Bercerita tentang teman baru itu memang mengasyikkan. Ada hal-hal yang tak terduga bisa kita alami. Dan kali ini aku ingin bercerita tentang Maya, yang baru beberapa bulan ini kukenal.
Aku kali pertama mengenal dia di kereta api, dalam perjalanan dari Stasiun Senen menuju Stasiun Tawang. Kebetulan dia duduk persis di depanku. Dia masih muda, sekitar 30-an tahun. Penampilannya menarik, berambut sebahu, berwajah oval, dan gaya bicaranya enak. Itu kesan pertamaku.
Dia mengaku sebagai anak tunggal dan kini hidup sebatangkara di Semarang, setelah kedua orang tuanya meninggal. Ayahnya meninggal akibat serangan jantung saat menunaikan ibadah haji. Setahun kemudian ibunya juga wafat akibat serangan jantung sesaat setelah shalat Subuh. Saat itu Maya baru saja lulus kuliah.
Begitulah, setelah perkenalan itu, Maya sering menanyakan kabarku lewat WhatsApp, kemudian sering mengajak bertemu untuk sekadar minum kopi bareng di kedai sekaligus berbincang-bincang. Awalnya aku senang. Pembicaraannya soal budaya, seni lukis, atau filsafat, cukup memberikan tambahan wawasanku. Maklum, dia dosen Seni Rupa di sebuah perguruan tinggi.
Tetapi lama-lama, karena Maya hampir setiap malam mengajakku untuk bertemu di kedai kopi, aku merasa terganggu juga. Apalagi ceritanya kemudian macam-macam, yang berkesan lebih sering memuji diri sendiri.
Maya rupanya tahu aku mencoba menghindari ajakannya dengan segala alasan. Maka, tanpa memberikan kabar sebelumnya, dia tiba-tiba datang ke rumahku pada suatu malam. Mengajakku ke Kedai Lima, langganan kami. Kalau sudah begitu, aku tak kuasa menolak.
Perlahan-lahan kugerakkan mobil Maya. Lalu meluncur di jalan raya yang ramai. Meniti aspal, menembus angin malam. Kupercepat laju mobil hingga sebentar kemudian sampailah di Kedai Lima.
Kedai ini tidak terlalu luas. Dindingnya semua dari kayu jati. Mejanya juga kayu jati berbentuk bundar. Bangunannya memang artistik, dengan teras melebar menjorok.
Kubiarkan saja dia berbicara segala hal. Sesekali aku sembari menguap, agar dia tahu bahwa aku mulai mengantuk. Bukan harus mendengarkan obrolannya.
“Pada suatu malam,” katanya. “Aku sedang sendirian di sebuah vila di pantai Jepara, untuk merampungkan lukisanku tentang laut. Tiba-tiba datang seorang lelaki memanggil-manggil dari luar vila. Padahal, siangnya banyak orang mati terbawa ombak di pantai itu.”
Aku diam saja. Hanya mempersilakan dia menghirup kopi yang belum juga dia sentuh.
“Dia mungkin penjelmaan roh lelaki yang sudah mati,” sahutku kemudian.
“Tidak ada orang mati hidup kembali,” sergahnya, sembari meletakkan cangkir kopi di meja.
“Tapi nyawanya kan bisa inkarnasi ke dunia lagi,” bantahku.
“Secara logis itu memang betul,” jawabnya. “Tapi hanya penjelmaan identifikasinya. Misalnya Pak Putut, perupa hebat yang meninggal beberapa hari lalu itu, masih bisa kita temukan di banyak kehidupan.”
Aku tersentak. “Kau kenal Mas Putut, pelukis yang baru saja meninggal itu?”
“Hampir semua perupa di Jateng ini kenal dia, termasuk aku. Bahkan, aku pengagum karya-karyanya. Kau kenal juga?”
“Tentu. Dia temanku. Sahabat sejatinya yang juga perupa, Mas Toto, sekitar seminggu kemudian juga menyusul menghadap-Nya,” sahutku.
“Ohhh, tidak kuduga, seorang pengusaha sepertimu mengenal perupa-perupa yang hebat.”
Aku diam saja dan mencoba menghindari tatapannya yang teduh. Maya juga diam. Kami saling diam. Mungkin karena jadi teringat almarhum, yang tak disangka ternyata teman kami berdua.
“Sesungguhnya tidak ada penjelmaan langsung. Itu karena jiwa manusia setelah mati akan melanjutkan kehidupan barunya lagi. Di alam, suasana, dan bentuk serta esensi yang berlainan pula. Sebagai balas kodrat-irodat. Sebagai hukum alam,” katanya kemudian.
Aku diam saja. Maya mengambil pisang bakar pesanannya. Dengan lahap menikmatinya. Habis satu, mengambil lagi.
