Palakat Kematian Mina dan Esa

RURU Ares dibuatkan waruga alias kubur batu bergambar pulau Sulawesi. Di sini orang tua-tua dulu dimakamkan dengan posisi memeluk lutut, seperti janin. Tapi tidak dengan Esa. Kuburnya empat sudut peti, dibaringkan celentang. Kayunya dipaku asal-asalan dan dituangi berember-ember semen. Tou (orang) Langowan tak sudi menguburnya, tapi sadar orang mati tak bisa mengurus jasad sendiri. Maka, dengan murka menyala-nyala, mereka menyiram petinya dengan campuran semen, tanpa ditanam. Mereka mengutuk kematian Esa setelah palakat berisi kematian Mina disiarkan olehku.

Sudah tiga bulan aku menjadi pembaca palakat lewat corong desa. Pekerjaan ini tidak berduit, tapi kebanggaannya selangit! Maka, seperti prajurit penjaga desa, aku berjalan ke tempat tugas. Semangatku naik ke urat alis.

“Eh, Alo! Pigi batugas angko?” sapa Oom Peng. Nama aslinya Ventje, veteran Permesta yang saban ketemu mesti terselip niat mengulang romantika perang dengan cerita-ceritanya.

Kuangkat kepala. “Jalan dulu, ne!” Aku pamit sebelum dia mengunciku bersama cerita tentang sepeda Vongers yang dibawa keluar untuk dilap, sengaja di pinggir jalan. Dia tampak tersinggung ketika kutinggalkan dengan abai. Aku tertawa puas setelah membalik badan.

Berita mati harus dikabarkan.

“Telah berpulang ke rumah Bapa di surga, Saudari Mina—” Aku berhenti di sini, tak sudi menyebut fam yang didapatnya dari mengawini Esa. Apa kusebut saja fam ayahnya? Lama kekosongan dari berpikir itu hingga kuputuskan untuk melanjutkan saja, peduli iblis dengan fam, dengan segala nama keluarga! “…tadi malam. Ibadah penghiburan di rumah almarhumah pukul 11 Wita.”

Kubayangkan wajah warga yang mendengar palakat ini. Cinta seluruh Langowan tercurah dalam-dalam kepada Mina yang mereka panggil Mintje dengan alasan terdengar lebih Minahasa. Empati berlebih-lebih ini bukan semata karena parasnya yang manis, tapi didasarkan pada kebodohan perempuan itu sendiri.

“Oh kasiang eh… akhirnya mati juga angko, Mintje, Mintje!” Oh kasihan, akhirnya mati juga kamu Mintje,” seru mereka pasti.

Berbulan-bulan Mina mampu meloloskan diri dari maut di tangan suaminya, berkali-kali. Warga bukan tak pernah mengingatkan. Sudah sampai bosan! Tapi perempuan bertubuh semampai itu termakan cinta buta kepada suaminya yang tak ada bagus-bagusnya, apalagi tabiatnya kasar dan pencemburu.

Pernah satu subuh Mina lari terbirit-birit berbalut piyama bunga-bunga pala, menyelamatkan diri dari kejaran sabel (golok) suaminya. Ia lari sampai ke ujung jalan. Tapi mati juga pilih-pilih, kalau bukan orangnya, ya waktunya. Usaha suami batil itu digagalkan oleh kebiasaan bangun subuh Oom Peng. Gaya bicaranya yang militan menciutkan nyali suami gelap mata. Mina tak jadi mati hari itu.

Suaminya pun percaya pada kedaulatan waktu. Dia dengan santai menunggu dorongan menghabisi Mina bagai menunggu ilham datang. Jika ‘sesuatu’ itu datang, dia akan mulai mencoba lagi. Tapi kami semua tahu tekadnya sudah bulat. Pernah niat itu datang dengan sebilah pisau dapur saja. Sederhana. Yang penting bisa mematikan. Esa pulang dan mengambil pisau dapur yang belum sempat dicuci, mendudukkannya di kursi sebelah. Mina duduk di hadapan. Sayur pangi dikeluarkannya dari buluh. Wanginya ado eh! Pe sedap! Aku tahu karena aku sendiri yang membantu Mina memasak.

Tampangku yang lugu membikin aku dipercaya banyak ibu-ibu di sini ketimbang pemuda-pemuda lain di kampung yang lebih sibuk berkelahi. Aku pikir daripada capek-capek bertikai, lebih enak dapat duit.

Aku sering diminta bantu mendirikan pagar, membersihkan mesin giling padi, apa pun. Aku diberi bayaran, kadang lengkap dengan makanan dari dapur mereka. Karena itu, bagiku jadi pengangguran di desa tidak jelek-jelek amat.

