SIAPA yang tak suka senja? Warna langit berbeda-beda dengan bias matahari yang semakin condong ke barat. Keindahan yang selalu dinikmati Marisa setiap pulang dari kantor tempatnya bekerja. Berjalan menuruni bukit ke arah barak pria, lalu duduk di salah satu terasnya. Menanti Andika, lelaki yang selama ini mengisi ruang di hatinya.
Marisa saat ini berada di tengah perkebunan sawit daerah Sanggau. Salah satu kabupaten yang berada di hulu Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Di kabupaten ini memang banyak masuk perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkebunan. Banyak tenaga kerja dari berbagai daerah yang terserap di sini. Dari kota asalnya Pontianak, menempuh sekitar lima jam perjalanan darat. Belum di hitung memasuki area kebun yang berada jauh dari jalan raya. Marisa memang terasing, tapi tidak jiwanya.
Kerja di kantor yang bergerak di bidang perkebunan membuat jumlah wanita langka. Kebanyakan yang bekerja di lapangan adalah para pria. Wanita mengisi kantor sebagai kerani, bagian administrasi. Salah satunya adalah Marisa. Ia bersama beberapa perempuan lainnya, tinggal dalam rumah yang diperuntukan bagi karyawan. Satu rumah biasanya diisi dua kamar dengan penghuni sebanyak empat orang. Mereka berasal dari suku dan daerah yang berbeda, tetapi merasa sebagai saudara. Selain persahabatan, banyak juga cinta yang tercipta. Tak heran, cinta lokasi berujung sampai ke pelaminan.
Hampir sejam, yang ditunggu belum jua datang. Mungkin saja di lapangan sedang banyak kerjaan. Marisa hendak pergi saat salah satu teman Andika, Rian, baru saja tiba.
“Andika belum pulang?” spontan Marisa bertanya.
“Bukannya tadi sudah duluan?”
Marisa menggeleng. Lalu menunjuk pintu barak yang tertutup.
“Mungkin ke rumah sepuluh,” ujar Rian sambil melepaskan sepatu bot yang dipakainya. Menyimpannya di dekat tangga, lalu membuka pintu barak yang sama dengan tempat tinggal Andika.
Hati Marisa mencelos. Apakah benar gosip yang didengarnya beberapa hari ini? Bahwa Andika sedang dekat dengan seorang perempuan berambut panjang. Karyawan yang belum lama ini bekerja di kantor yang sama dengannya. Pendatang baru, dengan pesona yang baru pula.
***
Andika terkejut saat akan keluar dari pintu baraknya. Malam baru saja datang, ia bermaksud hendak bertandang ke rumah karyawan perempuan. Arini, perempuan yang ia coba dekati. Perempuan yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Rambut panjangnya, senyum ramah dan manis suaranya sungguh menghibur hati. Mengundangnya untuk seutuhnya memiliki.
Namun, di depannya berdiri dengan angkuh Marisa. Perempuan yang sempat dianggapnya sebagai pacar. Tapi tidak dengan Marisa. Setidaknya, setelah Andika mendengar dengan telinganya sendiri, Marisa menolaknya di hadapan teman-temannya.
Marisa wanita yang pintar dan cantik. Kecerdasan membuatnya menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan kerani lainnya. Banyak atasan yang membutuhkan bantuannya. Tentu saja penampilannya menjadi lebih bergaya karena memiliki gaji di atas rata-rata.
Awalnya, Andika dengan penuh percaya diri mencoba mendekatinya. Ia yakin, wajahnya cukup tampan untuk sekadar menarik hati Marisa. Walaupun pekerja lapangan, tapi posisinya masih berada setingkat di atas teman-temannya.
Dan, ia benar. Marisa bersedia menerima uluran cintanya. Ia merasa berada di atas angin. Dengan jemawa berbangga hati mengabarkan pada dunia, sekarang ia sudah ada yang punya. Setidaknya demikian, sampai akhirnya ia mencuri dengar perbincangan Marisa bersama teman-teman Andika sesama pekerja lapangan, di suatu senja.
“Malam minggu jalan kemana Risa?” Rian bertanya ringan.
“Di rumah saja, Bang.”
“Ada yang ngapel, ya?” sepertinya suara Jaya.
“Ndak ada kok, sendiri saja.” Marisa menjawab yakin.
“Ah, masa? Bukannya pacaran sama Andika?” Entah suara siapa.
“Ndak kok, memang siapa yang bilang?” Seperti kaget suara Marisa menjawab.