“Lalu apa yang kamu perbuat dengan lelaki yang memanggil-manggilmu di luar vila itu?” kataku, ingin tahu, sembari mengambil sebatang rokok. Kusulut dan mengembuskan asapnya yang kemudian lenyap diterpa semilir angin. Kutawarkan rokok kepadanya, karena biasanya pelukis itu suka merokok untuk memunculkan ide-ide cemerlang. Eh dia ambil juga. Padahal, sebelumnya, aku belum pernah melihat dia merokok.
“Kau pasti menduga aku berbuat macam-macam dengan lelaki itu,” katanya kemudian. “Aku hanya memberinya secangkir kopi dan berbincang-bincang di serambi vila.”
“Lelaki itu muda dan tampan?” selidikku.
“Ya dia tampan dan masih muda. Tapi aku mencoba mengenalnya dengan rasa kemanusiaan.”
Maya tampak diam. Diisapnya rokok dan diembuskan asapnya hingga mengenai matanya yang lentik.
“Kami lama berbincang, mencoba memahami persoalan masing-masing,” katanya kemudian.
“Sepertinya kamu mulai jatuh cinta pada lelaki itu,” kataku.
“Kau tahu dasar cinta itu dari mana?” sergahnya.
“Cinta itu penjelmaan cetusan naluriah yang paling dalam,” jawabku.
“Bukan. Justru penjelmaan naluri yang paling kasar dari manusia. Karena itu, aku tidak percaya kalau ada orang yang mengaku jatuh cinta karena jiwanya. Itu kemunafikan manusia.”
“Lalu kau letakkan desar eksistensimu di mana?” kataku begitu aku ingat pemikiran Soren Kiekegaard bahwa manusia memburu kehendak dan mencoba mencapai apa yang diinginkan. Tetapi setelah ditemukannya, ternyata bukan apa yang dicari. “Sampai di mana kamu kenal eksistensialisme,” serangnya dengan balik bertanya.
Aku gelagapan. “Ya seperti umum mengetahuinya,” jawabku sekenanya.
“Itulah kelatahan manusia. Tahu istilah, tidak tahu sumbernya. Padahal, banyak ragam eksistensialis itu. Ada yang sangat religi dari Kiekegaard, yang setengah theis dan atheis macam Albert Camus, yang pantheis atau yang sama sekali atheis.”
Aku tersenyum. Merasa dapat pelajaran baru. “Tidak sia-sia aku mengenal seniman yang suka baca buku-buku filsafat,” pujiku.
Kupuji Maya seperti itu, wajahnya tampak berbunga-bunga.
“Tapi, justru karena banyak belajar filsafat itulah aku merasa hidup sendiri pada zaman yang makin menjauhkan dari esensi penalaran itu,” ungkapnya sembari mengembuskan asapnya melingkar-lingkar yang segera hilang disapu angin.
“Itu yang membuatmu suka melukis alam?” pancingku, sembari mematikan puntung rokok di asbak.
“Mungkin kau benar, karena aku ingin kembali pada yang alamiah. Dari yang alamiah ini sebenarnya semuanya lahir,” ungkapnya.
***
Setelah pertemuan di Kedai Lima itu, hingga hampir dua minggu tidak ada satu pun WhatsApp atau telepon dari Maya. Pesan singkatku lewat ponsel juga tampak belum dibacanya. Masih conteng satu. Di mana dia gerangan? Begitu sibukkah dia sehingga tak sempat berkabar?
Saat dia sering mengajakku minum kopi bersama, aku merasa terganggu. Tapi kini saat tidak ada kabar darinya, aku merasa ada yang hilang. Ingin rasanya kudatangi rumahnya, tapi di mana? Aku belum sempat tanya alamatnya. Perlukah kutemui dia di kampusnya? Ah, aku tidak tahu jadwal mengajarnya.
Apakah benar seperti yang dikatakan sastrawan Budi Darma bahwa wanita itu seperti cuaca? Sebentar hujan, sebentar terang. Sebentar kelihatan akan hujan, ternyata panas. Sebentar kelihatan panas, ternyata hujan. Ahh.
***
Besok siangnya ada semacam kekuatan yang menuntutku untuk mencarinya ke kampus tempatnya mengajar. Dan betapa kagetnya, ketika kuperoleh informasi dari dosen teman sejawatnya bahwa Maya telah meninggal dunia sekitar dua minggu lalu akibat serangan jantung saat mengajar mahasiswanya. “Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Dia telah tiada. Begitu cepat dia pergi,” bisikku.
Sepertinya berita kematian silih berganti. Satu demi satu teman dipanggil untuk menghadap-Nya. Dan, kita tidak perlu bertanya kapan giliran kita. Sebab, pengetahuan tentang itu (hari kiamat, hari akhir, kematian) hanya ada pada Allah, tidak ada (seorang pun) yang mengetahui kapan akan terjadinya. Tetapi semua pasti akan dapat giliran.
Kucoba memaksa diri untuk menghabiskan makan malamku. Dan, kupaksa pula untuk mengakhiri ceritaku tentang Maya. ***