Hari itu Mina minta bantuanku memasak sayur pangi. Katanya, Esa akan pulang nanti malam dari Jakarta. Urusan bisnis. Dari pagi aku datang, memanjat pohon pangi di kebun Oom Peng (dia memberikan cuma-cuma asal aku sudi menyediakan kuping selagi dia bercerita). Dengan sabel kulukai batang pohon pangi. Selagi memanjat batang pohon kedengaran dari bawah Oom Peng terus saja bicara.

“Kita punya tusa ada hilang satu lagi,” keluh Oom Peng. “Pergi ke mana, ya?”

Tak kuhiraukan pertanyaannya. Kutebas pucuk daun pangi sambil tertawa pelan melihat tusa (kucing) tergantung di dahan. Bukan tusa yang dia cari, aku tahu betul di pohon mana saja kugantung trophy-ku, dari yang mati minggu lalu sampai yang baru kemarin. Dia tak akan pernah tahu. Semakin tua kita semakin tak lagi melihat ke atas. Buru-buru kupamiti orang tua itu dengan alasan ditunggu Mina di rumahnya.

“Kiapa dang babomasa sayor pangi, Mina?” tanyaku sembari mengerat urat daun-daun pangi. Aku penasaran kenapa dia mau memasak sayur pangi sebab dia bilang makanan kesukaan suaminya justru sup brenebon.

Mina tertawa malu-malu. “Sebab Minahasa berasal dari Mina dan Esa. Artinya dipersatukan kembali.”

“Nyaku so tahu itu!” Aku tahu kisah anak keturunan leluhur kami yang bertengkar lalu terjadilah pembagian bahasa serta wilayah bermukim. Berangkat dari filosofi ini, anak keturunan Toar dan Lumimuut (kami ini termasuk) akhirnya punya kesadaran bahwa yang inti adalah yang menyatu dalam diri manusia, yaitu kebaikan. “Tapi kembali bersatu? Kau dan Esa kan cuma berpisah dua minggu! Memangnya dia harus makan pangi cuma karena dari Jakarta?”

“Diam saja kau, Alo!” serunya. “Kapan kelarnya kalau bicara terus?!”

Kuiris daun-daun pangi yang sudah digulung sembari kuamati hujan dan wajah Mina yang menyiapkan rempah. Wajah yang dianggap kebodohan oleh orang sekampung. Memasak bagi suami yang lebih pantas dikasih makanan babi, pendapat mereka. Hujan mereda ketika kami sama-sama memasukkan irisan daun pangi yang telah dicampur daging dan lemak dan segala rempah ke dalam buluh. Kuberdirikan dan kubakar di dodika (tungku lama) beratap seng. Aku pulang dibekali setengah buluh sayur pangi yang baru matang dan upah kerja. Selain itu, sungguh aku tak tahu Esa akan mencoba membunuh Mina lagi.

Kurasa, terbuai oleh nikmatnya pangi, pisau di bangku samping dilupakan Esa. Bisa jadi benar bahwa stimulan dari sepiring sayur pangi ketika dikeluarkan dari buluh terbelah… dituang ke atas piring dengan asap naik ke atas… kita bongkar rimbun pangi dan menguaplah aroma minyak dari daging dan lemak… hmmm… adalah keajaiban.

“Persetan dengan yang ajaib, yang filosofis, yang pakai perasaan!” pikirku skeptis.

Mina tak jadi mati hari itu.

***

Maka ketika kematiannya kuumumkan di corong, kuyakin semua warga serasa tak percaya. Sebab di hari dia mati, pedagang-pedagang pasar masih sempat menyapa dan memperingatkannya.

“Heh, Mintje, kapan kau mau kabur?” tanya pedagang ikan.

“Suamiku sudah berubah!” Senyum manis menghias bibir tebal Mina. Dia lanjut membayar dan ke los daging.

“Kasih yang bagus ya kaki babinya! Mau masak brenebon untuk Esa,” kata Mina. Pedagang daging tidak tertarik membicarakan kualitas daging dagangannya.

“Buat apa kau masakkan dia yang enak? Pikirkan kebahagiaanmu sendiri, Mintje!”

“Suamiku sudah berubah!” jawabnya lagi tenang.

Di los rempah dia pun diberi tahu, “Larilah, Mintje!”

“Suamiku sudah berubah!”

Mina yakin sekali akan hal itu. Beberapa minggu lalu, sebelum Esa pergi ke Jakarta, dia dihadiahi barang-barang bagus. Sikap Esa pun jadi manis. Tidak kasar dan hanya mabuk kalau di luar rumah. Maka ketika suaminya pergi, Mina bicara baik-baik dengan kekasih simpanannya.

“Kita tidak usah ketemu lagi. Aku mau menata masa depan dengan suamiku,” kata Mina santai.

“Kau gila, Mina! Mana mungkin si brengsek itu punya masa depan!”

