Sudah seminggu, dan mata saya perih setelah air laut benar-benar masuk ke seluruh tubuh. Kuping, hidung, lubang pantat, semua penuh dengan air yang asinnya minta ampun ini. Saya memilih berpencar dari teman-teman, akhirnya saya yang tersisa sendirian. Beruntung, saya bisa melihat pernak-pernik ikan dan beberapa patahan kapal. Tidak jelas betul, puing kapal apa yang saya lihat. Namun, saya bisa menduga-duga bahwa itu adalah bangkai kapal titanik. Selama di atas sana, saya hanya tahu kapal titanik yang bangkainya berada di kedalaman laut.
Beruntungnya lagi saya sudah berpamitan pada istri dan anak yang usianya menginjak duapuluh tahun. Tentu, mereka tidak perlu khatwatir jika saya berlama-lama di sini bahkan sampai bertahun-tahun. Istri saya tidak menangis waktu saya berpamitan sehabis subuh kala itu. Ia tidak menyadari kalau saya akan lebih lama dari biasanya berada di dawah laut. Dan saya tidak mengatakan apa-apa. Saya berpamitan untuk berangkat bertugas, itu saja. Saya cuma berdoa semoga teman-teman saya juga berpamitan pada keluarganya. Supaya, di sana tidak ada yang menangis atau mengharap kembali secepat mungkin.
Saya memilih masuk ke dalam perut bangkai kapal. Saya ingin menjadikan itu rumah agar terhindar dari serangan hewan buas bawah laut. Dengan keadaan mata yang sangat perih, saya berusaha untuk bertahan. Ini termasuk cita-cita saya dari kecil; punya rumah di bawah laut. Dari cita-cita ini pula, guru saya pernah menertawakan. Katanya, mana ada manusia yang bisa hidup di bawah laut, kecuali ia meminjam insang ikan, atau paru-paru lumba-lumba. Ucapan guru tersebut membuat teman sekelas tertawa sejadi-jadinya. Bagi saya itu tidak lucu, cita-cita tetaplah cita-cita.
Saya masuk ke bagian belakang bangkai kapal, di bagian yang terdapat jendela kecil dari kaca. Dari dalam tersebut saya bisa melihat ikan-ikan sebesar pohon matoa. Hari ini saya hanya ingin satu hal. Saya cuma ingin guru saya di sekolah melihat, bahwa ada manusia yang bisa hidup di bawah laut. Bahkan, tanpa harus meminjam insang ikan atau paru-paru dari lumba-lumba. Saya ingin menceritakan kepada teman-teman sekelas bahwa di bawah laut lebih indah daripada di darat. Di bawah laut saya masih bisa menikmati keindahan karang-karang. Beda jauh dengan di atas sana, kerusakan terjadi hampir di mana-mana.
Ketika sudah bosan berada dalam perut bangkai kapal, saya keluar pelan-pelan. Saya tidak menyangka jika saya bisa paham bahasa ikan-ikan. Jelas, ini adalah karunia dari yang Maha Kuasa. Sekali lagi, saya cuma ingin bercerita kepada guru, kali ini guru agama saya, di sekolah dulu. Ketika sudah begini saya cuma ingin mengatakan, bahwa bukan hanya nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan hewan, saya pun demikian. Dari itu saya bisa paham apa yang ikan-ikan bicarakan. Sedikit banyak mereka takut pada pemburu liar dari negara-negara tetangga. Mereka menggunakan alat yang bukan hanya ikan yang terperangkap, bahkan seluruh batu karang bisa ikut dibawa.
Saya tertampar mendengar apa yang ikan-ikan keluhkan. Sebetulnya, saya yang bertugas untuk ini semua. Seharusnya saya yang menjaga ketertiban laut dan paham batas teritorial antar negara. Namun, mengapa masih ada penyusup yang berani mengambil dengan sangat diam-diam. Atau mungkin ini ada kongkalikong antara mereka dengan atasan saya. Saya tidak paham, namun saya merasa bersalah. Saya harusnya menjaga ketenangan para ikan-ikan di alam laut.
***
Sepuluh hari ayah tidak pulang, kami—aku dan ibu—menabur bunga-bunga di bibir laut. Memang ayah telah berpamitan sebagaimana biasanya. Ia bertugas menjaga laut dengan kapalnya yang besar beserta lima puluh dua temannya. Namun, hanya ayah yang tidak kembali. Semua teman ayah kembali setelah diselamatkan oleh beberapa kapal yang memang digunakan untuk bertugas evakuasi. Kata teman ayah, kapal yang mereka tunggangi mengalami kebocoran yang luar biasa, hingga kapal tenggelam ke dasar laut. Katanya lagi, hanya ayah yang tidak pakai pelampung dan memilih menyelam ke dalam laut.
Akhirnya setelah kapal penyelamat datang, ayahku yang tidak keluar dari bawah laut. Lima puluh dua orang menyangka bahwa ayah sudah meninggal di kedalaman sana. Dengan sangat berat hati mereka pun pulang meninggalkan ayah sendirian di bawah laut sambil berharap besok-besok jasad ayah bisa mengapung. Namun, setelah berhari-hari tidak ada jasad mengapung, artinya ayah masih berada dalam laut. Ibu sudah tidak kuat menerima kenyataan jika ayah memang harus meninggal di dalam laut. Satu-satunya harapan ibu tidak lain agar ayah kembali dan bisa dimakamkan di belakang rumah, itu saja.
