Realita

KAU ajari aku mengeja kata kehidupan, merangkai kalimat perjuangan, bahkan menyusun sendi-sendi masa depan dengan ajaran keikhlasan dan ketaatan. Aku menyadari, dengan perjuangan mempertahankan posisiku sebagai karyawan swasta yang harus patuh pada bos, seperti halnya beratnya mematuhi perintah orang tua. Terkadang muncul konflik batin dengan ucapan atau bahkan sudut pandangnya. Namun, itu semua muncul saat itu juga, di saat aku mengetahui kebenaran akan ucapannya yang penuh berkah.

“Karyawan swasta?” selidik ibuku saat mengetahui aku mengutarakan soal Rudi, seseorang yang kali pertama memintaku pada orang tuaku.

“Iya, karyawan swasta pekerjaannya. Bukan PNS ataupun pegawai BUMN yang mempunyai pensiunan saat tuanya tiba.”

“Lalu engkau menerimanya?” heran ibuku.

“Iya, siapa pun yang memintaku kali pertama kepada panjenengan akan aku terima.”

“Tidak ada uang pension, lho!”

“Tidak apa-apa,” ucapku serius.

Ajaran orang tuaku yang mengharuskan menantunya seorang PNS bukan tanpa sebab. Itu semua demi anak-anaknya, masa depan anaknya, bahkan kebahagiaan cucunya kelak. Terlebih saat hari tua tiba. Siapa pun orang akan menemui masa tua. Dengan uang pensiunan dirasa cukup untuk menjalani masa berumur itu. Bukan hanya untuk membeli keperluan sehari hari, melainkan juga memberi sedikit uang jajan pada cucu.

Bukannya tanpa alasan kekhawatiran ibuku. Karyawan swasta yang mempunyai penghasilan tidak seberapa, tingkat tuntutan kerja yang tinggi, bahkan tidak ada pensiunan, menjadikan pertimbangan orang tuaku untuk melangkah menuju restu.

“Nanti kau makan apa?” tanya ibuku risau.

“Makan nasi,” jawabku sekenanya.

“Apa bisa membeli rumah dan mobil?”

“Aku tidak tahu soal rumah dan mobil,” ketusku.

Entahlah, apakah kedua barang itu merupakan simbol kesejahteraan manusia, ataukah hanya hiasan dunia yang menjadi perantara untuk bersujud kepadaNya, yang jelas orang tuaku memikirkan kesejahteraan anaknya, kebahagiaan anaknya. Aku masih memikirkan hal itu, tentang restu kedua orang tuaku. Seakan mereka berdua tidak setuju dengan pilihanku.

Semua orang mempunyai standar kemapanan hidup, kesejahteraan hidup. Memang hidup butuh uang untuk kesejahteraan, butuh uang untuk memperindah kata cinta, perlu uang dalam berjuang membangun rumah tangga yang sakinah. Itu realitanya. Bukan masalah keyakinan, melainkan kenyataan.

Kekhawatiran orang tuaku dengan berbagai dalil ternyata membuat luntur keyakinanku pada Rudi. Laki-laki pertama yang berani memintaku kepada orang tua.

Ah, biarlah bimbangku menjadi angin, berembus dari relung jiwaku. Meski keyakinanku terkikis oleh dalil-dalil realita orang tuaku.

Padahal keyakinan itu bak karang yang sulit terkikis. Tapi nyatanya ada air yang lembut dan mampu mengikis permukaan karang. Seperti kenyataan yang ditanyakan kepadaku. Kutanyai ibuku dengan penuh keyakinan, supaya keyakinanku menebal lagi.

“Apa harus punya rumah?” tanyaku gusar.

“Iya,” jawab ibuku mantap. “Keluargamu nyaman, engkau bisa istirahat setelah bekerja. Merebahkan badan di rumah sendiri lebih enak daripada di rumah mertua. Ketika hujan tiba, engkau tidak usah khawatir akan kehujanan. Meskipun hanya satu kamar, kalau itu rumahmu, akan terasa istana. Sebaliknya, walaupun yang engkau tempati itu istana tapi itu punya mertuamu, maka akan seperti gubuk derita. Itu kenyataan, bukan keyakinan.”