Dokter muda itu jauh lebih tampan dibanding suaminya. Jauh lebih dalam segala hal kecuali harta. Tapi Mina tak mau harta, cinta yang dia mau. Dia yakin suaminya sudah berubah.

Dokter muda tidak pernah betah bertugas di desa ini. Yang dia ingat hanyalah sawah, kuburan, bendi, dan tahi kuda. Tak ada yang indah dari itu semua, kecuali Mina. Betapa hancur hati sang dokter.

***

Laki-laki luluh karena perut, perempuan luluh karena kata-kata. Mina kembali dihadiahi oleh suaminya. Ciuman. Kata sayang, walau tak banyak berkata-kata. Juga baju tidur merah menyala.

“Kan belum lama ini aku dapat hadiah,” kata Mina.

“Tidak apa-apa. Aku cuma mau bikin senang,” balas Esa.

Esa melahap sup brenebon bikinan istrinya. Disesapnya sepotong tulang kaki babi sampai bersih. Dicucinya tulang itu dengan sabun dan air mengalir sementara Mina bertukar baju tidur baru, menunggu. Suruhan menunggu di kamar adalah kebahagiaannya.

Mina telah naik ranjang. Suhu Langowan merendah seiring naiknya malam, tapi dia kenakan juga baju tidur merah. Kain tipis di atas kulit.

Mina merindukan tatapan mata suaminya. Setahun belakangan dia mulai melupakan ambisinya menatap ke dalam sepasang mata Esa oleh karena ada si dokter muda. Tapi telah dibuatnya dokter muda patah hati serupa anak remaja. Telah diterimanya kembali suaminya yang ‘pulang’. Namun, meski sudah berubah lembut, sampai malam itu belum ditatapnya sepasang mata Esa.

Esa masuk kamar. Gelagatnya gugup dan selalu melihat ke lantai. Mina mengiranya manis, seperti remaja pemalu, seperti cinta yang merah muda. Dengan gerakan kasar langsung dibaliknya tubuh istrinya. Mina kering, namun bahagia. Kepalanya berbalik—masih telungkup—mencari sepasang mata Esa, yang mengeluarkan tulang kaki babi dari lipatan celana.

Mina terlatih berlari. Dia jadi kijang yang lompat dari ranjang. Sebelah kaki kijang ditarik Esa. Tangan kijang berpegang pada daun pintu yang terbuka, sekuat tenaga menendang, meronta. Kijang menubruk meja jati di ruang tamu, memutar kunci pintu dua kali. Esa geram. Harus malam ini!

Berlari dengan perasaan dikhianati, kesanggupan Mina berhenti di halaman depan rumah mereka yang bertanah keras. Dia jatuh tersungkur. Mengerang. Menangis. Tak ingin mati. Pergumulan terjadi. Esa menancapkan tulang kaki babi—telah dia asah—bersih dari belakang. Mina mati malam itu.

***

Aku batuk kecil-kecil sebelum melanjutkan palakat kedua. “Telah berpulang juga ke rumah Bapa di surga, saudara kita Esa.” Sengaja tak kusebut famnya, kasihan juga pada keluarganya. “Tuhan yang memberi Tuhan pulalah yang mengambil, terpujilah nama-Nya!”

Kubayangkan wajah-wajah siapa saja yang mendengar suaraku.

“Si suami sinting juga mati?”

“Bunuh diri, setelah menghabisi nyawa istrinya. Biadab!”

“Bagaimana?”

“Dengar-dengar dengan kaki babi juga, ditancap di perut sendiri.”

“Baguslah! Tapi aduh kasihan sekali si Mintje. Bodoh benar percaya pada cinta!”

“Apa itu cinta?! Paniki bera di calana!” Kelelawar berak di celana.

Dapa sayang mar dapa binci. Kasihan tapi sekaligus menyebalkan, begitulah warga Langowan bersedih atas kematian Mina.

Tugasku hari itu usai. Sinar lembut matahari memantul di jalan sunyi. Pusat kesibukan masih terkumpul di Pasar Amongena, lokasi berjejer segala toko dan tempat nongkrong. Yang lain, di dapur atau ladang. Hanya ada bendi yang lewat sekitar dua jam sekali, dan Oom Peng. Aku pulang melewati rumahnya. Ia menatapku tanpa kedip. Oh, bukan, ia menatap sepotong tulang kaki babi di tangan kananku. (M-2)

Keterangan:

Palakat: pengumuman; Minahasa

Cindy Wijaya, kelahiran Manado yang menetap di Tangerang. Buku kumpulan puisinya, Syukini yang Pulang (2018). Mendirikan komunitas Sahabat Cikokol di Tangerang (2014). Puisi-puisinya pernah dimuat di majalah sastra dan koran nasional.

Arsip Cerpen di Indonesia