Kupilih untuk Melepasmu

Pagi-pagi buta Joe bergegas mempersiapkan keperluan dan beberapa barang yang akan dibawanya. Hari ini Joe akan melakukan perjalanan keluar kota. Dia akan pergi ke luar kota sekitar satu minggu, karena ada urusan bisnis. Joe telah memiliki janji dengan orang Eropa untuk menandatangani kontrak kerja di Jakarta.

“Sayang, sarapan dulu. Aku sudah buatkan roti panggang kesukaanmu untuk mengganjal perut,” terdengar suar istri Joe dari ruang makan.

“Sepertinya tidak sempat, Sayang, di taruh tempat biasa saja biar nanti aku makan di jalan,” sahut Joe sambil berkemas. Tak lupa sebelum berangkat Joe ke kamar anak-anaknya untuk mencium mereka yang masih terlelap tidur. Sementara itu di teras sudah ada istrinya yang menunggu untuk berpisah sementara.

“Aku pergi dulu ya, Sayang, jaga anak-anak di rumah. Kalau ada apa-apa telepon,” kata Joe sambil mencium kening istrinya.

“Iya, Sayang, kamu hati-hati ya. Semoga semuanya lancar dan cepat kembali.”

“Byeeee…,” sahut Joe dari dalam mobil sambil membuka setengah kaca mobilnya.

Perjalanan ke Jakarta akan makan waktu sekitar 8 atau 9 jam dari Semarang. Siapa sangka arah Joe sedikit memutar sebelum masuk pintu tol. Ternyata Joe mendatangi ruma Lisa terlebih dulu. Lisa adalah kekasih Joe selama ini. Mereka menjalin hubungan semenjak Joe belum menikah, karena pernikahan Joe dari perjodohan orang tua, dan mereka berdua tidak ingin cinta mereka berakhir begitu saja. Lisa selalu menemani Joe setiap kali ke luar kota. Dia juga sering mendampingi Joe, jika ada pertemuan penting dengan orang-orang luar negeri. Hubungan mereka tidak banyak yang tahu, bahkan teman-teman dekat mereka mengira hubungan mereka sudah berakhir semenjak Joe memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Istrinya Joe pun sepertinya tidak menyadari. Seolah-olah semuanya tampak baik-baik saja.

Setibanya di Jakarta, Joe langsung bertemu dengan kliennya untuk meeting, karena hotel yang dia pesan sama seperti kliennya untuk mempermudah pertemuan mereka. Sementara Lisa langsung menuju tempat SPA yang tersedia di hotel tempat mereka bermalam. Mungkin perjalanan panjang membuatnya sedikit capek. Lisa melakukan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sudah seperti orang mau malam pertama saja. Itulah Lisa, selalu mewajibkan dirinya untuk terlihat sempurna di mata Joe.

Selesai meeting dengan klien, Joe langsung menuju kamar hotel. Ketika membuka pintu sudah terlihat Lisa yang menunggunya. Sedari tibanya di hotel, mereka belum sempat ngobrol sama sekali, karena Joe langsung pergi meeting. Lisa terlihat cantik dengan gaun tidurnya.

“Kamu cantik banget,” kata Joe sambil menciumi Lisa.

“Mandilah dulu, biar cepat bisa bersantai,” ucap Lisa sambil menggoda.

Malam pun mereka habiskan dengan berbagai macam hal.

Lalu di tengah keheningan malam, tiba-tiba Lisa mengucapkan sesuatu.

“Sampai kapan kita menjalani hubungan ini, Joe?” tanya Lisa, masih dalam pelukan Joe.

“Sampai kita benar-benar merasa cukup untuk mengakhiri semua ini,” jawab Joe.

“Iya tapi kapan, apakah kamu tidak bahagia dengan istrimu?”

“Entahlah, aku tidak bisa mendefinisikan arti bahagia itu seperti apa, yang jelas aku merasa semuanya baik-baik saja. Kenapa kamu membicarakan ini Lisa? Apakah kamu akan meninggalkanku?”

“Entahlah,” jawab Lisa singkat.

Hari itu menjadi hari mereka terakhir bertemu. Setelah pulang dari Jakarta, Lisa sudah tidak menghubungi Joe lagi. Sementara Joe masih terus menelepon, bahkan mengirim ribuan pesan kepada Lisa. Karena tidak satu pun pesannya di balas Lisa, Joe datang ke rumah Lisa. Sayangnya, Joe tetap tidak mendapat jawaban, sebab Lisa tidak ada di rumah. Orang tua Lisa mengatakan dua hari lalu Lisa pergi ke Surabaya.

“Nak Joe, ini ada titipan dari Lisa. Apa pun yang Lisa putuskan, kamu harus bisa menerimanya. Tante tidak mau ikut campur urusan kalian,” tutur mamanya Lisa.

“Saya pamit, Tante,” kata Joe dengan wajah lesu.

“Joe, jika kamu membaca surat ini, aku sudah ada di Surabaya. Maaf aku tidak sempat memberi tahumu langsung, sebab semua yang akan aku putuskan tidak perlu lagi meminta izinmu. Selama ini kita sudah salah menjalankan kehidupan, terutama aku yang masih saja menganggapmu adalah milikku. Padahal kamu sudah milik orang lain. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Aku harap kamu bisa menerima keputusan ini. Sebelum semuanya hancur dan pernikahanmu berantakan, kita sudahi ini semua. Aku juga seorang perempuan yang tentu masih punya hati nurani. Kelak jika aku menikah nanti, aku juga tidak mau laki-laki yang aku cintai berbagi kasih. Mulailah hidupmu dengan baik dan lupakan semua yang sudah pernah kita lewati. Sayangi dan cintai keluarga kecilmu. Berjanjilah padaku, jangan lagi ada wanita lain setelah diriku. Aku mohon lupakan aku, Joe.”

Membaca surat dari Lisa di mobil yang masih terparkir di halaman rumah Lisa, Joe berlinang air mata, bahkan menangis sesenggukan. Hatinya merasa hancur karena ditinggalkan gadis itu. Sebab Lisalah yang mendampingi Joe dari mulai awal bisnis hingga sukses sekarang, sampai Joe memiliki klien di beberapa negara di Eropa, semua itu atas dukungan dan bantuan Lisa. Tapi di sisi lain dia juga merasakan kesalahan yang besar kepada keluarga kecilnya.

Setelah pulang dari rumah Lisa, Joe memutuskan untuk menghancurkan surat Lisa. Dengan perasaan yang gundah-gulana dan pikiran yang kacau, Joe memutuskan untuk tidak menceritakan semua soal Lisa kepada istrinya. Dengan harapan suatu hari nanti dan sampai kapan pun semua akan baik-baik saja.

Sementara itu, Lisa sukses menjalankan bisnisnya di Surabaya. Dia memiliki beberapa bisnis seperti clothing line, restoran, dan tempat yoga. ***

Naning Widiastuti, mahasiswi Fakultas Hukum di sebuah universitas swasta di Surabaya. Pernah bekerja di TB Gramedia Surabaya. Kini presenter di berbagai acara dan menekuni bisnis di beberapa marketplace.

Arsip Cerpen di Indonesia