I
DI depan sebuah pohon yang cukup besar, di dalam hutan yang ada di wilayah selatan, sepasang kakak-beradik bersila dan memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa, serta menyampaikan niatan mereka: hendak menebang pohon guna mengganti tiang sebuah bangunan yang dipakai sebagai tempat pengajaran generasi muda. Selepas memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa, sepasang kakak-beradik itu segera mengambil kapak dan mulai menebang pohon sambil tetap mendendangkan lantunan yang berisi doa pada Yang Mahakuasa; sebab demikianlah ajaran yang diajarkan oleh Ayahanda-Guru mereka, Pabesi bernama.
Selepas menyelesaikan pekerjaan mereka, sepasang kakak-beradik itu beristirahat dan menikmati perbekalan mereka yang sederhana: air minum dan beberapa ubi rebus—yang diberi kepala desa sebagai seorang yang dianggap mempunyai hajat. Saat beristirahat, mereka teringat kepada Ayahanda-Guru mereka yang mewasiatkan banyak hal, termasuk sebuah wasiat agar menjadi penjaga hutan. Maka, sambil menghabiskan perbekalan, mereka pun mengenang pesan-pesan tersebut.
II
DI bawah sebuah pohon yang amat rindang, dan agaknya yang paling besar di dalam hutan, yang ada di wilayah selatan, Pabesi duduk bersila; lantas meminta kepada kedua anak asuhnya, yang juga adalah murid-muridnya, untuk duduk bersila pula. Ada sesuatu yang hendak disampaikan.
Dengan perlahan, Pabesi pun berkata:
“Anakku, aku telah tua dan sudah diminta untuk menuju Sana oleh Yang Mahakuasa; tetapi aku meminta kepada mereka, yang mana ditugasi untuk menjemputku, agar menunggu sebentar lagi. Aku berkata kepada mereka bahwa aku hendak memberi wasiat pada kedua anak angkatku yang telah kubesarkan seperti dan sebagai anak sendiri; dan telah kuajarkan serangkaian pengetahuan sebagai murid, agar dapat hidup dengan mandiri dan berlaku kebajikan. Aku, kini, hendak mengingatkan kembali kepada kalian berdua; bahwa pohon adalah penghubung, seperti halnya bukit dan juga gunung, maka janganlah kalian rusak, janganlah kalian tebang tanpa alasan, agar membawa kemaslahatan jangka panjang.
Seperti halnya bukit dan gunung, pohon-pohon akan menjadi penghubung antara bumi dan langit, antara dunia dan surga, antara manusia dan jagat raya. Seperti halnya bukit dan gunung, pohon-pohon—bahkan yang paling kecil sekalipun—adalah juga penghubung, penghubung yang menghubungkan doa seorang hamba kepada Yang Mahakuasa…. Yang Mahakuasa memang dekat, dan akan senantiasa mendengarkan doa kalian, anakku, dan doa-doa siapa pun; tetapi melalui pepohonanlah doa-doa kalian akan menjadi kian merdu, dan kalian pastilah tahu bahwa Yang Mahakuasa menyukai apa-apa yang merdu; dan doa-doa kalian juga akan diamini sekalian makhluk yang menghirup udara yang keluar dari pepohonan itu. Seperti halnya bukit dan gunung, pohon-pohon adalah penghubung, anakku….”
Sepasang kakak-beradik itu pun terdiam. Begitu dalam mendengarkan pesan daripada Ayahanda-Guru mereka. Sepasang kakak-beradik itu telah diasuh sejak kanak oleh Pabesi, sebab ayah dan ibu mereka menjadi korban suatu perang panjang yang hanya membawa kehancuran. Adapun Pabesi, yang juga kehilangan seorang anak dan istri, dengan rela menampung mereka dan mengajarkan apa-apa yang diketahui olehnya. Begitu sayangnya pula, Pabesi pun menamai mereka dengan Kispa untuk sang kakak, dan Mutlu untuk sang adik; meski mereka berbeda ayah dan ibu, tapi mereka telah menjadi sepasang saudara, sepasang anak lelaki dari seorang lelaki tua yang begitu sakti bernama Pabesi.