“Siapalah mau dengan Risa ni Bang?” lagi, terdengar suara Marisa. “Maklumlah, Risa kan ndak cantik,” tuturnya seakan merendah.
“Benar ni masih kosong, jadi si Dika bukan pacar Risa? Bolehlah kita-kita daftar jadi pacarnya…” suara tawa memenuhi indera pendengaran. Andika urung masuk ke ruangan. Ia merasa butuh udara segar, untuk menenangkan dadanya yang tiba-tiba bergetar. Serta mendinginkan wajahnya yang terasa memerah, malu juga marah.
Ada yang patah di dalam dada. Andika yang mendengar semua pembicaraan merasa tubuhnya hilang daya. Sungguh, tak ia sangka Marisa selama ini tak pernah mengakui keberadaanya. Lalu apa artinya kebersamaan mereka selama ini? Mengungkapkan kata-kata cinta dan tertawa bahagia. Menikmati malam dengan camilan sambil bercanda riang. Sesekali jalan-jalan berdua sekadar menghibur diri dari letihnya pekerjaan.
Hanya ia kah yang jatuh cinta? Lalu mengapa Marisa tidak menolak saat ia menyentuh jemarinya? Membelai halus rambutnya? Apakah tak dianggapnya semua yang telah Andika lakukan? Menjadi orang pertama saat Marisa sakit perut karena kedatangan tamu bulananan. Membuatkan bubur saat demam datang bertandang. Menjadi pendengar setia saat mengalir cerita karena banyaknya beban kerja. Dikira ia manusia yang paling bahagia, nyatanya hanya seonggok nyawa yang tak dianggap ada.
“Abang mau ke mana?” Lamunan Andika di kejutkan suara Marisa.
Andika duduk di salah satu bangku panjang yang ada di teras barak. Di ujung barat, beberapa teman lain sedang bermain gitar. Ada yang menyanyi tanpa peduli dengan suara yang sumbang. Barak yang berada di hadapan mereka turut ceria. Ditempati beberapa keluarga dengan anak-anak yang tertawa gembira. Walau letaknya di tengah hutan, banyaknya karyawan dan buruh kerja membuat area kebun ini tetap terasa ramai.
Marisa ikut duduk. “Sudah lama Abang ndak datang ke rumah Risa. Padahal setiap malam Risa nunggu Abang,” ujarnya membuka pembicaraan. Abang mau ke rumah Arini kah?” cecar Marisa lagi.
Marisa meneliti penampilan Andika. Pakaiannya yang rapi mengisyaratkan bahwa ia akan keluar.
Andika memandangi wajah manis Marisa. Wajah yang dulu sangat ia puja. Entah mengapa, kini memandangnya hati menjadi nyeri. Membuatnya ingin segera menangkan diri, dengan menemui Arini.
Pelan, Andika mengangguk.
“Tega Abang, bukankah kita belum putus?” bisik Marisa. Suaranya seakan hilang, sesak menahan tangis yang serasa akan datang.
“Lalu kapan kita pacaran? Bukankah Risa tak mengakui Abang?’ tukas Andika cepat.
Marisa tersentak. Gelagapan ia hendak menjawab. Marisa tak pernah tahu pembicaraannya waktu itu sampai ke telinga Andika. Marisa mencoba membantah ketika didengarnya Andika melanjutkan bicara.
“Abang sudah jadian dengan Arini. Bukan mau Abang begini. Tapi Abang terlanjur malu, ucapan Risa membuat abang harus berpikir ulang,” jelas Andika panjang.
“Ada baiknya kita akhiri saja, cukup sampai di sini. Risa bisa cari pacar yang lebih baik dari Abang. Abang permisi.” Andika berlalu pergi dari pandangan Marisa.
Marisa sesegukan. Memang awalnya, ia hanya mencoba menjalin hubungan dengan Andika. Bila bosan nanti, ia akan memutuskan kasihnya. Tak disangkanya, ia malah merasa nyaman dan tenggelam. Namun, ia merasa malu mengakui perasaan, bahwa ia jatuh hati pada karyawan yang lebih rendah posisinya.
Marisa masih berharap, bisa mendapatkan hati salah satu atasannya. Yang lebih baik karirnya serta lebih mapan gajinya. Namun ternyata, kepergian Andika membuat luka menganga di hatinya. Luka yang diakibatkan oleh keteledorannya sendiri. Walau sakit, ia harus bisa menerima. Namun dalam hati, ia berjanji untuk berusaha, membuat Andika kembali.
