Cerita Sebelas Juli

BULAN Juli, lima kali Long Bahar ke rumahku. Bersepeda lawas. Kerangka besi, lingkaran velg depan dan belakangnya telah berkarat tebal. Entah sepeda keluaran tahun berapa. Aku pun tak tahu sejak kapan Long Bahar memakainya pergi ke mana-mana.

Tanggal satu, Long Bahar datang. Kutanya ada apa, ia senyum saja. Rindu, katanya. Lama tak jumpa. Long Bahar kusuguhi secawan kopi dan sepiring kue beludar yang kubeli di kedai sebelah rumah. Berceritalah ia tentang masa lalu di Ketapang. Tentang jalan tanah belum beraspal biasa dilapis kulit Ale-ale. Tentang kegemarannya memancing udang di Sungai Pawan. Berjam-jam. Seharian. Cuma dapat udang kecil. Itu pun hanya seekor.

Long Bahar memang sidak Ketapang. Ia datang ke Pontianak puluhan tahun lalu ikut bos besar atau tauke pemilik bisnis karet mentah tinggal di Jalan Podomoro, diangkat jadi sopir pribadi. Tak lama, tauke sakit keras, meninggal. Bisnis karet mentah beralih ke anak sulungnya yang tak membutuhkan sopir pribadi. Praktis Long Bahar harus berhenti bekerja. Ia pasrah. Tak jadi sopir, ia bekerja apa saja untuk bertahan hidup. Enggan pulang ke Ketapang, ia memilih tetap tinggal di Pontianak sampai bisa buka usaha tambal ban sepeda motor di muka rumah.

Long Bahar ke rumahku karena merasa sesama sidak Ketapang, menganggapku seperti anak sendiri setelah pertemuan tak sengaja dulu kami sama-sama ngopi di Jalan Setiabudi, anakku yang sulung umurnya belum genap empat puluh hari. Selama ngobrol di rumah, aku yang memang menuntaskan pendidikan SD dan MTs di Ketapang selalu suka mendengar ceritanya. Kadang aku tertawa. Ada saja cerita lucu dari mulut Long Bahar. Sudah habis kue beludar dan kopi secawan ia pamit pulang ke rumahnya di Jeruju.

Tanggal tiga pagi, Long Bahar datang lagi. Tanyaku; ada apa? Seperti biasa ia hanya senyum lalu diam. Ya, tak apa-apa. Kusajikan secawan kopi sachet capucino mocca di depannya lantas kami ngobrol tetapi tak bisa lama. Aku harus berangkat ke kantor. Tak enak hati karena Liya, istriku di rumah sendiri, Long Bahar pamit pulang.

Tanggal lima sore sepeda lawas Long Bahar telah parkir di halaman rumah. Liya heran ngape sering benar Long Bahar datang. Ada apa? Ngape ia tak bekerja seperti biasa, menambal ban di muka rumahnya. Kataku, biarlah. Long Bahar tak ada siapa-siapa di sini. Kita telah dianggapnya keluarga. Kalau tak main ke sini, ia ke mana lagi? Liya mengangguk diam, melangkah ke dapur, menjerang air. Dibuatkannya Long Bahar secawan teh hangat. Tambahannya, semangkok mi instan telur ayam ceplok. Long Bahar makan dengan lahap.

Tanggal tujuh pagi, Long Bahar bersepeda ke rumah, wajahnya pucat. Kutanya, Long Bahar ngape. Sakit? Ia menggeleng. Tak mau pula disuguhi apa-apa. Tak seperti biasa, sebentar benar ia di rumah, sekadar singgah.

Long Bahar kulitnya sawo matang. Kurus tinggi. Umur lima puluh sembilan. Tak ada uban di rambutnya. Sehelai pun. Rambut Long Bahar hitam lurus, selalu disisir rapi belah kiri mirip model rambut pak menteri yang dulu jadi juru bicara pemerintah Orde Baru sering muncul di layar televisi. Tempo hari pernah kutanya gimana bisa Long Bahar umur lima puluh sembilan rambut tak beruban? Katanya, sejak masih muda di Ketapang sampai sekarang ia sering mengusap tangan berminyak bekas makan gorengan ke rambut di kepala. Aku mengerutkan dahi, Long Bahar tertawa. Ia tahu pasti aku tak percaya omongannya.

Tanggal sembilan pagi, Long Bahar belimpas denganku di mulut gang. Ia hendak ke rumah, aku berangkat ke kantor. Di rumah pun tak ada siapa-siapa. Liya, istriku membawa si sulung kelas dua SD ke Puskesmas karena menderita demam panas. Adiknya telah kuantar duluan ke PAUD di gang sebelah. Rumah jadi sepi. Long Bahar menyungging senyum lantas pamit pergi. Dari mulut gang, kami berpisah. Aku jalan ber-Honda ke kanan. Ia bersepeda ke kiri. Aku tak tahu ia ke mana.

Tanggal sebelas, ini hari lahirku. Hari ulang tahun. Lewat tengah malam Liya membangunkan aku dari tidur, memberi peluk cium dan berucap; selamat ulang tahun, Mas Widi sayang. Semoga makin takwa, makin saleh. Sehat. Selalu dalam bimbingan dan rida Allah Swt. Kujawab; Amin. Terima kasih, Sayang. Lalu kami berpelukan erat. Sesaat. Sekadar tanda kasih. Kami akan selalu bersama, saling menyayangi selamanya sampai maut yang memisahkan.

Pukul tujuh lewat sebelas menit Liya menyajikan menu sarapan spesial; ketupat colet. Ini makanan khas daerah Ketapang yang tak boleh ketinggalan, harus selalu ada di hari raya Idulfitri dan iduladha atau hari besar lainnya. Ketupat colet disajikan bersama gulai daging sapi atau sapi masak lemak yang diiris kecil dalam piring dan serundeng Ale-ale. Cara memakan ketupat colet tak memakai sendok. Ketupat nasi diiris dua lalu di-pekis sedikit, disatukan, di-colet-kan ke irisan gulai daging sapi dengan ujung jari-jari tangan lantas dimasukkan ke mulut. Hhmmm… Betapa sedap dan gurihnya menikmati ketupat colet!

Aku teringat Long Bahar. Ke mana dia. Kenapa tak datang ke rumahku. Ini hari bahagia. Aku ingin mengajaknya makan ketupat colet sama-sama. Makan sepuasnya. Aku yakin Long Bahar pasti suka makan ketupat colet. Maklum, ia sidak Ketapang. Kutunggu ia di rumah. Kuhubungi ponselnya tak aktif. Pikirku, mungkin ia sedang sibuk tambal ban di muka rumah, ponsel entah terletak di mana. Semoga begitu.

Jelang zuhur Long Bahar tak datang. Sampai sore, ia tak ada. Aku bertanya-tanya. Liya juga; Long Bahar ke mana? Aku menggeleng. Ponselnya tetap tak aktif. Saran Liya, sebaiknya Long Bahar didatangi saja ke rumahnya. Aku setuju.

Dari rumah di Jalan Ampera pergilah aku ber-Honda ke Jeruju, ke rumah Long Bahar. Rumah dalam gang kecil padat pemukiman di pinggiran Sungai Kapuas yang sering tergenang air pasang musim hujan. Rumah lawas tembok putih. Atap seng. Ada beranda yang jadi tempat tambal ban, ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Sepeda Long Bahar sandar di tembok rumah sebelah kiri.

Aku berdiri di muka rumah Long Bahar. Telah ada tiga orang di beranda. Semua lelaki seumurku, tiga puluh satu tahun. Seorang dari mereka menoleh lantas mendekatiku. Katanya; Abang siapa, dari mana? Aku Widi, keluarga Long Bahar, kataku. Lelaki itu mengangguk, menggamit tanganku duduk sama-sama di beranda. Aku menurut.

Lelaki itu tetangga Long Bahar pas sebelah kanan rumah. Katanya, Long Bahar sedang sakit, ditemukan orang pingsan di Jalan Patimura dekat stadion Padang Ball Keboen Sajoek PSP, barusan diantar ke sini karena ada KTP di saku kemeja. Long Bahar sering menyebut nama Widi dari Ketapang. Ingin pinjam uang untuk berobat tetapi setiap berjumpa tak mampu berucap soal itu. Bibirnya rasa kelu. Ia malu! Sampai sekarang ia tak pernah bisa meminjam uang dengan Widi padahal sedang butuh. Ia ingin secepatnya berobat. Sakitnya di lambung makin parah!

Seketika dadaku berguncang hebat. Air mataku menetes saja tanpa terasa. Betapa menyesal aku. Sungguh bodoh! Ngape tak peka dengan kondisi Long Bahar. Ngape tak mau banyak tahu keadaan Long Bahar yang sebenarnya. Dari sini aku sadar; kelak ketika ada Long Bahar atau siapa pun datang ke rumah aku tak boleh bertanya ada apa. Seharusnya aku bertanya apa yang bisa kubantu. Seharusnya aku begitu. Sejak dulu! ***

Pontianak, 11 Juli 2020

Senarai Kata

Ale-ale: hewan sejenis kerang, biasa ditemukan di muara Sungai Pawan

Belimpas: berpapasan

Long: sulung, anak pertama

Menjerang: jerang: merebus

Ngape: mengapa

Pekis: mematahkan/mencuil

Sidak: orang

Arsip Cerpen di Indonesia