Dengan perlahan, selepas embus lembut angin, Pabesi pun kembali melanjutkan ucapannya.
“Anakku, kalian sudahlah dewasa, sudahlah mampu menentukan pilihan sendiri, dan aku berharap kalian senantiasa memilih dan melakukan sesuatu secara bijak dan baik. Apabila kalian menebang satu pohon maka tanamlah sepuluh atau lebih; dan jagalah makanan kalian, jagalah perbuatan kalian. Janganlah menebang, selain untuk membuat rumah yang sederhana, di mana orang kan bernaung dan senantiasa berdoa; janganlah menebang selain untuk membuat tempat ibadah memuja yang sederhana, tempat belajar ilmu yang menerima tanpa membeda-beda, tempat berobat yang tidak menyakiti pasiennya dengan ucapan ataupun kata-kata menghina. Janganlah pula menebang bila nantinya kayu-kayu tersebut hanya menjadi perabot yang malah melukai hati manusia lainnya: karena tak memiliki. Sebab dengan begitu, anakku, pohon-pohon tidaklah mati; mereka hanya berganti wujud dan rupa: mereka akan tetap menghubungkan manusia dengan jagat raya, menghubungkan dunia dengan surga. Kayu itu menjadi rumah, tempat di mana kamu pulang dan mendapati surga kecil kebahagiaan; dan daun-daun yang kamu makan, buah-buah yang kamu makan, akanlah menjadi tenaga untuk berbuat serangkaian kebajikan. Begitulah pesanku kepada kalian, anak-anakku….”
Kispa dan Mutlu, sepasang kakak-beradik itu, perlahan mengangkat kepala yang sedari tadi tertunduk; wajah mereka basah dengan air mata. Mereka tak dapat berkata-kata, mereka hanya terdiam dan masih saja mendengarkan.
Dengan kesaktian yang dimiliki Pabesi, keluarlah sepasang kapak yang kemilau; dan Pabesi pun berkata:
“Ini aku berikan kepada kalian, anak-anakku, sebab kalianlah yang kini bertugas menjaga hutan, menjaga penghubung-penghubung; dan jika kalian rindu padaku, maka pandanglah pepohonan yang menghubungkan semuanya. Dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang tak terhubung.”
Sepasang kakak-beradik itu menerima sepasang kapak dengan tangan yang gemetar; dan selepas itu, gerombolan burung berwarna putih pun datang. Membawa Pabesi menuju asalnya, menuju tempat di mana manusia semestinya pulang. Sejak itulah, Kispa dan Mutlu bertugas menjaga hutan, menjaga apa-apa yang menghubungkan.
III
DI suatu hari, desa tempat Kispa dan Mutlu tinggal didatangi seorang saudara raja dan satu pasukan yang turut menyertainya. Mereka datang ke sana untuk mengambil setengah pohon-pohon di wilayah selatan untuk membuat sebuah tinggi menara—agar apa-apa yang dipinta segera terjadi dan terlaksana. Kepala desa dan seluruh warga tiada berani melawan saudara sang raja, mereka tiada kuasa, mereka ketakutan bila mendapat hukuman nantinya. Mengetahui hal itu, Kispa dan Mutlu pun memutuskan berjaga di pintu masuk hutan; mereka juga sudah sepakat untuk tetap menggenapi wasiat daripada Ayahanda-Guru mereka, dengan tanpa membenci kepala desa maupun seluruh warga.
Maka, bertemulah saudara sang raja serta pasukannya dengan sepasang kakak-beradik. Saudara sang raja itu pun berkata dengan begitu gagahnya.
“Aku telah mengenal kalian, mengenal sepasang penjaga hutan; kini, aku datang untuk mengambil setengah pohon-pohon guna membuat menara, guna membuat menara yang amatlah tingginya, sehingga dapat melihat seluruh arah nanti adanya, sehingga lebih cepat terkabulkan segala ingin dan pinta. Maka, minggirlah, menyingkirlah, dan berilah kami jalan segera!”
Dengan sopan, Kispa pun berkata:
“Ampunilah kami, tetapi kami tidaklah mungkin membiarkan seseorang mengambil kayu yang banyaknya setengah dari hutan hanya untuk membuat menara; hal itu bertentangan dengan apa yang diwasiatkan oleh Ayahanda-Guru kami.”
