Gadis Kecil Bernama Mega

GADIS kecil itu duduk sendiri di pojokan jalan dengan kaki menjuntai di atas trotoar. Badannya yang mungil nampak menggigil. Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, hanya anak pengemis, mungkin. Atau hanya seorang anak yang kebetulan kesasar dan kehilangan orangtuanya. Bisa saja itu terjadi. Tapi, yang pasti, tidak ada yang peduli dan merasa ingin tahu siapa gadis kecil itu, termasuk saya. Saya hanya mengamati gadis kecil itu sepanjang malam. Sudah, itu saja.

Saya merasa ada yang aneh dengan tingkah gadis kecil itu. Saya melihat, mulutnya seperti bergumam tak jelas, setelah saya semakin memperdekat jarak dengannya. Untuk sesaat kemudian, ia melempar uang koin ke tengah jalan. Koin-koin itu tergilas roda-roda mobil, lalu lalang sepeda motor, bus, dan lain sebagainya. Tapi ia tak mempermasalahkannya. Malahan tertawa riang dan bertepuk tangan.

Sekarang sudah pukul dua dini hari. Ini sudah bukan malam lagi. Pelan tapi pasti, saya pun mencoba mendekati gadis kecil itu. Namun saat baru beberapa langkah, saya dibuat mematung seketika. Sebab dia bertingkah aneh lagi. Mulut yang semula bergumam tak jelas, tiba-tiba terkatup, sesaat kemudian matanya mendelik, lidahnya terjulur. Persis seperti orang ketika tercekik. Saya menelan ludah susah payah. Haruskah saya lanjutkan untuk mencoba mendekatinya? Tidak seharusnya saya melangkah lebih jauh. Toh ini bukan urusan saya. Keluarga di rumah sedang menanti kepulangan saya.

Tak hanya sekali saya melakukan pengamatan seperti itu pada seseorang. Saya suka mengamati seseorang. Apalagi orang-orang di jalan. Termasuk gadis kecil itu. Hal yang sangat wajar dilakukan oleh seorang penulis baru seperti saya. Yaitu melakukan pengamatan terhadap sesuatu secara detail. Semata-mata agar tulisan yang saya buat lebih hidup dan enak dibaca.

Tiba-tiba saja hati saya tergerak untuk tidak sekadar melakukan pengamatan. Seolah-olah saya tak sadar, tahu-tahu hanya berjarak tiga meter dari gadis kecil itu. Saya menatapnya iba. Tubuh mungil itu semakin terlihat menggigil. Lalu, dia menoleh pada saya. Saya kaget bukan main. Namun, akhirnya saya memberanikan diri untuk menyapanya dan bertanya.

“Hai, Dik,” ucap saya sembari memperpendek jarak dengannya.

Gadis kecil itu mengangguk lemah. Tak ada senyuman sebagai balasan atas sapa yang saya lakukan. Saya paham betul. Jadi saya memakluminya.

“Oh, ya. Nama Adik siapa?” tanya saya kemudian, seraya menjulurkan tangan kanan saya setelah berhasil berhadapan dengannya.

Namun gadis kecil itu justru menyembunyikan kedua tangan di dalam saku celana pendek kumalnya. Lalu, dengan suara lirih, dia berkata.

“Nama saya Mega, Kak. Katanya, Ibu dan Bapak naik kereta, mau ke atas mega. Mega kan di sini?”

Meski sedikit kaget karena gadis kecil itu justru berbicara lebih banyak dari yang saya duga, saya pun menanggapi pertanyaannya.

“Mega itu langit dan letaknya sangat jauh, jadi kamu tidak boleh ikut,” terang saya seraya menunjuk langit.

“Tapi aneh, Kak. Kata orang-orang, Ibu dan Bapak berbeda gerbong. Apa Ibu dan Bapak sedang bertengkar?”

“Mungkin saja gerbongnya penuh. Jadi mereka terpaksa berbeda gerbong.”

“Orang-orang juga bilang, Ibu dan Bapak sudah memesan kamar khusus jika sudah sampai di mega sana. Yang sunyi, tidak ada siapa pun. Mereka menyebutnya kamar masa depan.”

Saya tidak lagi mencoba membalas pernyataan Mega. Saya hanya memeluknya sebentar. Semoga bisa menjadi pelipur lara baginya. ***

Semarang, Juni 2021

Reni Asih Widiyastuti, kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media, buku tunggalnya telah terbit, ‘Pagi untuk Sam’ (StilettoIndieBook, Juni 2019).

Arsip Cerpen di Indonesia