku melihat beberapa pipi yang basah dan beberapa tangan yang berusaha menyingkirkan bulir-bulir air itu.
“Apa bapak-ibu ingin nasib anak bapak-ibu seperti mereka?”
“Apa bapak-ibu ingin darah daging bapak-ibu melakukan sesuatu yang menjijikkan seperti itu?”
“Apa bapak-ibu tidak peduli dengan anak bapak-ibu sendiri?”
“Menurut bapak-ibu, apa penyebab semua itu?”
“Apa anak-anak itu akan melakukan hal itu jika mereka lebih dekat dengan Tuhan mereka?”
“Tidak hanya pendidikan sekolah yang penting. Jiwa yang dekat dengan Tuhan akan menjauhkan kita dari hal-hal negatif yang akan menjerumuskan kehidupan kita.”
“Sekarang, terserah bapak-ibu, apakah ingin mencegahnya atau membiarkan semua itu terjadi.”
Mereka diam. Tak ada yang ingin mendebatku sekarang. Seorang ibu bertubuh subur mendekatiku dan memelukku. Mereka meminta maaf dan mulai menyusun jadwal mengaji untuk setiap anak.
***
Tak terasa aku meneteskan air mata saat mendengar salah satu anak kelas lima SD dari kampung kami sedang membaca ayat-ayat suci Alquran dengan mik masjid. Jadwal pembacaan ayat suci Alquran akan bergantian dan dilakukan dua kali sehari setiap pagi setelah shalat Subuh dan sore menjelang shalat Maghrib. Kini, desa kami terasa lebih tenteram dan nyaman. ■