Mata ibu yang membengkak membuat hati—yang jika boleh diibaratkan gelas—hancur berkeping-keping. Tangisan ibu tidak terhenti bahkan ketika aku dengannya harus menabur bunga di bibir laut sebagai penghormatan dan perayaan duka cita mendalam bagi ayah. Menurutku, hari-hari ibu selama sepuluh terakhir hanya dihabiskan menangis, menangis, dan menangis. Itu wajar-wajar saja, aku juga sering menangis, namun tidak sesering ibu.
“Ibu hanya tidak terima jika lima puluh dua orang kembali, tapi hanya satu ayahmu yang tidak balik lagi.”
“Tapi mereka sudah menunggu ayah selama dua hari sebelum pulang, tetapi ayah tetap tidak muncul ke permukaan.”
“Tapi ibu yakin ayahmu masih hidup di sana, sendirian, kesepian.”
Setelah mengatakan itu, ibu pingsan, kepalanya membentur pasir basah. Ombak-ombak kecil menyapu kesedihan di wajahnya.
***
Setengah bulan berlalu dan saya benar-benar merasa nyaman berada di sini. Di bawah laut semua tampak tenang, meski kekhawatiran ikan-ikan juga turut serta mengisi kepala saya. Saya juga merasa bersalah ketika mengingat-ingat bagaimana saya bisa sampai di bawah laut. Jelas yang membocori kapal kami waktu itu adalah saya sendiri. Hingga kapal kami tenggelam ke dasar dan sampai detik ini saya tidak menemukannya, selain kapal titanik yang saya duga itu. Lima puluh dua orang memilih melompat dengan pelampung, hanya saya yang berbeda. Saya yang dari kecil punya cita-cita berubah di bawah laut mendapat kesempatan seperti itu serasa kejatuhan bulan bintang.
“Saya menyelam sebentar, nanti kembali.”
“Gila kau, ini laut lepas, kedalamannya pun tidak main-main,” salah seorang teman berteriak.
Namun, tubuh saya telanjur menyelam ke bawah dan mereka tidak ada satu pun yang berhasrat membuntuti. Itu keberuntungan, sebab saya bisa sendirian dengan bebas di dalam laut. Melakukan apapun tanpa harus ada yang menegur, tanpa sedikit pun merasa diawasi. Saya tahu jika kapal yang ditugaskan untuk mengevakuasi korban kapal kami datang. Lagi-lagi saya tidak ingin bersama mereka, saya cuma ingin berada di bawah laut. Setelah dua hari menunggu saya muncul ke permukaan, akhirnya mereka putus asa, mereka meninggalkan saya. Betapa bahagia saya ketika mereka pergi.
Saya kembali ke perut bangkai kapal yang sudah saya anggap rumah. Saya juga mulai berdaptasi dengan makanan bawah laut. Saya mulai terbiasa memakan rumput laut sebagai sarapan dan ikan-ikan kecil sebagai makan siang dan malam. Peraturan di dalam laut, ikan kecil yang boleh dimakan hanya ikan yang sudah mati, yang terlihat sehat-sehat saja dilarang keras dimakan. Tentunya, saya harus patuh terhadap peraturan itu, bagaimana pun saya adalah pendatang baru yang tidak mungkin sewenang-wenang. Bagi masyarakat bawah laut, melindungi sesama adalah hal yang paling diutamakan.
Saya hanya membantu menenangkan ikan-ikan ketika kapal-kapal milik negara tetangga dengan alatnya mengeruk kekayaan bawah laut. Tidak ada yang bertindak apa-apa, bahkan orang di atas sana serasa diam-diam saja. Mereka semua lebih sibuk mencari jasad saya yang baik-baik saja ini daripada mengurusi pencurian-pencurian yang makin marak. Sementara, ikan tetaplah ikan ia tidak bisa bertindak apa-apa selain hanya melihat kekayaan atau bahkan saudara-saudaranya diangkut. Mereka hanya melihat dengan sangat ketakutan dan mata berkaca-kaca. Oh iya, di hari kelima belas ini saya sudah bisa berkomunikasi dengan mereka, bukan hanya mengerti bahasa mereka saja.
Dari ini saya menjelaskan kepada mereka bagaimana sebetulnya kepedulian orang-orang di atas sana terhadap laut. Sebenarnya, mereka tidak ada yang peduli pada kekayaan laut, mereka hanya berjaga-jaga saja supaya mendapat upah. Terbukti, banyak pencuri dari negara tetangga hanya dibiarkan dan didiamkan saja. Breseknya lagi, bahkan bangkai kapal yang saya jadikan rumah sudah diangkat ke atas, saya menjadi tidak punya rumah dan tinggal di rumah ikan-ikan yang tidak muat ukuran sebesar manusia seperti saya. Dari itu kami sepakat untuk memusuhi para manusia yang tamak pada kekayaan laut. Saya berjanji akan memusnahkan siapa saja yang berani menyelam ke dalam laut sendirian.
Setelah sebulan, dari tangan saya tiba-tiba muncul sirip, sirip ini yang bisa membuat laju saya begitu lekas di kedalaman laut. Saya biasa mengawasi seluruh sudut laut bersama teman-teman ikan lainnya. Aneh, tiba-tiba saya teringat istri dan anak saya yang usianya nyasir menginjak angka duapuluh itu. Saya jadi teringat ranjang kamar tengah yang biasanya digunakan saya dengan istri waktu malam. Namun, saya tetap berhasart hidup di bawah laut sampai satu tahun. Kelak, saat saya sudah kembali ke atas sana, yang saya cari pertama kali adalah guru sekolah saya. Sekali lagi, saya akan mengatakan bahwa manusia bisa hidup di bawah laut tanpa harus meminjam insang ikan. Saya akan terus mengatakan itu sampai si guru agama saya bilang, “Itu keajaiban, itu keajaiban!” ***
Giliyang, 2021
MOH ROFQIL BAZIKH tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta.