Pengamen Buta di Kota Mati

Sabtu sore, hujan deras itu akhirnya berhenti. Tapi pengamen buta itu seakan-akan tidak peduli. Baju dan celananya basah kuyup, termasuk gitar tua yang penuh lakban tetap dicangklongnya. Tanpa tongkat, pengamen buta itu terus berjalan tertatih. Arah langkah kakinya menjauh dari perempatan jalan besar kota yang ditutup dan dijaga ketat aparat berbaju hijau dan cokelat.

Tangan kanannya memegang tali cangklong gitar, tangan kirinya memegang segenggam nasi bungkus. Mukanya lebih banyak menunduk dengan lindungan topi kusam. Sementara mulutnya lebih banyak menganga dan tersenyum. Usai beberapa waktu berjalan, ia tiba-tiba berhenti di depan jalan gang yang ia masuki. Berjalan menepi beberapa langkah, ia berhenti dan meraba gerbang teralis besi sebuah rumah, tepatnya di rumah sekaligus warung bakso terkenal di kota kabupaten itu.

Ia membungkuk, digeletakkannya nasi bungkus itu di tangan kirinya. Kecipak. Aduh sayang, ternyata nasi bungkus itu jatuh dan tepat masuk ke lubang selokan depan warung itu. Sebungkus nasi yang mungkin pemberian orang itu langsung tercemplung di atas genangan air kental hitam berkilau abu-abu di selokan tengah kota itu.

Pengamen buta itu sepertinya tak tahu. Entahlah, mungkin ia akan tahu kemudian nanti. Yang ia kini bangkit dan menarik gitar yang dicangklongnya ke depan dadanya. Tangan kirinya memegang gagang gitar serta jari-jemarinya mulai bergerak berpindah di atas grip-grip gitar.

Sambil terpejam, ya, memang terpejam, karena memang ia mungkin sudah lama kehilangan biji matanya, ia menggenjrengkan jemari tangan kanannya ke senar gitar. Sejak gerakan itulah kemudian irama minor pengiring salawat yang dialunkannya usai hujan sore itu.

Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin tibbil quluubi wa dawaaihaa

Wa’afiyati abdani wasyifaa ihaa, wanuuril abshori wa dliyaa ihaa

Wa ‘alaa aalihi washohbihii wabarikwasallim

Suara cemprengnya melantunkan salawat itu terdengar jelas. Padahal, dengan jelas bagi yang melihat bahwa warung bakso terkenal seantero kota itu jelas-jelas tutup. Rumah-rumah di sekitar warung di gang itu pun sepi. Dengan kebutaannya, ia jelas-jelas tak melihat di gang masuk itu telah terpasang portal kecil bertuliskan “Lock Down”. Ia hanya meraba gang yang dilewatinya sempat tertutup palang bambu, namun bisa dilewatinya dengan membungkuk. Pengamen buta itu tak tahu bahwa sejak tiga hari lalu, penghuni 15 rumah di dekat warung itu telah diangkut ambulans ke tempat karantina yang terletak di utara pusat kota.

Selain itu pula, sudah tujuh hari ini pemerintah kota setempat telah “mematikan” kota dengan menutup ruas jalan masuk kota. Ya, pagebluk penyakit yang menyerang pernapasan secara akut itu jadi alasan kebijakan itu dikeluarkan.

Tapi pengamen buta itu terus berjalan menyusuri jalan sepi itu. Beberapa kali ia berhenti, meraba teralis dan pintu gerbang rumah. Setelah itu menyanyikan lagi salawat Nabi yang terputus-putus itu.

Merasa tak ada yang memperhatikan dan juga manusia di sekitarnya, pengamen itu berlalu. Berjalan ke arah berlawanan dari arah sebelumnya dan mendapati kembali portal bambu di pintu gang sebaliknya.

Selama seminggu mengitari kota ini memang tak pernah lagi ia tak bertemu sepotong tubuh pengamen, pengemis, atau orang jalanan. Padahal biasanya ia hafal siapa, bagaimana rupa dan polah mereka menjelajah kota ini. Ya, selain dirinya ada pengemis yang bertahun-tahun menggendong anak kecil. Pengemis perempuan itu sudah semakin tua, tetapi anak yang digendongnya selalu muda, karena memang berganti-ganti. Sayang ia tak melihatnya, ia cuma mendengar suara perempuan penggendong anak itu.

Kalau ia melihat, tentu ia juga akan melihat bapak dengan wajah datar membawa kotak bertuliskan pembangunan Masjid Al Entahlah, yang mungkin tak kunjung rampung terbangun sejak beberapa puluh tahun silam. Yang terbaru, adalah serombongan pengamen angklung yang berkali-kali digaruk petugas dan berulang-ulang lagi mangkal ngamen di perempatan itu. Namun seminggu ini mereka tidak ada sama sekali. Tetapi pengamen atau pengemis yang senasib dengannya yaitu hidup dengan kebutaan, ia tak pernah temui. Mungkin ia pengamen buta satu-satunya di kota ini.

Selama seminggu ini, ia harus mencari jalan pulang tepatnya jalan kecil atau gang, agar ia bisa lepas dari bagian dari kota itu. Pasalnya, semakin banyak saja gang-gang yang ia lintasi sebelumnya kini telah terpasang papan larangan melintas. Rupanya warga patuh pada pimpinan mereka, jalan harus ditutup karena pagebluk. Aktivitas harus dibatasi, kalau pagebluk ingin berhenti. Begitu imbauan sang pemimpin daerah dalam sebuah berita.

Keluar dari gang-gang pusat kota yang mati, jamak ia mendengar raung sirine ambulans. Kalau ia melihat, selama perjalanan pulang ke pertigaan pintu keluar kota, ia melintasi pemakaman yang ramai. Ya, pemandangan wajah-wajah ditekuk ketika mobil jenazah datang. Tetapi mereka berjauhan dan menjauh dari lubang pemakaman.

Enam orang berpakaian semacam plastik putih menggotong peti jenazah menuju pemakaman itu. Setelah itu dengan pelan, kaki mereka menolak bumi dan tangan mereka pelan melepaskan tali-tali sehingga peti jenazah korban pagebluk itu tenggelam ke lubang kubur. Namun pengamen buta tetap melenggang berjalan meraba-raba jalan kota yang ia lewati setiap hari.

***

Namanya Darsam. Ia buta sejak kecil menjelang lulus sekolah dasar. Badannya panas tapi asupan makanan dibatasi oleh orang tuanya.

“Aku gak boleh makan pepaya, dan buah-buahan lainnya waktu saya sakit dulu. Karena orang tua nggak mau repot kalau malam-malam harus mengantar ke sungai untuk buang hajat. Ya tahun 70-an. Aku cuma dikasih pupuh di mata yang sakit serta ramuan dari dukun. Tapi ternyata justru itu membuat pecah dan busuk kedua biji mataku. Akhirnya sampai besar aku akhirnya kehilangan biji mataku,” kata Darsam.

Menjelang besar ia hanya menjadi beban orang tua saja. Apalagi sekolah tidak bekerja pun tak. Maka yang bisa dilakukan adalah bermain dengan teman yang tak bekerja waktu itu.

“Aku bisa main gitar itu karena dibantu teman aku. Aku sering nongkrong si pos ronda. Tentulah aku diajari dengan syarat ini syarat itu,” jelasnya.

Saat umurnya menginjak 20 tahun, ia mulai belajar berjalan jauh ke kota kecamatan untuk mengamen. Mencangklong gitar tua bekas, ia percaya diri menggenjrengkan senar gitar dari rumah ke rumah.

Akhirnya lima tahun di kota kecamatan. Ia berani lebih jauh lagi mengamen ke kota kabupaten. Untuk mengenali jalan ia berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer. Awalnya ia sering tersesat. Namun ia kini amat hafal dengan jalan. Untuk menempuh jalan ke perumahan ini ia harus berapa kali belok kanan, berapa kali belok kiri.

Naik-turun jalan hingga suasana keramaian di tengah situasi panas terik atau lainnya kini sangat dihafalnya. Maka, dari sekian puluh tahun mengamen di kota kabupaten, ia berpindah-pindah dari satu perumahan ke perumahan lainnya.

“Kalau perumahan mudah, aku tinggal raba ada teralisnya atau lainnya. Jalan pun tak begitu ramai. Yang menyenangkan lagi kalau aku pulang, istriku selalu senang ketika menghitung uang yang aku peroleh. Uang kertas bukan lagi recehan yang didapat,” katanya.

Oh ya perlu diketahui, Darsam menikah dengan gadis tetangga RT di desanya. Ia tak pernah menceritakan dengan gamblang soal prosesnya pendekatan hingga ia menikah. Namun dari informasi mulut ke mulut, istrinya adalah perawan tua yang kebetulan agak pincang kakinya. Tapi soal kewarasan ia sama warasnya dengan Darsam. Jadi soal fisik saja. Ya, akhirnya Darsam menikah pula. Ia tetap mengamen ke kota kabupaten untuk menafkahi istrinya. Untuk membantu penghasilan suami, istrinya biasa mencucikan dan menyeterika baju tetangga orang berduit, ya pegawai negeri atau pegawai kecamatan.

Dari istri Darsam punya seorang anak lelaki yang kini sudah menikah. Darsam sudah punya cucu satu umurnya setahun. Tapi sang anak ikut ke desa tempat istrinya berada. Jadilah Darsam dan istri tetap tinggal di rumah tua peninggalan orang tua Darsam. Ya Darsam memang menjadi semata wayang, karena sang kakak juga mati saat ada pagebluk cacar mendera pada tahun permulaan Orde Baru.

“Istriku kalau lagi galak, galak banget. Tapi kalau lagi sayang, sayang banget. Beberapa hari ini ia mengeluh karena bantuan pemerintah yang biasanya datang, kini dua bulan belum datang,” ujarnya.

Soal pendapatannya mengamen, tidak mesti katanya. Yang bisa menjawabnya hanya istrinya. Pasalnya segala uang yang didapatkannya baik receh atau kertas, ia langsung serahkan kepada istrinya untuk dihitung. Tapi selama seminggu ini, ia kerap mengeluh kalau istrinya sering uring-uringan.

Pendapatannya mengamen tak seperti biasanya. Ya, maklum saja kota kabupaten sudah kaya kota mati. Termasuk perumahan di kota banyak yang ditutup gangnya. Paling sering kalau pulang sekarang, Darsam hanya dapat uang receh saja dan uang kertas beberapa. Ia tak tahu kenapa orang-orang yang di rumah perumahan itu jarang keluar. Padahal, dari merekalah ia dapatkan uang-uang sedekah untuknya.

***

Ya aku begitu tahu soal Darsam sebagai pengamen buta di kota yang sudah seperti kota mati ini. Kota yang jalan pusat pemerintahannya haram dijamah dan dilintasi warganya karena dilanda pagebluk yang tak kunjung reda.

Sebagai tukang ojek langganannya, malam kemarin aku barusan mengantarkannya pulang. Aku rela mengantarkannya dengan ongkos separuh dari tarif umum warga biasanya. Pengamen buta yang tak mesti penghasilannya. Yang tak paham berapa uang yang didapatkannya. Sementara dari awal kukira dengan merabanya saja ia tahu berapa pecahan uang kertas yang dia pegang.

Malam kemarin, ia baru saja memberikanku uang pecahan lima puluh ribu rupiah sebagai ongkos ojeknya.

“Ini lima puluh ribu, Kang. Kebanyakan kalau segini, nggak ada kembaliannya,” kataku padanya.

