Mantan Jurnalis dan Kapal Kominis

Dimulai tanggal 2 Juli, stasiun radio di Neira ditutup beberapa hari lamanya karena ada beberapa buah motornya yang rusak. Jadinya, kabar-kabar kawat dikirimkan dari Ambon ke Neira disertai salinan yang dikirimkan dengan pos belaka.

SEDANG nun jauh di Betawi, untuk menolong korban bahaya angin topan di Negeri Belanda, lembaga penggalang dana swasta dengan nama gunung tertinggi di Jawa, Smeroefond, menerima 19 ribu sekian rupiah untuk mencukupi 50 ribu rupiah yang telah dikirimkan dua pekan yang lalu ke Negeri Belanda.

Pada hari dan tanggal itu jugalah Abdul Rivai, redaktur Pewarta Woelanda yang terkenal, dengan kurdorai hitam, dasi kupu-kupu senjang di leher, dan topi bundar hitam yang mulai pudar pinggirnya, kembali ke Negeri Belanda dengan kapal api maskapai pemerintah bernama SS Singkara setelah turne selama 2 bulan lebih di kampung halaman sendiri di Sumatera. Jangan mengira dia kembali ke Belanda mau menjemput motor-motor baru untuk stasiun radio yang rusak ataupun mengantar dana yang terkumpul untuk korban angin topan. Dia kembali semata untuk urusan dan alasan yang telah diketahui bersama, menghidupkan kembali surat kabar yang telah melambungkan namanya di kalangan kaum pergerakan atau tiada lain karena kemuakan pada kampung halaman dan negerinya sendiri tempat di mana dia, seperti sudah juga diketahui bersama, tidak bisa berterima dengan dirinya yang sekarang.

Ketika pemuda ini dulu lulus menjadi dokter, dia pun pergilah ke tukang gambar. Berpakaian sebagus-bagusnya sebagai orang Belanda. Ceplau di kepala, dasi hitam melilit di leher, pantolan, jas… persis serupa kini ini. Dia menikahi seorang nyonya Belanda, janda yang sudah dua anaknya di Kwitang. Dia tertarik hati kepada masyarakat Belanda, bangsa dan kehidupan segala cara-cara Eropa. Rasa hina sebagai inlander item-pesek dihilangkan dengan cita-cita ingin seperti Belanda, kalau perlu bisa melebihi. Dia semua ingin, berpakaian, minum dan makan, berbicara… dan lantas memperkutuk peradaban sendiri kuno dan biadab. Dia minta dinaturalisasi jadi Belanda sejati. Lalu setelah belasan tahun di Negeri Belanda, dia tiba-tiba dirasuki jin putih dengan memutuskan pulang ke kampung halaman, memulai pergerakan memajukan tanah air, tidak lagi sekadar berkoar-koar di surat kabar, tetapi terjun langsung ke lapangan rakyat banyak. Tapi di negerinya sendiri, dia kemudian justru menerima penolakan di mana-mana, terutama dari orang kampungnya yang kolot itu yang sebelumnya telah pula diperkutukinya sebagai “apa di sini, batu semua!” Itulah sebabnya dia memutuskan untuk kembali ke Belanda.

Dari Teluk Bayur, kapal yang ditumpanginya kini berbelok masuk ke Selat Sunda, mengabaikan Tanjung Priok untuk terus saja ke Tanjung Perak.

Angin alon-alon saja dan laut sedatar kaca.

Di pelabuhan yang didendangkan penyanyi keroncong itu jurnalisten kita ini turun tanpa mengikutkan kopernya ke tangga kapal dan terus saja ke ruang tunggu penumpang tanpa menoleh kiri atau kanan untuk meresapi pemandangan sekitar, masuk ke kakus yang tersuruk di pojok jauh di bagian paling berantakan. Dia menyetop taksi dengan tangan kiri dan lupa mengancingkan pantolannya. Kejadian yang terakhir ini terjadi ketika dia tergesa dari kakus saat mendengar suara mobil melintas di jalan lingkar di depan ruang tunggu pelabuhan. Jadilah dia tergopoh-gopoh menyetop taksi itu dengan tangan kiri sambil tangannya yang sebelah lagi mengancingkan pantolannya yang belum terpasang sempurna.