Dengan gagahnya, saudara sang raja itu kembali berkata:
“Menara itu akan kami buat sebagai penghubung antara dunia dan surga, penghubung antara manusia dan jagat raya. Manusia tak akan lagi merana, manusia akan menjadi bahagia, manusia akan bahagia!”
Dengan sopan, sang adik, Mutlu, berkata pula kepada saudara sang raja—dengan meniru nada suara Ayahanda-Gurunya ketika dahulu berkata.
“Seperti halnya bukit dan gunung, pepohonan adalah penghubung; seperti halnya bukit dan gunung, pepohonan adalah penghubung, penghubung yang menghubungkan dunia dengan surga, bumi dengan angkasa, dan juga manusia dengan jagat raya. Sungguh, pepohonan akan melantunkan kembali doa dan pinta, sehingga merdu terdengar nantinya, sehingga membuat Yang Mahakuasa senang dan akan mengabulkan pinta atau malah menggantinya dengan sesuatu yang lebih mulia.”
Sepasang kakak-beradik itu tetap menyampaikan-menggenggam ajaran dan juga wasiat dari Pabesi, tetapi saudara sang raja itu tiada mau peduli, tiada mau mendengarkan mereka. Dia pun segera memutuskan agar segera masuk saja; masuk, dan mengambil dengan cara paksa. Sepasang kakak-beradik itu pun tak gentar, mereka tetap berdiri di depan pintu masuk, di depan hutan yang telah diwasiatkan.
Angin pun berembus kencang, langit mendadak mendung, lantas turun hujan begitu deras, hewan-hewan pun seketika tampak di belakang Kispa dan Mutlu—bahkan makhluk-makhluk yang semestinya tiada mudah ditangkap sepasang mata turut tampak di belakang mereka. Semua itu seolah jadi pasukan bagi Kispa dan Mutlu. Kepala desa dan para warga yang menyaksikan itu pun hanya dapat berdoa kepada Yang Mahakuasa, dan berharap semoga sepasang saudara itu baik-baik saja.
Saudara sang raja pun tak dapat melangkah, pun seluruh pasukannya. Sekeras apa pun mereka mencoba, hujan dan angin berhasil menahan langkah. Para serdadu yang menyertai pun merasa ngeri dengan hewan-hewan, maupun makhluk yang biasanya tak kasatmata itu, yang jadi pasukan Kispa dan Mutlu.
Saudara sang raja itu….
Saudara sang raja itu akhirnya melutut, dan diikutilah oleh para serdadu yang menyertainya; dia sadar, bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang salah dan juga tak benar: mencari kebahagiaan dengan menyakiti makhluk lain adalah sebuah kekeliruan. Maka, saudara sang raja pun menangis dengan amat kencang, dan dengan tersedu berkata pelan:
“Aku telah salah, dan memanglah salah; tetapi adakah jalan bagi kami ini, bagi penghuni negeri timur, supaya bisa berbahagia dengan tanpa menyakiti makhluk lainnya?”
Hujan reda, angin kembali lembut, dan makhluk-makhluk penghuni hutan kembali masuk ke dalam hutan—kembali bersembunyi di balik keteduhan bayang dedaunan.
Maka, berkatalah sang adik, Mutlu.
“Pepohonan memanglah diam; tetapi melalui embus angin mereka suka berkata, bahwa manusia juga bisa membawa benih pepohonan, membawa benih yang di dalamnya terdapat bahagia.”
Mendengar ucapan Mutlu, sang saudara raja itu pun tampak kembali senang, kembali muncul suatu pengharapan. Melihat hal itu, sang kakak, Kispa, berkata sambil memberikan benih pepohonan yang senantiasa dikumpulkannya bersama sang adik.
“Ambillah ini; tanamlah di negeri timur sana, tanamlah sambil senantiasa berdoa kepada Yang Mahakuasa, tanamlah bersama-sama dengan seluruh warga, bersama dengan seluruh penghuni negeri dan rajanya; maka kalian akan mengerti apa itu bahagia.”