Pernyataan ibuku menambah kucuran air yang lantas mengikis karang keyakinan tentang pilihanku. Ya, pilihan yang berdasarkan pada permintaan, bukan pertimbangan.

“Hidup itu pilihan. Salah pilihan memenjarakanmu bertahun-tahun hingga tuamu nanti,” lanjut ibuku.

“Iya, aku memahami apa yang Ibu katakan,” sahutku.

“Lihatlah ibumu ini, serba berkecukupan. Tidak mungkin orang tua membiarkan anaknya menderita. Pasti menginginkan anaknya bahagia, serba kecukupan hingga anak cucunya. Engkau jangan memakai perasaan ataupun keyakinan. Ibu tahu kalau rezeki itu sudah ada yang menjamin, bahkan semut pun sudah dijamin segala kebutuhannya. Tapi, apa engkau lupa jika manusia itu juga harus bekerja. Bekerja itu bukan soal dunia, melainkan bukti bahwa manusia adalah hamba.”

“Aku akan bahagia dengan pilihanku,” ucapku mantap.

“Iya, sehari, seminggu, sebulan, engkau bahagia. Karena masa itu adalah masa penuh madu tanpa rasa pahit sedikit pun. Setelah itu engkau akan membutuhkan makan, makan membutuhkan lauk. Engkau juga butuh rumah sebagai tempatmu berteduh. Jika suamimu gajinya cukup untuk makan saja, bagaimana engkau akan membangun rumah tangga yang mampu mendidik anak-anakmu?” timpal ibuku bertubi-tubi.

Aku diam. Hati ini masih belum bisa menerima mengapa ibu begitu kukuh mencegahku. Mengapa selalu bertanya kebahagiaan. Mengapa menanyakan makan, rumah, kendaraan, bahkan pensiunan. Aku memahami, semua itu demi diriku, kebahagiaanku. Bukan keyakinan yang ibuku jelaskan, melainkan hakikat hidup yang membutuhkan kemapanan ekonomi untuk menjalani kehidupan. Mata hatiku mulai terbuka, kusandingkan keyakinan dengan kenyataan.

“Bukankah manusia juga berdoa kebaikan dunia dan akhiratnya?” sekali lagi ibu meyakinkanku.

Aku hanya terdiam, merunduk. Berpikir tentang kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini permintaan setiap orang, bahkan setelah sujud mereka selalu meminta itu. Bukankah kemapanan ekonomi termasuk kebahagiaan dunia yang mampu membahagiakan akhirat jika dimanfaatkan dengan baik?

Pasrah bongkokan?” sindir ibuku kemudian.

“Bukan begitu, aku hanya menerima orang pertama yang melamarku,” aku tetap teguh pendirian.

“Kau tidak berpikir panjang, itu namanya pasrah bongkokan. Bukannya kita diajari istikharah untuk menentukan pilihan, juga bekerja untuk hidup di dunia?” cecar ibuku, terus meyakinkanku.

Aku tak berani menatap mata ibuku, hanya diam mengedipkan kedua kelopak mataku. Sesekali menghirup napas dalam, lalu kukeluarkan dengan sejuta perasaan yang tak keruan. Aku menemukan titik cahaya yang selalu diyakinkan ibuku. Iya betul, ini bukan cinta dunia. Ini bukan soal kekayaan, namun lebih pada kebahagiaan. Laki-laki mapan mungkin lebih siap untuk aku sandari dari terpaan badai kefanaan. Bukan sekadar cinta yang diungkapkan, melainkan kesiapan untuk menyusun rencana besar dalam kehidupan. ***

DENY KURNIAWAN. Penulis bertempat di Kelas Literasi MTs Darul Huda Mayak.

Arsip Cerpen di Indonesia