***
Arini tersenyum menyambut kedatangan Andika. Lelaki yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Lelaki yang menunjukkan arah pertama kali saat ia tersesat mencari kantor baru tempatnya bekerja. Lelaki yang menawarkan segenap cinta untuknya.
Arini menerima. Bersedia membasuh luka yang tertoreh di hati Andika. Luka akibat seorang wanita yang hadir sebelum dirinya. Iya, Arini sudah tahu semua cerita. Andika sendiri yang memaparkan kepadanya. Betapa Andika kecewa, pada perempuan paling terkenal di kantor. Karena tak dianggap ada, setelah pengorbanan yang diberikannya.
“Kok Abang lama baru datang,” tanya Arini saat melihat Andika sampai.
“Tadi ada perlu sebentar.”
“Ayo makan, Adek sudah lapar.” Arini menyiapkan dua piring. Daun ubi dan jamur yang tadi dibawakan Andika dari lapangan telah berubah menjadi hidangan lezat. Masakan Arini memang mantap. Membuat Andika betah makan bersama. Semenjak mengikrarkan janji, Arini bersedia memasak sekaligus untuk Andika. Tentu belanja dapur sebagian besar dibiayai oleh Andika. Setidaknya, Andika tak repot lagi masak sendiri.
Sadar keduanya tak memiliki gaji yang besar, mereka mengolah makanan yang tersedia di alam. Daun ubi, pakis, jamur, kangkung air, genjer dan tumbuhan lain yang bisa dijadikan makanan. Untuk lauk, Andika memancing ikan di sungai atau kolam yang banyak bertebaran di area perkebunan. Keong mas dan gondang juga tak luput untuk diolah. Mereka sebisa mungkin menghemat pengeluaran, belajar menabung, untuk bekal masa depan.
Tak mau menunggu terlalu lama, Arini berencana mengambil cuti. Mengajak Andika pulang ke rumah orang-tuanya. Meminta restu untuk segera menghalalkan cinta. Kedua orang tua mereka setuju. Usia yang cukup ditambah adanya pekerjaan membuat keduanya tak mau menunda lama.
Pernah kecewa membuat Arini tak mau membuang-buang waktu. Jangan sampai ia terlambat lagi mendapatkan hati lelaki. Pernah dikhianati membuatnya ingin membuktikan kepada mantan. Ia juga bisa mendapat ganti secepatnya, dan lebih baik dari pria yang meninggalkannya.
Arini tak mau, kerja di tempat yang sama membuat Andika berubah pikiran nantinya. Andika terlanjur telah memilihnya, maka ia harus mengikat dengan cepat. Jangan sampai, yang ia dapat lepas lagi dari genggaman.
***
Pernikahan telah digelar. Arini dan Andika kembali ke kantor dengan bahagia. Marisa hanya menahan sesak di dada. Mencoba menutup mata dengan keadaan di sekitarnya. Mengabaikan pandangan kasian teman-teman yang terlanjur tahu air matanya. Berusaha menerima, bahwa Andika bukan jodohnya.
Belum lama bahagia menyapa, seketika Arini kalut dan bimbang. Andika tiba-tiba sakit parah dalam waktu yang lama. Berhenti bekerja dan pulang ke rumah orang tua. Mencoba pengobatan di kota. Walau dokter pun belum mengetahui, entah apa sakit yang diderita.
Takdir menunjukkan eksistensinya, selang tak begitu lama atas izin Tuhan Andika akhirnya berpulang. Tuhan ternyata lebih sayang kepadanya. Arini luka dan kecewa. Air mata seakan tak henti keluar dari sumbernya. Merasa apa yang dilakukannya selama ini, sia-sia belaka. Tak mampu ia, menahan Andika lebih lama bersamanya. Ternyata di depan Tuhan, ia kerdil adanya.
Kesedihan menyelimuti jiwa. Tak terkecuali pada Marisa. Terlanjur jatuh cinta membuatnya ikut mengurai air mata. Beberapa teman ikut menepuk bahunya ketika terdengar kabar duka di area perkebunan hari itu. Andika banyak menuai bela sungkawa dari teman-teman seperjuangan. Tanpa mereka sadari, Marisa tersenyum dalam tangisannya. Rindu yang ia tahan tak akan pernah sampai. Namun, dalam hati ia berbisik senang, “Kalau aku tak dapat, harusnya kau juga tidak.” ***