Mendengar hal itu, saudara sang raja pun menerima benih dan berterima kasih kepada mereka. Saudara sang raja juga kembali memohon maaf atas kekeliruannya. Dia pun kembali ke negerinya, setelah mohon maaf pada kepala desa dan seluruh warga yang ada. Selepas itu, seluruh warga desa juga meminta maaf kepada kakak-beradik itu, kepada Kispa dan Mutlu.
Saudara sang raja kembali ke kerajaannya, dan segera mengisahkan apa-apa yang dialaminya kepada sang raja. Seluruh warga, atas titah sang raja yang tersentuh, mulai menanam dan mulai melakukan apa-apa yang dipesankan oleh kakak-beradik penjaga hutan selatan. Sejak itulah, negeri timur yang dipenuhi menara, dan terkenal akan hal itu, kini berganti menjadi sebuah negeri yang dipenuhi pepohonan tinggi, dipenuhi pepohonan bunga dan buah manis berasa, dan dipenuhi dengan orang-orang yang senantiasa menanam—sampai pagar negeri pun adalah pepohonan yang kuat dan begitu tebal. Agaknya mereka lebih banyak menanam dibanding memetik.
Bahkan, ada suatu aturan, titah dari sang raja, yang mana berbunyi:
“Apabila telah lahir darimu seorang anak, baik lelaki maupun perempuan, baik sendiri atau kembar, maka tanamkanlah sebuah pohon; dan apabila orang tuanya telah kembali ke Sana, kembali kepada Yang Mahakuasa, maka walinya, paman danya, atau nenendanya yang mestilah menanam. Anggaplah pohon yang ditanam bersama kelahiran itu sebagai saudara; saling-salinglah kalian menjaga.”
Semenjak itulah, negeri timur menjadi negeri yang kini dikenal dengan: Negeri Murti.
IV
“DEMIKIANLAH kisah yang turun-temurun diceritakan kepada anak-anak dan orang-orang yang tinggal di Negeri Murti; dan kini, kita telah sampai,” ucap Budbud, penjaga gerbang yang ditugasi menjemput dua tokoh kita, Tuki dan juga Polpol, selepas memenuhi serangkaian ujian agar dapat memasuki Negeri Murti.
Di depan gerbang Negeri Murti, kedua tokoh kita terdiam dan tertunduk.
“Ada apa?” tanya Budbud sang penjaga gerbang penasaran. “Apakah kalian tidak mau masuk?”
Kedua tokoh kita itu saling pandang: meyakinkan diri mereka masing-masing. Keduanya pun berbarengan bertanya tentang nasib sepasang penjaga hutan itu, tentang nasib hutan yang ada di wilayah selatan.
“Itu adalah kisah masa silam. Kakak-beradik itu telah tiada. Kakak-beradik itu diceritakan telah meninggal dan dikuburkan di dalam hutan selatan; dan dari makam mereka tumbuh pohon yang mengeluarkan aroma wangi—yang bisa dicium aromanya hingga kini,” ucap Budbud yang memiliki badan teramat besar itu. “Memang apa yang hendak kalian lakukan?” tanyanya lagi.
Kedua tokoh kita kembali saling pandang, dan mereka menganggukkan kepala: sepakat! Mereka pun berkata bahwa mereka hendak menjadi pewaris kakak-beradik penjaga hutan itu. Mereka akan menetap dan akan melanjutkan pengajaran yang telah diajarkan oleh sepasang kakak-beradik itu. Ah! kedua tokoh kita hendak melanjutkan pengajaran yang diawali oleh lelaki sakti bernama Pabesi.
“Apa kalian sungguh-sungguh?” tanya Budbud memastikan. “Bukankah kalian menghendaki untuk masuk ke Negeri Murti?”
Dua tokoh kita itu pun berkata bahwa mereka telah sepakat, mereka telah belajar banyak hal, mereka ingin menjadi pewaris kebajikan. Mendengar hal itu, Budbud pun menawarkan tumpangan kembali dengan awan terbang yang dimilikinya; dan kedua tokoh kita pun berterima kasih karenanya. Mereka pun menuju ke sana …. ***