Dia tak sempat berpikir lagi apakah itu tindakan yang lebih kurang beradab di dunia Melayu ini sehingga merasa perlu sedikit berbasa-basi bilang maaf kepada sopir taksi. Apalagi Surabaya amatlah padat dan panas saat itu, yang memaksa dia menghela napas panjang seketika ekornya terenyak duduk di jok taksi. Tak lama, setelah itu berkali-kali dia menggeser posisi duduknya, di atas jok taksi yang sama kerasnya dengan cuaca kota. Celana dalam yang dipakainya di dalam pantolan hitam dari bahan yang agak keras juga dan pelirnya mungkin telah jadi sesak napas dan bisa-bisa kehilangan kemampuan mengeras. Keadaan itu menyiksa si empunya, tapi gerakan-gerakan membetulkan itu tak banyak membantu, sebab sesungguhnya dia harus lagi semestinya menanggalkan celananya itu dan menggantinya dengan sarung gaya orang kampungnya, itulah jalan yang paling baik. Hanya, tidak mungkin melakukan itu di atas taksi yang sedang kencang melaju dengan seorang sopir buruk rupa dengan wajah penuh kawah jejak amuk cacar di masa kecil yang celaka. Sopir itu tak henti-henti berbicara, masalah barulah pula baginya. Dia jadi semakin semak akal jika saja si sopir dengan cerlak tajam pada pinggir kelopak mata itu tak mengabarkan tentang kejadian hari Sabtu y.t.l. berikut ini.

***

Perahu layar yang memuat 100 orang penumpang terbalik ketika melewati Selat Madura. Atas permintaan Asisten Residen kepada pembesar Marine, berangkatlah seketika itu kapal api “Krakatau” bersama 3 buah kapal udara milik angkatan laut pemerintah ke tempat kecelakaan. Pukul sepuluh pagi didapati perahu nahas itu terapung-apung di laut luas. Sebanyak 20 orang duduk di atas perahu kayu itu. Beberapa orang pula didapati terapung di atas kayu-kayu bagian perahu yang rusak.

Padahal, perahu itu seminggu yang akan datang akan digunakan Syarikat Firma Tembakau untuk mendatangkan sapi Bali guna disembelih sebagai percobaan supaya diketahui manakah yang lebih baik untuk firma tersebut, sapi Bali-kah atau sapi Aceh-kah yang pada masa ini mahal harganya? Sejak meleise kedua, firma-firma tembakau pada rugi besar sehingga mulai melirik pasar daging Hindia yang dikira bebas dari keambrukan akibat krisis.

Setelah itu pula, menurut rencana, kira-kira sebulan setelahnya, perahu itu akan berlayar ke arah Barat pantura guna disewakan kepada Sultan. Terdengar kabar kalau dalam bulan Agustus y.a.d telah ditemukan gajah yang dicari di daerah Palembang untuk mengganti gajah Sri Sultan yang mati bulan yang berlalu lalu. Sultan ingin gajah itu sampai ”yang penting dengan selamat” di Yogya sebelum Lebaran tiba untuk dipakai kerajaan dalam karnaval Syawalan di alun-alun seperti tahun-tahun biasa.

Kalau tidak ada aral melintang, setelah disewakan kepada Sultan, perahu yang sama akan direparasi sepekan lamanya galangan perahu di Banten sekembali dari Palembang itu, dipercantik dan dipermak habis karena akan digunakan pula oleh Gubernur Jenderal memperingati tiga + seperempat abad dimulainya penjelajahan ke dunia baru. Tuan Besar dengan itu perahu akan bernostalgia mengenang “keberanian pelaut-pelaut kita di masa lalu” yang telah berlayar mengelilingi lingkar bumi “dengan perahu sederhana” hingga sampai ke tanah Hindia ini. Untuk itu, Tuan Besar dengan itu perahu akan berlayar dari Barat tanah Hindia mengunjungi tanah Hindia sebelah Timur. Menurut rencana yang disusun protokoler di Bogor, bertolak dari Tanjung Priok 2 September y.a.d. menuju Makassar mula-mula dan akan tiba di sana pada tanggal 5 September. Memperlakukan kecepatan perahu itu seolah-olah seperti kecepatan kapal api, maka sehari setelah dari Makassar perahu berangkat membawa Gubernur Jenderal ke Balikpapan, hanya sehari untuk meneruskan kunjungan ke Manado. Dari sana, Tuan Besar juga akan mengunjungi berturut-turut Ambon, Banda, Kupang, dan Flores. Boleh jadi baru tanggal 3 Oktober Tuan Besar akan kembali tiba di Tanjung Priok.

Perahu itu sebenarnya berpangkalan tetap di Pasuruan. Tetapi, sejak pelabuhan di situ ditutup karena hampir tiada kapal-kapal api yang singgah sedang pelayaran dengan perahu pun tak seberapa pentingnya, jadi perahu itu lebih sering melempar sauh di Tanjung Perak pada bagian langkan Selatan yang sepi lagi terabaikan.

***

Abdul Rivai terheran-heran dan merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan sopir taksinya itu. Dia bertanya-tanya dalam batinnya “Sebegitu pentingnya perahu kayu kuno setengah lapuk itu”?

“Itu perahu Jerman punya, bukan?”

“Buatan Belgia.”

“Bagaimana bisa?”

“Kabarnya, dipinjamkan ke Angkatan Laut Kerajaan ketika kapal-kapal api kita pada habis tiada sisa, karam dihantam torpedo Jerman dalam perang di laut Inggris.”

Terlihat heran dengan keserbatahuannya, sopir taksi itu buru-buru menjelaskan kepada penumpang item-peseknya itu, “Saya pernah baca di Pewarta Woelanda tempo hari.”

“Sampai ke sini?” tanya Rivai dengan lagak berpura-pura.

“Satu-satunya, hanya bengkel Akoh Liong yang berlanggan, lain-lain tempat tak ada.”

“Salinan?”

“Bukan, langsung dari Eropa, kabarnya itu nomor terakhir setelah redakturnya pulang ke tanah air.”

Tak ada percakapan lagi setelah itu. Hanya bunyi topi bundar mantan jurnalis kita itu mengelepak-ngelepak dikipas-kipaskan si yang punya untuk mencipta angin mengusir gempuran panas jalanan Surabaya yang kian lama kian penuh kuda besi. Sejak didatangkan mula-mula dari Eropa lewat Singapura ke tanah Hindia, mobil memang telah jadi kutu-kutu di kepala jorok seorang gadis jarang mandi, berbiak semakin banyak dari tahun ke tahun menyesaki jalan raya.

Satu kelok lagi, salah satu dari kutu dunia modern itu sampai di depan halaman luas dengan taman-taman air mancur di pinggir Selatan dan patung gajah dengan dua gada di bahu di tengah-tengahnya. Hanya itu hiasan yang tersedia, selebihnya lapangan tanah lapang lagi datar yang ditutupi kerikil-kerikil bersih dengan warna abu-abu hitam kecokelatan. Seketiba taksi itu meluncur ke parkiran depan lobi dari hotel paling mewah di kota itu. Seorang jongos tergopoh-gopoh datang ke belakang taksi menanti bagasi belakang dibukakan sopir untuk mengangkut bawaan penumpang. Tapi, tak ada apa-apa di situ rupanya hingga jongos itu ngacir kembali ke lobi tanpa memberi salam dan sambutan apa-apa.

***

Kapal yang ditumpangi Abdul Rivai akan berlabuh di Tanjung Perak sampai petang besok. Ketika dia menaiki tangga hotel menuju biliknya, terpikir olehnya apa yang mau dilakukan 2 hari ini di Surabaya?

Dia masih teringat percakapan yang berlalu belum lama ini dan mendesak suatu keheranan di kepalanya, “Tidakkah kapal-kapal api milik maskapai pemerintah cukup belaka jumlahnya sehingga tidak merasa perlu Sultan maupun Tuan Besar Gubernur Jenderal menggunakan perahu layar ketinggalan zaman yang kini—mampuslah—sudah tenggelam?”

Dia tahu memang dari kabar-kabar di lingkaran pewarta kalau kapal-kapal api pada menuju ke Timur untuk mengangkut orang-orang Kominis yang diasingkan ke Digul. Kapal-kapal itu pada kehabisan tempat untuk penumpang bebas. Terdengar kabar bulan yang lalu pengangkutan orang-orang yang diasingkan itu akan diperhentikan pemerintah dalam sementara waktu. Eh, rupanya bulan ini telah dimulai lagi, pikirnya, betapa ketinggalan banyak kabar penting dia selama pulang ke Sumatera. Sementara dua kapal api unggulan maskapai negara, “Wega” dan “Zeven Provincien”, baru-baru ini sama-sama mendapat kerusakan karena berlanggaran di Tanjung Priok. Maskapai menghabiskan 50 ribu rupiah untuk memperbaiki dua kapal itu, semua untuk keperluan membeli onderdil yang rusak, dan beberapa ribu rupiah lagi untuk upah perbaikan, tapi hasilnya kedua kapal itu belum juga dapat berjalan sampai saat ini. Jadi, karena itulah perahu-perahu layar yang sudah semestinya dimuseumkan yang berasal dari zaman penjelajahan samudra itu “jadi primadona” lagi, bahkan bagi Sri Sultan dan Tuan Besar Gubernur Jenderal?

Dia juga heran kenapa kapal api yang ditumpanginya harus singgah dulu ke Surabaya, padahal tujuannya sudah jelas belaka. Jangan-jangan ini kapal bakal dipakai pula mengantarkan kaum Kominis ke Digul terlebih dahulu sebelum berlayar ke Belanda. Jangan-jangan, di dek-dek yang terkunci arah ke palka yang di lorongnya dia acap mondar-mandir menuju ruang makan, minibar, anjungan Tenggara… penuh belaka dengan tahanan? Jangan-jangan… suara gemerincing rantai, napas berat yang padat tumpat, pukulan pada polong besi, yang dari sana terdengar sesekali. Jangan-jangan, semua itu… Dia jatuh tertidur dengan sepatu yang masih di kaki dan topi-ceplau yang masih di kepala. Dasi kupu-kupu masih belum dilonggarkan dari leher yang kian lama kian pucat. ***

Pandai Sikek, Maret 2021

DEDDY ARSYA, bukunya yang termutakhir, Khotbah si Bisu, terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik Tahun 2019 versi Majalah Tempo.

Arsip Cerpen di Indonesia