Lalu dengan polos seperti biasa, ia tunjukkan kantong kain hitam berisi hasil ngamennya. Kulihat tampak jelas seperti biasa hari kemarin, ia mendapatkan banyak uang pecahan lima puluh ribuan. Banyak lembar biru bahkan merah kulihat. Padahal, sedang pagebluk, ada saja orang memberinya.

“Tadi waktu aku jalan menuju kota keluar dari perumahan ada orang berbau wangi menghentikanku. Lalu kemudian ia langsung mengulurkan uang itu kepadaku,” katanya.

“Pas banget, Kang. Besok sabtu minggu kota ditutup total. Banyak jalan ditutup lagi. Karena banyak orang meninggal akibat pagebluk,” kataku padanya.

Kuiyakan, kuterima uang pemberiannya yang kubilang buat dua kali ia ongkos dua kali ojek pulang.

Jangan bilang siapa-siapa, termasuk kepadanya, darinyalah aku sering mengambil uang lebih dari separuh ongkos ojeknya. Toh ia tak tahu. Apalagi akulah tukang ojek kepercayaannya tepatnya yang mau mengantarnya. Itu karena Kang Darsam selalu menyodorkan uang langsung kepadaku ketika akan membayar ojek.

***

Pagi ini aku mendapatkan kabar baik, nomor togel yang kupasangi itu tembus empat angka. Ya itulah angka yang diberikan oleh Darsam kepadaku malam tadi.

Ya pagi ini aku bergegas ke anjungan tunai mandiri untuk mengambil hasil togelku. Uang sudah di dompet, 10 persennya telah kupisah untuk kuberikan kepada Kang Darsam. Itu nadzarku. Siapa yang memberikan nomor dan tembus, maka aku akan memberinya 10 persen.

Ya, 10 persen bukanlah apa-apa. Toh besok aku bisa minta nomer lagi kepadanya. Kutarik gas motor. Kupastikan Kang Darsam hari ini tak berangkat ngamen ke kota. Sesampainya di kampungnya, aku berhenti di gang menuju rumahnya. Sebelum aku masuk gang, seorang warga gang berkerumun menghentikanku.

“Mau ke mana, Mas,” katanya.

“Ke rumah Kang Darsam,” kataku.

“Oh temannya ya Mas yang biasa ngantar. Pak Darsam sudah meninggal tadi pagi. Habis subuh tadi sesak napasnya kambuh, kayaknya kemarin tertular pagebluk. Jenazah pun barusan dikuburkan,” kata tetangga yang sudah mengenaliku.

Mendengar penjelasan itu, aku langsung ke rumah Kang Darsam. Kulihat istrinya terkulai di kursi risban panjang. Kutemui istrinya sambil memberikan amplop cokelat persentase untuk Kang Darsam, sebagaimana nadzarku. “Ini titipan dari teman-teman tukang ojek Yu. Semoga bermanfaat,” kataku kepada istri Kang Darsam.

Lalu aku ngeluyur pergi. Dalam perjalanan aku berpikir siapa lagi langganan ojek yang bisa aku kibuli uangnya? Akan kutanya siapa lagi soal nomer togel yang akan tembus malam ini? Ya, di sepanjang jalan pulang siang itu, aku melihat wajah Kang Darsam tersenyum. ***

Purwokerto, Juli 2021

Susanto Aboge adalah nama pena dari Susanto, yang lahir di Banyumas 17 Juli 1984. Lulusan Sosiologi Unsoed Purwokerto 2008 itu, selain menjadi jurnalis di Suara Merdeka Biro Banyumas juga aktif di LTNNU Banyumas, Sekolah Kepenulisan Luar(K)otak, Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI). Cerpen, esai, dan puisi termuat di sejumlah media massa dan online. Sebuah buku kumpulan karya jurnalistik Pitutur Kiai Ronggeng- Wawancara Ahmad Tohari terbit 2020. Beberapa kali menjuarai lomba karya jurnalistik nasional dalam kurun waktu 2015- 2020.

Arsip Cerpen di Indonesia