Hanyut

Cerpen Maria Widy Aryani (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2021)

CUKUP lama Seno tertidur di bawah pohon randu di tepi Sungai Krasak. Sebelum tertidur ia melamun memikirkan pementasan yang akan ia tampilkan besok malam. Sudah menjadi kebiasaannya menyepi dan menyendiri bila menjelang acara pementasan musik orkestra yang ia komandani. Tipikal orang perfeksionis. Semuanya harus serba sempurna. Detail dalam konsep berkarya. Ia ingin pementasan yang tanpa cela. Bahkan selalu memikirkan kejutan apa yang akan ia ciptakan besok malam. Harus mendatangkan kekaguman bagi penontonnya.

Ia tertidur pulas. Banjir datang dari arah Gunung Merapi tak ia rasakan. Ketika tubuhnya basah kuyup baru ia terbangun. Tapi ia lupa mengapa tubuhnya basah dan ia sudah tidak berada di bawah pohon randu lagi. Sangat terkejut ketika menyadari bahwa dirinya ada di tengah sungai. Ia berenang ke tepi.

Semakin bingung ketika tiba-tiba banyak orang berjalan di depan matanya. Mereka berjalan berbaris menuju secercah cahaya di ujung sungai. Hujan semakin deras dan langit tampak gelap. Pandangan mata orang-orang itu kosong. Ada tua, muda, bahkan anak-anak. Hampir semua memakai baju bagus-bagus. Ada yang memakai batik, ada yang memakai baju pesta, ada juga yang berpakaian seperti artis.

Seno mendekati salah seorang bapak berbaju batik. Ia seperti mengenal bapak tua berbaju batik tersebut. Tapi ia lupa siapa namanya.

“Pak, ada acara apa ini? Orang-orang berbaju rapi dan bagus menuju ke arah sana?”

“Mau nonton konser musik orkestra!” jawab Bapak berbaju batik dengan dingin tanpa menoleh kepada Seno.

Penasaran Seno. Ia berpikir orang-orang itu pasti akan menonton pementasannya. Tapi bukankah baru besok malam acaranya?

“Halo, Ibu, Anda tampak cantik sekali. Hendak ke mana?” tanya Seno agak malu-malu.

“Mau nonton konser orkestra!” jawab si Ibu manis dan genit. Sama. Ia menjawab tanpa menoleh ke arah Seno. Seno semakin bingung.

“Bu, tunggu…! Konsernya itu besok malam, Bu! Anda salah jadwal!” Sejenak ibu itu menoleh ke arah Seno tanpa kata. Sorot matanya misterius. Ia melanjutkan berjalan mengikuti arus orang-orang di depannya.

Seorang anak kecil membawa boneka kelinci mencolek celana panjangnya yang basah. Seno sangat mengenalnya. Ada cahaya rindu di bola matanya.

“Hai kamu, Lusia. Mengapa kamu ada di sini? Ayo, Ayah gendong. Ah, kamu sudah besar, Sayang. Ayah kangen!” Begitu Seno akan menggendong Lusia, tiba-tiba Lusia telah diserobot digendong oleh seseorang berbaju serba putih, gondrong, dan berjenggot panjang.

“Dia anak saya, Pak!”

“Lusia anakku.” Sambil menggendong Lusia, si bapak itu berlalu mengikuti barisan orang-orang ke arah cahaya. Kaki Seno terasa berat ketika hendak mengejarnya. Ia terduduk. Ia baru ingat Lusia telah meninggal dua tahun lalu akibat kanker leukemia yang dideritanya. Ah, ini pasti mimpi! Anakku datang dalam mimpi, pikir Seno dalam hati. Ia mencubit kulit tangannya. Masih terasa sakit.

Sayup-sayup ia mendengar suara sirene, makin lama makin dekat. Ia melihat rombongan orang berseragam tim SAR dengan sigap seperti hendak menolong seseorang yang sedang tenggelam di Sungai Krasak. Pemandangan yang dia lihat telah berubah. Tidak ada lagi orang-orang yang seperti ia lihat tadi. Bahkan sekarang banyak cahaya dari mana-mana. Hampir semua orang memegang senter. Bahkan sorot lampu dari mobil tim SAR dan ambulans tidak dimatikan. Seno mencari cahaya di ujung sungai. Telah lenyap.

Seno mendekati salah seorang tim SAR ingin memastikan apakah ada orang tenggelam di sungai. Namun mereka tak ada yang peduli. Tidak ada satu pun orang yang mau mendengarkan suara Seno. Seno jengkel, ia tidak digubris sama sekali. Akhirnya ia kelelahan dan terduduk di atas batu di pinggir sungai. Ia menunggu orang-orang di sekitarnya yang tengah sibuk. Ada suara-suara percakapan, namun tidak jelas terdengar karena suara-suara itu menyatu jadi satu. Ribut sekali! Ia hanya menangkap pembicaraan tim SAR ada seseorang tenggelam dan hanyut.

Tiba-tiba tim SAR bergerak menuju mobil. Orang-orang membubarkan diri pergi menjauhi TKP. Ada yang memberi komando.

“Ayo, kita pindah menyusuri sungai, korban hanyut terbawa arus!”

Seno ikut beranjak mengikuti mereka. Ia heran. Badannya terasa ringan ketika mengejar rombongan. Ia melompat dan naik di salah satu mobil bak polisi. Kira-kira sejauh lima kilometer, rombongan berhenti. Kasihan sekali orang yang hanyut itu, pikir Seno. Untung banyak orang yang tanggap menolong dan menyelamatkannnya. Tiba-tiba Seno ingat berdoa. Tanpa sadar ia mendoakan korban hanyut.

Kembali Seno menyaksikan tim SAR berhasil menyelamatkan korban. Seseorang mendorong dada korban berkali-kali untuk memberi pertolongan pertama. Kemudian memberi napas buatan. Korban pun memuntahkan air yang terhirup.

“Aman! Masih bernapas. Bawa ke ambulans!”

Seno heran. Ia mengedipkan mata berkali-kali. Ia melihat korban persis dengan dirinya. Seketika pandangan matanya gelap. Ketika siuman ia terkejut berada di rumah sakit dengan selang infus dan tranfusi darah di tubuhnya. ***

.

.

Mengenang seorang teman musisi.

4 Juli 2021, Manukan-Concat, Sleman

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia